Tersesat dalam Labirin

downloadSemalam hanya tidur sekitar 3 jam setelah baca buku 30 Paspor di Kelas Sang Professor Jilid 1, sebuah rekor terlama membaca buku setebal itu. Gara-garanya malam sebelumnya ada yang curhat di WA jadi dengan terpaksa aku menghentikan keasyikanku membaca buku itu. Ga mungkin kan aku membaca buku kemudian aku juga menanggapi curhatan teman. Pasti tidak focus dan yang akan terjadi otakku tidak akan bisa menanggkap makna dari isi buku itu. Walau hanya tidur sekitar 3 jam, namun pagi ini badanku tidak lah terasa lelah atau mengantuk. Buku itu mampu memberikan energi yang baru untuk melewati hari ini.

Buku itu seperti buku travelling lainnya, yang membedakan adalah pelaku dalam cerita tersebut. Yup pelakunya adalah mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Jakarta yang diberi tantangan sama dosennya untuk pergi ke sebuah negara seorang diri. Mana tidak boleh mendatangi negara yang sama dengan kawannya pula. Mereka harus mencari tiket sendiri, ga boleh menggunakan travel agent, membuat passport sendiri tanpa bantuan orang lain atau biro jasa, mencari tempat penginapan, mengitung budget yang diperlukan selama travelling dan sampai ke itinerary.

Dari semua proses itu mereka akhirnya tau bagaimana menggurus passport dan visa, mencari tiket murah, mencari hostel, mencari info sebanyak-banyaknya tentang negara yang akan mereka datangi, tersesat, melakukan kebodohan terstruktur dll. Membacanya pun bikin aku bisa ketawa. Bahasanya yang ringan dan terkadang memberiku informasi yang hanya akan didapat ketika kita berinteraksi dengan penduduk lokal, membuat kita seakan-akan ikut dalam perjalanan itu.

Buku ini mengingatkanku pada kejadian beberapa tahun yang lalu ketika pertama kali pergi ke Eropa. Bayangin aja, dulu ga tau bagaimana caranya naik tram dan beli dimana tiket tram itu. Hingga akhirnya minta bantuan orang yang kita temui untuk memberi tahu bagaimana beli tiket tram di mesin dan menggunakannya. Lebih bodohnya adalah mengira bahwa tiket itu hanya bisa dipakai sekali saja. Padahal selama belum 1 jam, tiket itu bisa dipakai kemanapun. Jadi bisa dong dibayangin betapa bodohnya aku dulu ketika tau bahwa setiap kali naik tram harus beli tiket hehehe.

Pengalaman lucu adalah ketika aku ketinggalan bus dari Grenoble ketika aku akan pergi ke Turin. Dan itu memaksaku untuk membeli tiket bus baru, cuma gara-gara aku telat bangun tidur saja. Tidak hanya itu saja, ditenggah jalan, diperbatasan Perancis dan Italy, kereta yang membawaku ke Turin mengalami kerusakkan. Dan tra lala, kami harus menunggu kereta penganti. Dan disinilah aku berkenalan dengan seorang laki-laki yang akan pergi ke Turin juga. Efek dari kerusakan kereta itu adalah membuatku sampai Turin tenggah malam. Ditambah lagi aku lupa mengaktifkan fasilitas  bebas roaming di ponselku sebelum berangkat. Yang terjadi aku tidak bisa menghubungi mbak Dewi ketika sampai di Turin. Masalah bertubi-tubi yang terjadi padaku hari itu, membuatku harus cepat bertindak untuk mengambil keputusan kalau tidak mau bermalam di stasiun Turin. Mencari wifi dan telphon umum di stasiun itu sangat susah. Akhirnya aku mendekati teman seperjalananku yang baru aku kenal. Aku ceritakan kalau aku ga bisa menghubungi temanku di Turin untuk menjemputku malam ini, dan menanyakan padanya apakah aku bisa pinjam hpnya untuk mengirimkan sms ke temanku. Jujur ini belum pernah aku lakukan sebelumnya, meminta bantuan orang asing yang baru aku kenal. Entahlah darimana keberanian tersebut. Bersyukur kenalanku mau membantuku, dia memberikan hpnya untuk aku gunakan mengirim sms dan tlp mbak Dewi kalau aku sudah sampai di stasiun dan saat ini menunggu dia. Selama aku menunggu mbak Dewi, teman yang baru aku kenal itu menemaniku sambil ngobrol.  Beberapa menit kemudian mbak Dewi menjemputku, dan akupun berpisah dengan kenalanku tersebut.

Terakhir aku menyesatkan diri di Jepang. Sok gaya bisa melewati perjalanan itu dengan panduan dari bos dan teman yang sedang kuliah disana, aku beranikan pergi ke Kyoto sendirian dari Bandara Kansai, Osaka. Petunjuk jalan sudah diprint dan dibaca berkali-kali untuk menemukan kereta yang akan membawaku ke Kyoto. Ternyata tidak sesimple yang diceritakan bos dan apa yang aku baca di internet. Huruf-huruf cacing yang asing buatku, bahasa yang tak kupahami membuatku yang jetlag saat itu sempat tidak bisa konsentrasi. Melewati bagian Imigrasi dengan cerita yang sangat aneh, ketika tiba-tiba tidak menemukan HP di tas backpackku. Buru-buru ingin balik ke toilet untuk mengecheknya, dan harus melewati seorang petugas. Menjelaskan dengan bahasa Inggris pun harus berkali-kali, tidak mampu membuat petugas tersebut paham. Akhirnya bahasa Tarzan pun keluar, dan syukurlah diijinkan untuk mengechek keberadaan HP ku di toilet. Ternyata di toilet pun Hpku ga ada, schok dan kaget. Bagaimana aku bisa menghubungi temanku setibanya di Kyoto nanti. Panic tentu saja. Akhirnya bongkar lagi tas backpack. Dan syukurlah aku menemukannya.

Tidak hanya sampai disitu, ketika mencari tempat untuk membeli tiket kereta yang akan membawaku ke Kyoto pun susahnya minta ampun. Hingga berkali-kali aku bertanya dan selalu dijawab dengan bahasa Jepang. Makin kesallah aku, entah kenapa tiba-tiba aku mengerutu dengan bahasa Perancis. Padahal pakai bahasa Indonesia juga ga bakalan ada yang tau. Entahlah, alam bawah sadarku terkadang berperilaku aneh. Namun keanehan itu membuatku bertemu dengan turis dari Perancis dan kami pun bersama-sama mencari tempat penjualan tiket kereta tersebut. Ketika sampai di tempat penjualan tiket kereta, dan kami menggunakan bahasa Inggris, yang ada kami dilayani dengan menunjukkan sebuah kertas yang sudah ada tulisan mau kemana, berapa tiket dan pilihan jam. yang melayani kami menggunakan bahasa Jepang. Kami pun mejawabnya dengan menggunakan bahasa tubuh.

Banyak hal yang aku dapatkan dari perjalanan menyesatkan diri ini selain bersenang-senang, kemampuanku untuk mengambil keputusan yang cepat sangat terlatih, mempertajam instingku dan analisaku terhadap keadaan sekitar, menerima perbedaan terhadap budaya dan kebiasaan orang lain, mandiri dan menghargai waktu. Dan masih banyak lagi pengalaman yang sangat berarti buatku, yang tak mungkin aku dapatkan di bangku sekolah. Mungkin terasa aneh ketika mendengarkan hobiku yang suka menyesatkan diri sendiri dibandingkan travelling bersama teman-teman atau ikut agen perjalanan. Memang biaya akan mahal ketika kita pergi sendiri, namun pengalaman yang didapat sangatlah banyak.

Begitu juga yang diharapkan Bapak Renaldi di kelasnya. Perjalanan seorang diri dengan menyesatkan dirinya sendiri akan lebih bermakna dan memberikan pengalaman yang luar biasa dan tak akan terlupakan, membentuk karakter yang tangguh dan siap menghadapi apapun keadaan dan kondisi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s