Museum Penerangan

Museum Penerangan

Museum Penerangan terletak di komplek Taman Mini Indonesia Indah, tepatnya berada di belakang anjungan daerah Jambi. Masuk ke dalam museum ini tidak dikenakan biaya, hanya menuliskan nama kita di buku tamu saja. Sayangnya pada saat ke sana, museum ini sedang direnovasi sehingga beberapa tata letak barang-barang tidak berada pada tempat yang seharusnya.

DSC_0252Ketika memasuki halaman museum ini, aku disambut dengan sebuah tugu yang menyangga lambang penerangan “Api Nan Tak Kunjung Padam” yang dikelilingi oleh lima patung juru penerang serta air mancur, pertemuan air dari atas tugu dengan air yang memancar dari bawah melambangkan hubungan timbal balik antara pemerintah, masyarakat dan media massa. Namun sayang, ketika aku ke sana air mancurnya tidak ada. Entah karena sedang direnovasi atau memang sengaja dimatikan.

Bangunan museum ini terdiri dari tiga lantai yang berbentuk silinder, melambangkan kentongan sebagai unsur penerangan tradisional dan menyangga menara antena sebagai unsur modern.

DSC_0206Memasuki lantai pertama, aku sempat binggung harus memulai dari mana, akhirnya aku berjalan ke kanan pintu masuk. Disitu aku temui beberapa wayang suluh dan beberapa koran tempu dulu.

DSC_0208Selain koran tempu dulu terdapat juga 17 patung setengah badan dari para tokoh informasi dan komunikasi. Salah satunya patung setengah badan yang membuatku terkesan adalah patung dari DR. Abdul Rivai. Beliau adalah mahasiswa bumiputera pertama yang bisa belajar ilmu kedokteran di negeri Belanda dan mahasiswa Indonesia pertama yang diterima menjadi calon Doktor (S3) di Eropa. 

DSC_0225Selain koleksi patung setenggah badan, ada juga 4 diorama kecil yang menggambarkan operasional penerangan di bidang pependes, pencerdasan kehidupan bangsa, penanggulangan bencana alam, dan kelompencapir.

DSC_0222

Terdapat juga mesin ketik huruf Jawa yang mulai dipakai sejak tahun 1917 oleh Keraton Surakarta. Mesin ketik ini digunakan untuk mengetik surat-menyurat, surat-surat Keputusan (Kekancingan Dalem), pengumuman resmi mengenai Titah ingkang Sinuhun untuk masyarakat luas dan berbagai laporan proses pengadilan. Sedangkan pada masa kemerdekaan digunakan untuk mengetik pengumuman-pengumuman pemerintah dengan huruf Jawa yang disebarluaskan untuk daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur sampai pada tahun 1960.

DSC_0218Pada bagian ini, aku menemukan banyak sekali lempengan-lempengan besi dimana dibagian sampingnya terdapat huruf-huruf yang tertata membentuk suatu kalimat. kemungkinan alat ini digunakan untuk mencetak kalimat-kalimat yang tertulis dalam sebuah buku ataupun naskah.

DSC_0217Disamping ini adalah meja Opmak, meja ini digunakan untuk menyusun tata letak suatu halaman naskah seperti pengumuman-pengumuman mengenai Proklamasi Kemerdekaan dan Lembaran Negara Republik Indonesia. Daun meja Opmak bentuknya dibuat miring agar mudah dipakai. Meja Opmak ini mulai digunakan oleh Percetakan Negara Republik Indonesia pada tahun 1945.

DSC_0227Terdapat juga sebuah motor 49 Cyrus Sundapp yang telah berjasa memperlancar tugas “Antara” di bawah pimpinan Bapak Adam Malik.

Masih di lantai 1 terdapat juga koleksi kamera yang digunakan untuk merekam, kamera foto jaman dulu, televisi umum pertama, foto-foto bintang film jaman dahulu (ada fotonya warkop DKI juga lho), piringan hitam lokananta yang digunakan untuk mendukung penyelenggaraan acara-acara siaran RRI dan dipasarkan masyarakat.

DSC_0242 DSC_0239 DSC_0237 DSC_0235 DSC_0231 DSC_0228

DSC_0245Tiba-tiba aku menemukan sebuah komputer yang sangat familiar denganku. Ya komputer seperti inilah untuk pertama kalinya aku mengenal yang namanya komputer. Sampai saat ini, entah sudah generasi keberapa aku mengenal komputer. Mulai dari laptop, smartphone sampai tablet sudah aku miliki. Namun komputer ini membuatku tersenyum simpul seakan aku kembali ke masa lalu dimana aku kembali mengingat seseorang disana yang mengajariku komputer dulu. Ya, kembali aku ingat jasa-jasanya dalam hidupku ini.

Setelah puas berjalan-jalan di lantai 1, kulangkahkan kaki ini ke lantai 2. Menurut informasi yang aku dapat, lantai 2 berisi tentang  relief sepanjang 150 meter yang menggambarkan sejarah penerangan Indonesia selama lima periode, peran penerangan dalam membangun kesatuan dan persatuan bangsa, dan penyampaian informasi melalui media cetak dan elektronik baik tradisional maupun modern. Di sini terdapat juga tujuh diorama yang menggambarkan kegiatan penerangan dalam membangkitkan nasionalisme, menyatukan bangsa, dan mengisi kemerdekaan dengan pembangunan, termasuk percetakan koran Retno Dhoemilah. Di samping itu terdapat lukisan wajah Dr. Wahidin Soedirohusodo karya Sumidjo, berukuran 8 m x 7 m, yang merupakan lukisan terbesar di Indonesia dan memperoleh sertifikat MURI. Namun sayangnya aku tidak menemukan lukisan tersebut.

DSC_0248Namun sayang, yang  kutemukan hanya beberapa relief saja, sisanya tertutupi oleh papan-papan. Di tengah-tengah ruangan tidak ada apapun dan terasa kosong. Namun saat kita melihat ke atas, kita dapat melihat sebuah pemandangan yang unik di langit-langit. Seperti yang dapat kalian lihat di gambar disamping ini.

DSC_0246Selain itu ada sederet foto-foto orang-orang yang pernah menjadi menteri penerangan, mulai dari awal negara ini berdiri sampai Bpk Tifatul Sembiring. Disini pula aku baru tersadar ada beberapa nama tokoh yang aku kenal ternyata pernah menjabat sebagai menteri Penerangan. Namun yang paling terkenal tentu saja Bapak Harmoko.

Di lantai tiga terdapat koleksi foto-foto, studio mini PFN, studio mini RRI, studio mini TVRI, dan display foto transparan.

Itulah sekelumit perjalananku mengunjungi Museum Penerangan. Aku sangat terkesan dengan museum ini sehingga tidak sadar aku menghabiskan waktu hampir 2 jam di museum ini. Walaupun penataannya yang sedikit tidak teratur, dikarenakan sedang direnovasi, namun sudah mengurangi rasa penasaranku terhadap museum ini.

Cibinong, 15 April 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s