Back to my first home

Menulis buat saya seperti bercerita kepada seorang teman. Entah sejak kapan saya menyukai menulis. Dulu seringnya bercerita pnajang di email kepada teman-teman saya. Beberapa sahabat-sahabat saya pasti pernah menerima email panjang saya. Bahkan saya pun bingung kenapa saya bisa bercerita panjang dan detail. Hingga akhirnya seorang teman baik saya mengajarkan saya membuat blog untuk bisa menyalurkan bakat terpendam saya.

Di awal permulaan mempunyai blog, beberapa tulisan saya terkesan menyerang orang lain. Pendapat saya sering bertentangan dengan beberapa orang di sekitar saya. Bahkan ada beberapa orang yang merasa bahwa apa yang saya tulis itu adalah pengalaman mereka. Konflik pun mulai berkembang di lingkungan saya. Rasanya saat itu ingin menganti nama blog, menghapusnya dan bahkan tidak mau menulis lagi. Namun semua keinginan tersebut dilarang seorang kawan baik saya. Dia mengajarkan saya banyak hal, bahwa untuk berkembang seseorang membutuhkan tantangan dan rintangan. Rintangan bukan untuk dihindari namun untuk dihadapi.

Dari situ, saya belajar untuk menulis yang lebih ramah lagi. Menulis dengan sudut pandang berbeda, lebih suka menulis dengan topic yang ringan dan menghindari terjadi konflik. Dan yang pasti mencoba menempatkan diri sendiri yang berada dalam tulisan tersebut.

Beberapa kali tulisan mengenai jalan-jalan menghiasi blog ini. Namun rasanya sekarang sudah terlalu bosan jika harus menceritakan perjalanan travelling tanpa saya mendapatkan sesuatu yang bisa membuat mata hati saya terbuka akan kondisi di sekeliling saya.

Akhir-akhir ini saya jarang menulis di blog saya sendiri. Rumah ini berasa sunyi dari percakapan ataupun interaksi saya. Rasanya saya sudah meninggalkan rumah saya lama, hingga beberapa hari lalu seorang sahabat saya mengingatkan akan rumah ini. Rumah yang menjadi saksi saya berkembang, rumah tempat saya belajar banyak hal, rumah tempat saya menemukan teman-teman baru. Sekedar menyapanya pun saya jarang, bahkan mengunjungi atau berbagi cerita di sini.

Yup, akhir-akhir ini saya memang sedang membangun 2 rumah baru secara bersamaan. Dua rumah yang saya bangun dengan pelan-pelan dan berbeda karakternya dengan rumah ini. Rumah dimana saya bisa berinteraksi dengan orang-orang diluar sana yang lebih baik dari saya. Rumah yang memberikan saya pengalaman hidup lebih banyak.

Satu rumah sudah saya bangun dengan berbagai cerita. Hingga bulan Mei, cerita itu akan selalu hadir di website tersebut. Berbagai kalangan akan muncul tiap minggunya. Jujur saja ketika saya mengawali membuat rumah itu, ada rasa bahwa ini akan sulit. Mencari narasumber yang mau menjawab pertanyaan saya pun saya harus bersabar. 111 orang yang yang saya tawarkan hanya ada 25 yang sudah bersedia menjawab pertanyaan saya, 23 orang bersedia menjadi narsum saya namun pertanyaan saya belum dijawabnya, 63 orang lainnya tidak merespon sama sekali.

Itu baru kloter 1, akan ada 3 kloter lagi yang akan saya minta. Setiap kali membaca jawaban mereka, saya hanya bisa terdiam. Saya bisa tertawa ketika mereka menceritakan pengalaman mereka di hari itu. Kadang saya bisa terharu ketika saya membaca cerita pengalaman relawan-relawan itu berinteraksi dengan anak-anak kecil itu. Antara miris dan bangga saangat tipis bedanya.

Menceritakan pengalaman orang dan mencoba menjadi diri mereka, sangat sulit saya lakukan. Terkadang saya harus berkhayal bahwa saya berada di posisi mereka, bagaimana menceritakannya dengan bahasa sederhana sehingga orang lain bisa memahami situasi yang ada. Kritikan di tulisan tersebut pasti ada, beberapa saya rasakan itu membangun saya. Mengingatkan saya untuk menulis lebih santun, menulis dengan EYD dan menghindari adanya typho dalam tulisan saya.

Sedangkan rumah yang satunya, saya sendiri belum tau konsepnya seperti apa. Saya harus membangun dari nol. Mencoba memilah konsep mana yang pantas dan cocok untuk rumah kedua ini. Ga mau hanya sekedar copy paste beberapa rumah saya yang lain. Saya ingin menampilkan yang berbeda. Kalaupun harus menyamai dengan rumah yang lain, haruslah ada inovasi atau yang baru dalam rumah tersebut.

Dengan banyakanya tempat yang bisa saya singgahi, terkadang saya lupa akan rumah ini. Topic yang banyak di kepala saya seakan buntu jika saya menulis untuk rumah ini. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk tetap menulis.

One thought on “Back to my first home

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s