23 Episentrum

Semua orang punya caranya sendiri untuk memenangkan impiannya. Semua orang punya ceritanya sendiri dalam meraih impiannya” (Adenita, 23 Episentrum)

23 episentrumSore itu tiba-tiba mata ini tertuju sama 1 buah buku yang masih tersimpan rapi di samping tempat tidurku. Entah kenapa tiba-tiba tertarik untuk membuka plastiknya, hanya gara-gara melihat angka 23 di judul buku tersebut. “23 Episentrum” karya Adenita, kado manis dari seorang sahabat yang mati-matian membujukku untuk membacanya. Yang merekomendasikan buku tersebut untuk aku baca saat ini. Sudah 2 bulan buku itu ada di kamarku tanpa aku sentuh. Membuka plastik yang membungkusnya saja malas, apalagi membacanya. Namun entah kenapa, kemarin sore mata ini tertarik untuk membacanya.

Pilihan kata-kata Adenita dalam menulis di buku itu membuatku teringat pada tulisan seseorang, seakan-akan aku sangat familiar dengan cara menulisnya. Lembar demi lembar aku membacanya, semakin dalam aku terhanyut dengan alur ceritanya. Membawaku ke dunia yang penuh labirin dengan berbagai puzzle yang saling terhubung dan labirin-labirin yang membuat kita kadang sedih, tertawa dan terkejut dengan kejadian-kejadian yang diceritakan dalam buku tersebut.

Matari Anas, atau biasa dipanggil Tari, sosok yang sangat dekat denganku, namun aku ga ingat pernah mengenal tokoh utama ini di mana. Otak sebelah mulai mencerna kata-kata yang penuh inspirasi dan semangat sedangkan otak yang lain mencoba mengingat-ingat dimanakah pernah mengenal sosok Tari yang bersemanyam kuat dalam alam bawah sadarku. Ketika lembaran demi lembaran bercerita, aku mulai ingat bahwa aku mengenal Tari ketika seorang kawan memberiku sebuah buku berjudul “9 Matahari”. Yah, buku yang membuatku bisa kembali berusaha meraih impian itu. Buku yang menyadarkan aku bahwa perjuanganku tidak ada apa-apanya dengan perjuangan Tari kala itu. Buku yang hadir ketika kawanku tau aku membutuhkan jawaban-jawaban atas pertanyaanku.

Dua buku fiksi karya Adenita ini seolah-olah mampu menarikku lebih dalam, kesulitan Tari mencari uang untuk membayar utang-utangnya sebanyak 55 juta. Kesulitan Awan menyakinkan ibunya bahwa menjadi bankir bukanlah impiannya, serta kesulitan Prama menemukan kebahagian hatinya. Alur sederhana yang mampu membuatku bisa menebak bahwa nanti akhirnya Tari akan bersama Prama, utang Tari yang akan terbayar lunas, Awan yang mampu keluar dari tempat kerjanya, Prama yang mendapatkan seseorang yang dia inginkan tak mampu membuatku berhenti untuk tidak membacanya sampai selesai. Kekuatan kata-kata yang dipilih Adenita membuatku terlena dan tak mau berhenti membacanya walaupun ternyata aku sudah membacanya lebih dari 4 jam dan waktu itu sudah menunjukkan jam 1 dini hari.

Buku ini sedikitnya memberiku pelajaran atas semua pilihan yang sudah aku pilih. Menyadarkan aku akan tanggung jawab dari apa yang sudah aku dapatkan. Seperti sebuah kalimat yang tertulis di buku tersebut “Setiap manusia yang sudah berilmu dan sejahtera karena ilmunya, sebenarnya ia punya satu tanggung jawab untuk memerdekakan orang dari kebodohan dan membuatnya bergerak untuk lebih sejahtera”. Entah kenapa kalimat tersebut seakan terngiang-ngiang selalu di dalam otakku.  Menyadarkanku bahwa aku belum melakukan apapun dengan ilmu yang sudah aku miliki.

Terima kasih mas Adrian atas rekomendasi 2 buku dari Adenita ini. Buku ini memberiku banyak jawaban atas semua pertanyaan yang selalu aku lontarkan ketika kita diskusi sedikit serius. Mengingatkanku untuk meluruskan niat dalam memilih pekerjaan, mengajarkan aku untuk bisa menularkan energi besar  yang aku miliki, menghidupkan impian seseorang dan memberi dengan kualitas kemudian melupakan kebaikan kita terhadap seseorang.  Memilih mengejar ilmu akan membuat hati ini menjadi cahaya, sedangkan terlalu mengejar harta akan membuat hati seseorang menjadi keras, walau uang dapat membeli segalanya, namun uang tak mampu membeli kebahagiaan hati.

Bogor 20 November 2015

Sumber foto : http://www.kompasiana.com/starysarie/23-episentrum-perjalanan-mata-hari-dan-hati_5517194b813311c9669de18b

One thought on “23 Episentrum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s