KASIH IBU

Seperti biasa, setiap Sabtu sore ataupun Minggu sore, tak pernah aku lewatkan sebuah acara memasak di salah satu stasiun televisi. Aku mengenal acara ini baru tahun ini, tahun lalu aku tak pernah menontonnya. Kenapa? Karena tahun lalu aku masih di Perancis.

Acara ini memang acara masak memasak, namun tak terlalu resmi seperti acara masak memasak yang lainnya. Hanya sebuah acara reality show lomba memasak untuk menjadi seorang master chef. Dari acara ini yang bisa aku ambil adalah trik memasak dan terkadang menu masakan yang baru. Ditambah jurinya ada yang keren, jadi seneng aja ngelihatnya.

Yup, seorang juri bernama chef Juna telah membuatku tertarik untuk melihatnya. Kesan garang dan terkadang galak, menambah rasa keingintahuanku. Kan biasanya seorang chef itu ga pernah punya tato, bersih dan rapi. Lah ini chef Juna malah kebalikannya. Ga rapi, galak, dan banyak tato. Bukan hanya itu saja, tadi sore (acara hari minggu 29 Juli 2012), stylenya chef Juna mirip banget dengan om ku yang lagi di Perancis. Gimana ga mirip coba, rambut klimis belah pinggir plus galak, dijamin 100% mirip deh. Ternyata sikap garang dan galak chef Juna itu akibat didikan yang keras dan kerja kerasnya sehingga menjadi chef. Buat chef Juna, apa yang dia dapatkan saat ini hasil dari kerja kerasnya belajar memasak di Amerika.

Selain chef Juna, aku menyukai stylenya chef Marinka. Dandanannya selalu cantik oi. Bajunya juga selalu cocok dibadannya. Sepertinya dipakaiin apa aja, pasti bagus deh.

Ehm, aku tidak ingin mengupas sosok chef Juna ataupun chef Marinka, yang ingin aku kupas adalah pelajarannya tadi sore. Tadi itu di pressure test, ada seorang ibu yang biasanya bisa memasak dengan baik tapi hari ini ternyata dia tidak bisa melewati tantangan di galeri master chef Indonesia. Aku tak menduga ibu Adel tidak bisa melewati tantangan tersebut. Namun ketika dia bercerita kenapa dia tidak bisa fokus dalam memasak, akhirnya akupun bisa memahaminya.

Ya ibu Adel bercerita bahwa dikesempatan lain dimana dia berkomunikasi dengan anaknya yang bernama Rayhan, sang anak meminta agar ibu Adel untuk pulang dan kembali di sisinya. Itu berarti ibu Adel harus melepaskan impiannya menjadi master chef. Gara-gara permintaan sang anak itulah, bu Adel tidak dapat menyelesaikan tantangan di galeri master chef.

Masakan ibu Adel kali ini berantakan serta tidak ada inovasinya. Hati yang bimbang, tidak ada mood untuk memasak dan akhirnya tidak bisa fokus dalam memasak, adalah fakto-faktor yang menyebabkan ibu Adel mengundurkan diri dari Galeri master chef Indonesia.

Sebuah permintaan sederhana dari seorang anak ternyata mampu mengalahkan mimpi dan keinginan seorang ibu serta mampu membuyarkan fokus sang ibu. Sang ibu rela mengundurkan diri hanya karena ingin memenuhi permintaan anaknya agar sang ibu berada disisi anaknya setiap saat.

Tertegun aku melihat adegan itu, pengorbanan yang besar dari seorang ibu untuk anaknya. Bener juga kata pepatah, “Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah” (kalau ga salah sih hehehe).

Ketika aku bandingkan, terkadang kita sebagai anak sering sekali menolak bahkan menghindari permintaan sang ibu. Kalau bisa malah berargumen sehingga kita tidak harus memenuhi permintaan ibu kita walaupun hanya satu kali.  Namun ketika kita meminta sesuatu ke ibu kita, dengan ikhlas seorang ibu akan memenuhi permintaan kita, walaupun ibu kita harus mengubur mimpi-mimpinya.

Ingatanku kembali ke permintaan orang tuaku ketika aku mau pergi dari rumahnya. Beliau hanya memintaku untuk tetap menghubungi beliau seminggu sekali, sekedar telphon ataupun sms menceritakan apa yang sudah terjadi. Atau ketika aku ingin lanjut sekolah, beliau memintaku untuk pulang setiap tahunnya. Sebenarnya permintaan itu sederhana sekali, namun terkadang aku melupakannya. Bahkan sering kali melalaikannya. Tak pernah sedikitpun beliau marah jika aku tidak melakukannya. Namun adegan di master chef tadi sore mengingatkanku, bahwa seorang ibu itu hanya ingin anaknya bahagia, walaupun dia harus merelakan keinginannya sendiri. Wah kesannya kita ini egois ya, kita sering meminta perhatian ibu kita, namun kita jarang memperhatikan keinginan ibu kita.

Acara master chef Indonesia hari ini memberikanku pelajaran bahwa “Permintaan seorang anak mampu mengalahkan keinginan dan mimpi-mimpi Ibunya, namun permintaan seorang ibu terkadang tak mampu mengalahkan keinginan dan mimpi anaknya”

Terimakasih untuk semua bunda-bunda di dunia ini, atas semua perngobananmu untuk membuat kami bahagia.

Bogor, 29 Juli 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s