Orang-orang dengan berwatak baik disekelilingku

Hari ini kembali aku membaca tulisannya mas Andi di blognya, sebuah kalimat indah mulai aku temukan di tulisan tersebut. Kalimat indah yang sampai saat ini selalu terngiang dalam ingatanku bahkan tersimpan rapi dalam lubuk hati ini.  Kalimat itu adalah

“Orang-orang berwatak baik, konon, berani melakukan lebih dari yang seharusnya dilakukannya, sepanjang kelebihan itu adalah kebaikan. They will not only satisfy, but also surprise you sometimes.”

Kalimat tersebut mengingatkanku kepada seseorang yang semalam sempat berbincang-bincang di BBM. Jarak yang memisahkan kami dan waktu yang berbeda serta kesempatan yang sangat langka untuk berdiskusi, namun tak bisa membuat kami hilang kontak. Yah semalam temanku itu berkata :

“Aku baru sadar akhir-akhir ini, kalo masih kudu banyak belajar. Dikelilingi orang-orang hebat yang memberikan “contoh”. Jadi berasa “kecil”, tapi yah, lakukan apa yang bisa kulakukan saja”.

Kulihat kembali orang-orang di sekelilingku, mereka bukan hanya membanggakan namun ternyata banyak sekali memberikan kejutan buatku.

Mas Andi, orang yang belum pernah aku temui di dunia nyata. Berkenalan dengannya di blog yang telah memotivasiku untuk mendaftar beasiswa. Mengikuti cerita-cerita indah yang tertulis disana, membuatku semakin mengagumi beliau secara sembunyi-sembunyi. Suka sekali dengan tulisan-tulisan beliau di blognya, dan salah satu panutan buatku untuk bisa membuat tulisan yang indah.

Suatu ketika, disaat aku bercerita kepada salah satu temanku, ternyata temanku pernah satu kamar dengan mas Andi saat temanku mengikuti OKTI 2009. Dia pun bercerita tentang mas Andi, ternyata apa yang aku bayangkan adalah sama dengan apa yang temanku ceritakan. Kesederhanaan mas Andi tidak hanya terlihat dalam tulisannya namun dalam sikapnya.

Perkenalanku dengan mas Andi berlanjut ketika menggurusi OKTI 2011. Kali ini aku menghubungi mas Andi bukan berkapasitas sebagai seorang pencari beasiswa. Namun sebagai panitia OKTI 2011 untuk meminta mas Andi membuat testimoni dan kesedian menjadi tamu di acara yang disiarkan Radio PPI dalam rangka acara OKTI 2011. Disini insensitas interaksi antara kami semakin banyak. Entah itu hanya sekedar komen atau promosi acara OKTI 2011 sendiri. Dari hanya sekedar email ataupun berbagi komentar membuatku sedikit memahami karakter mas Andi. Ya pantas saja lah beliau menang OKTI 2009, terlihat sekali dengan tulisannya ko.

Tiba-tiba saja aku kembali dikejutkan dengan berita bahwa beliau menang kembali dalam lomba menulis. Wuih membanggakan sekali keberhasilannya. Akhirnya aku membaca tulisan beliau. Seperti apa sih sebenarnya tulisan yang bisa dianggap juara itu. Kubaca pelan-pelan tulisan itu. Ide sederhana namun cara beliau menulis itu disertai data-data yang aktual, alur yang tertata rapi dan pemilihan bahasa yang baik. Wah hebat, pikirku saat itu.

Ketika aku membaca tulisan mas Andi tentang perjalanan tulisan tersebut sampai menang, membuatku berfikir sepuluh kali lipat. Apa yang aku rasakan ko sama dengan yang mas Andi rasakan. Namun bedanya, mas Andi menyerahkan orang lain untuk menilai tulisannya. Sedangkan aku, malah menghakimi tulisanku yang jelek. Hingga akhirnya tulisan-tulisanku tak ada satupun yang aku publish di blogku.

Efek kekalahan dalam berbagai lomba menulis membuatku kehilangan semangat untuk menulis, namun tulisan mas Andi menyadarkanku bahwa sebagai penulis tugas kita hanya menulis. Biarkan tulisan itu dinilai orang lain.

Selain mas Andi, ada seseorang yang aku kagumi keberhasilannya. Dialah teh Dinie. Sudah lama tidak menyapanya di dunia maya, tiba-tiba saja sebuah berita mengejutkanku di pagi hari. Tulisan teteh berhasil dipublish disebuah koran di Australia. Wow, membuatku semakin bangga dan kagum terhadapnya. Rasanya baru kali ini aku membaca tulisan teteh, eh langsung di muat di koran luar negeri.

Tak hanya kedua orang tsb yang selalu membuatku terkaget-kaget dengan berita yang selalu aku dengar. Masih ada seorang yang bersedia mendengarkan keluh kesahku di tenggah malam. Kalau bagi sebagian orang, hal tersebut menganggu. Namun bagi orang ini, sepertinya ga. Kenapa ga? Dia ga marah setiap aku gangguin. Bukannya ga marah namun belum marah kali ya hehehe.

Dialah om Riza, salah satu orang hebat disekelilingku. Orang pertama yang menanyakan kemalasanku menulis di blog. Orang yang menyadari bahwa sudah lama aku tidak menulis. Orang yang mengingatkanku untuk tetap menulis. Lalu apa hebatnya om Riza dengan mas Andi atau teh Dinie?

Ehm banyak kehebatannya. Setidaknya itu dimataku. Buatku kehebatan seseorang bukan terletak dari keberhasilannya. Namun lebih dari apa yang dia kerjakan. Bayangkan saja, aku orang pertama yang membaca tulisannya yang dimuat di buku untuk mahasiswa baru UGM. Jujur tersanjung saat aku diberi kesempatan membaca tulisannya tersebut. Gila, idenya menarik dan ditata rapi alurnya serta kalimat-kalimatnya tidak berisikan perintah-perintah. Namun lebih kearah nasehat.

Kenapa aku sebut dia orang hebat? Om Riza itu salah satu orang yang mengerti bagaimana menyemangati orang tanpa harus menggurui. Kalau dilihat dari prestasinya, wah banyak. Tanya aja IPK-nya, tanya saja sekarang sekolah dimana atau tanya saja bagaimana dia bisa sampai saat ini. Pasti akan banyak sekali cerita-cerita  tentang keberhasilannya yang dapat kamu dengarkan.

Orang-orang hebat itu pasti mempunyai kekurangan, ya wajarlah mereka mempunyai kekurangan. Namun pantaskah kita menghakimi dan menjelek-jelekkan? Buatku biarlah kekurangan mereka aku ketaui, namun kebaikan dari mereka itu yang wajib aku tiru.

Menurutku mereka ini salah satu orang-orang yang mempunyai watak yang baik, pantas saja mereka akan selalu membuatku terkejut dengan keberhasilan-keberhasilan mereka.

Namun apakah hanya mereka orang-orang yang berwatak baik disekelilingku, lalu yang lain tidak? Ga juga sih, namun bagiku mereka merupakan orang-orang yang hebat dan berwatak baik. Orang-orang yang mengajarkanku untuk berlaku baik, rendah hati dan suka menolong. Keberhasilan mereka membuatku bersemangat untuk bisa mengejar ketertinggalanku. Sedangkan teman-teman yang lain mengisi ruang kehidupanku dengan cara yang berbeda. Ada yang mengajarkanku bergaya hidup mewah, ada yang mengajarkanku akan kehidupan sosial, ada yang mengajarkanku bagaimana bersosialisasi, ada yang mengajarkanku akan arti kehidupan dll.

Senang rasanya aku bisa mengenal kalian, tetaplah menjadi bintang yang akan memberi cahaya dalam kehidupan orang lain disekeliling kalian.

Ini ceritaku tentang beberapa orang yang berwatak baik disekelilingku, bagaimana dengan kalian? siapakah orang-orang yang berwatak baik disekeliling kalian? Sudahkah kalian menyapanya hari ini

One thought on “Orang-orang dengan berwatak baik disekelilingku

  1. Permasalahan-permasalahan tentang dualitas minoritas-mayoritas dalam konteks yang bermacam ragam, selalu saja muncul, tidak pernah habis dibahas, diwacanakan, dan didaur ulang sebagai sebuah issue. Hampir di seluruh aspek kehidupan terdapat kesan-kesan tingkatan, pengkastaan, pembedaan status sebagai cara identifikasi sosial yang semakin memperkuat alasan terjadinya pengkubu-kubuan minoritas dan mayoritas. Yang terlalu sering terjadi kemudian adalah munculnya apresiasi yang tidak berimbang dari khalayak terhadap kalangan minoritas. Karena konon katanya wacana mayoritas di sampaikan oleh kalangan mayoritas dengan media mayor dan alat dan gaya papar ala mayoritas yang tentusaja supreme. Begitu juga sebaliknya, sehingga kalangan minoritas hampir tidak punya kesempatan untuk menyampaikan atau tersampaikan wacana aspirasinya, dan akan selalu menjadi minoritas. Walaupun kecenderungan ini kemudian bertendensi negatif, namun menjadi menarik, karena akan selalu melibatkan setidaknya dua kutub besar yang terbandingkan, dan kemudian tumbukan-tumbukan energi yang ketika terekam, terolah lalu terpresentasikan dengan cara pandang objektif, berimbang dan kreatif akan menghasilkan ekstraksi yang berenergi positif. Dengan realitas-absurditas dan irisan-irisan tipis paradoksial pada konteks mayoritas-minoritas ini, lantas apa yang coba dicapai dalam pameran ini? bukan apa-apa kecuali menyampaikan rekaman fotografis atas issue-issue minoritas (yang tidak selalu dimaknai sebagai sebuah permasalahan yang ‘berat’ dan bertendensi negatif) dengan cara pandang yang objektif dan berimbang oleh fotografer-fotografer peserta pameran ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s