Berharap Perubahan

Pagi ini tanpa sengaja aku menemukan link sebuah artikel di salah satu timeline temanku. Tergelitik dengan judulnya “A letter to my Indonesia”, kubuka lah artikel tersebut dan kubaca pelan-pelan. Kuakui tulisan itu dalam bahasa Inggris, dalam tatanan dan pilihan bahasanya terhitung sangat sederhana dan mudah dicerna. Ga berbelit-belit dan enak untuk diikuti alurnya.

Aku ga akan membahas cara ataupun gaya penulisan artikel itu. Yang aku sorotin lebih ke inti cerita tersebut. Apa yang tertulis dalam artikel tersebut adalah perasaan yang sama yang pernah aku rasakan dan sampai saat ini pun aku masih merasakan hal tersebut. Ketika selesai membaca artikel itu, ingatanku langsung melayang ke pembicaraanku dengan seorang teman baik beberapa minggu ini. Dan tanpa berfikir panjang aku share artikel tersebut ke dia. Maka muncullah diskusi serius sejenak diantara waktu kerja kita di ruang diskusi kami.

Rangkaian cerita di artikel tersebut, membuatku teringat kehidupan di benua biru itu, walau hanya sebentar aku merasakan kehidupan disana, namun waktu sesingkat itu mampu merubah karakterku. Mulai bisa hidup teratur, rapi, menghargai waktu, disiplin dsb. Terkadang aku berfikir, haruskah semua orang ke luar negeri agar bisa berubah cara pandangnya? Tapi kan banyak orang Indonesia yang travelling ke luar negeri, melihat kehidupan di sana namun sekembalinya ke negeri ini, mereka tidak juga berubah.

Ya, beberapa hal dasar di negeri ini memang tak dianggap alias dianggap remeh. Seperti buang sampah di negeri ini. Berapa banyak orang yang akan membuang sampah pada tempatnya? Atau berapa sering kita melihat orang membuang sampah lewat jendela mobil mewah yang dia naiki? Aku sering banget melihat orang membuang sampah sembarangan, bahkan ketika aku tegur pun, mereka malah ngomel-ngomel. Lha ini siapa yang salah.

Sebuah pengalaman ketika aku naik angkot di kota Bogor, seorang ibu didepan anak kecilnya berumur 5 tahun malah menyuruh anak tsb membuang sampah bekas minuman di dalam angkot. Spontan aku tegur ibu itu, kenapa ga disimpan saja di tas plastic dan kemudian nanti di buang ditempat sampah? Namun si ibu itu malah ngomel2 dan kemudian membuang sampahnya lewat jendela. Jleb, jujur kaget aku. Bagaimana bisa seorang ibu di depan anak sekecil itu malah ngajarin membuang sampah sembarangan? Bukankah anak kecil akan mengikuti setiap perilaku orang dewasa? Jadi jangan heran ketika ada sekumpulan anak-anak sekolahan membuang sampah sembarangan, karena itu hasil didikan orang tuanya.

Pernah dari kita terlambat datang disebuah acara atau acara yang kita datangi malah molor? Jujur aku sering ngalami, janjian ama teman tapi banyak yang tidak tepat waktu. Bahkan ada sebuah acara molor sampai 1 jam. Dan semua orang hanya berucap, maklum macet, Indonesia lah dll. Aku tertawa saja mendengarnya. Macet adalah sebuah alasan klasik yang ga bisa aku terima sampai saat ini. Kenapa? Simple ko, kapan di Bogor atau Jakarta tidak macet? Pengen ga macet ya janjian aja tengah malam. Dijamin jalanan sepi. Sudah tau macet ya mbok berangkatnya lebih awal.

Di sini, tidak banyak orang yang bisa menghitung waktu tempuh sebuah perjalanan. Come on, ga perlu ko pintar matematika untuk bisa menghitung waktu tempuh perjalanan. Bisa cek di waze atau google map, berapa waktu yang kita butuhkan untuk menuju tempat itu.

Pengalaman terakhir ini adalah janjian dengan seorang teman. Saat itu dia meminta waktuku sebentar untuk berbicara di telphon. Aku sanggupin karena memang saat itu kerjaanku lagi tidak terlalu banyak. Tapi apa, sampai sekarang saja orangnya tidak menelephonku balik. Tapi apakah orang tersebut meminta maaf karena tidak menepati janjinya? Ga, bahkan mungkin dia tidak merasa bahwa hal tersebut sangat menyebalkan buatku. Bukan masalah tidak ditelphon, tapi gara-gara dia sampai aku harus menunda pekerjaan yang seharusnya saat itu aku kerjain hanya gara-gara aku sudah buat kesepakatan untuk diskusi dengan orang ini. Ya aku mendahulukan ajakan diskusi dia karena dia yang pertama kali meminta waktuku, dan pekerjaan itu baru datang ke aku 10 menit setelah itu. Mendahulukan yang pertama kali buat kesepakatan tapi malah berujung tidak mengenakkan buatku.

Mungkin terlihat aneh ketika aku melakukan hal-hal kecil ini, complain dari berbagai orang selalu aku terima. Complain yang pernah aku dapatkan dari seorang kawan adalah “ Aku terburu-buru ketika harus janjian dengan kamu, karena pasti kamu sudah sampai di tempat janjian sebelum aku datang. Bisa ga sih telat dikit, ga perlu ontime gt” Haisssh diajak ontime ko ga mau.

Perubahan di negeri ini ga bisa dalam semalam, aku akui. Mari kita mulai dari diri sendiri untuk memulai perubahan dari hal yang paling kecil. Buanglah sampah pada tempatnya, datanglah tepat waktu ketika ada janji, tepati janji ketika sudah menjanjikan sesuatu, hargai waktu, taati peraturan hingga negeri ini bisa bangkit dari kondisi sekarang ini. Presiden baik jika tidak didukung dengan masyarakat yang mematuhi peraturan akan membuat negeri ini tidak berubah. Aku percaya, dari diri kita pasti ingin perubahan menuju yang baik, dan saya percaya masih ada orang Indonesia yang ingin melihat negeri ini menjadi salah satu negara maju bukan negara berkembang.

2 thoughts on “Berharap Perubahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s