Sepatu Kananku

Hampir dipastikan semua orang pasti mempunyai sepatu. Ada yang memiliki lebih dari 1 pasang, atau bahkan ada yang hanya mempunyai 1 pasang sepatu dan itupun kadang harus dipakai bergantian dengan saudaranya.Ehm aku sendiri mempunyai beberapa pasang sepatu, ada sepatu olahraga, sepatu resmi dan sepatu santai. Warnanya tentu bermacam-macam, tergantung seleraku saat membelinya. Membeli? Ehm itu artinya aku akan dihadapkan pada berbagai jenis sepatu, ukuran, bentuk, harga dan warna. Lalu aku memilih sepatu-sepatu itu berdasarkan apa? Warna kesukaan, bentuk atau mood saat itu? Terkadang memilih sepatu susah-susah gampang buatku. Kalau ada model yang aku sukai, namun ukuran yang pas dengan kakiku ga ada. Atau ada sepatu yang ukurannya sesuai dengan kakiku tapi aku tidak menyukai modelnya ataupun warnanya. Hal seperti ini yang bisa bikin aku kesel. Karena membeli sepatu bagaikan memilih teman hidup yang menemani setiap langkahku. Susah-susah gampang tapi ketika menemukan yang pas dan klik membuat hati ini lega dan senang. Seperti ketika aku menemukan sahabat dalam perjalanan hidupku.

Tak pernah kuduga sebelumnya, perjalanan hidupku ke Eropa beberapa tahun lalu mampu mempertemukan aku dengan seorang sahabat yang setia menemani langkahku sampai saat ini. Menerima semua kekuranganku, menyemangatiku ketika sedang jatuh, menemaniku dalam setiap perjalanan hidupku, menegurkan ketika aku salah. Jika diibaratkan dengan sepatu, sahabatku bagaikan sepatu kanan dan aku bagaikan sepatu kiri. Sahabatku selalu mengajakku berlari ke tempat-tempat yang baru, yang penuh dengan tantangan. Menarikku ketika aku lelah untuk tetap melangkah walaupun terseok-seok dan pantang mengibarkan bendera putih sampai ajal menjemput. Banyak sekali pengalaman hidup yang dia ceritakan saat itu. Suatu ketika sahabatku secara tiba-tiba menghindariku dan menghilang dari kehidupanku, beberapa bulan sebelum aku berangkat ke Eropa. Tiada kabar di YM, email ataupun FB. Ada rasa kehilangan dari kaki ini tanpa sepatu kananku kala itu. Dan secara tiba-tiba pula, seseorang mengembalikan sepatu kananku, dan dia kembali lagi menemaniku dalam perjalanan ke Eropa. Berjalan beriringan dengan tujuan yang sama, mencari ilmu di negeri orang. Kini kami sudah kembali ke negeri ini, dengan kesibukan dan kehidupan masing-masing, namun langkah kaki kami masih berjalan beriringan. Dia tetap jadi sepatu kananku. Yang selalu melangkah lebih dulu daripada aku, yang memberitahukan jalan di depan sana akan seperti apa sehingga kami bisa berpindah tempat menuju tempat baru dan tantangan baru. Kita bisa mempunyai banyak teman, namun sahabat hanya orang-orang terpilih saja yang dapat masuk dalam kehidupan kita. Seorang sahabat yang menemani hidup kita, bagaikan sepasang sepatu yang melangkah dengan bergantian, tanpa merasa salah satu diantara kita derajatnya lebih baik daripada yang lain. Kehilangan sahabat itu bagaikan kehilangan salah satu bagian dari sepatu kita. Tidak akan ada artinya tanpa kehadirannya dalam langkah ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s