Pesan Bunda Kala itu

Saat nonton acara Kick Andy kemarin malam , aku kembali ingat pesan bundaku dulu saat awal aku mau bekerja. Beliau selalu mengingatkanku untuk tetap bekerja walaupun kelak aku menikah. Awalnya sih aku cuek aja, pikirku saat itu ya lihat nanti deh. Padahal kalau ditanya dalam hati, aku malah pengennya kaya ibuku. Di rumah, selalu menyambut anak-anaknya ketika pulang sekolah dan selalu ada saat kami butuhkan.

Kadang aku tanyakan maksud dari pesan bunda, beliau selalu bilang “Jadi perempuan itu jangan terlalu tergantung sama suami, punyailah kemampuan untuk bekal jika kelak harus mengambil alih peran ayah dalam keluarga. Bekerja dan mandirilah “.

Saat aku mulai kerja dan bergaul dengan beberapa teman-teman yang sudah mempunyai anak, kadang aku melihat dan menyaksikan betapa repotnya mereka membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Apalagi jika ditambah dengan beberapa teman yang masih kuliah. Wah binggung juga bagaimana mereka membagi waktu antara belajar, bekerja dan keluarga.

Bisa dibilang jika tinggal di Indonesia lebih beruntung dari teman-temanku yang sedang sekolah dan tinggal di luar negeri terutama jika yang sekolah itu adalah sang ibu. Harus pintar-pintar bagi waktu dan berbagi peran dengan suami (jika suaminya juga ikut ya heheh).

Beberapa bulan yang lalu saat aku jalan-jalan di eropa, sempat aku bertemu dengan beberapa teman yang sudah memiliki anak. Kembali aku tanyakan bagaimana mereka berbagi peran dengan suaminya. Sang suami hanya menasehati bahwa dalam keluarga itu tidak ada yang jadi bos, semuanya satu level. Saling pengertian dan berbagi tugas, tidak ada itu tugas cewek atau tugas cowok semuanya sama. Saat aku tanyakan kepadanya, apakah beliau minder dengan status istrinya yang sudah S3 sedangkan beliau bergelar S1. Dengan tegas beliau berkata “Dalam keluarga ini, saya pemimpin dan imamnya. Setinggi apapun gelar istri saya, saya tetap imam bagi keluarga saya. Kalau saya minder, saya tidak ada disamping istri saya saat ini dan membantunya mewujudkan impiannya.”

Terdiam aku mendengar perkataan bapak itu, jarang sekali aku menemukan sosok laki-laki yang bersedia mendukung mimpi istrinya untuk sekolah lagi. Namun saat aku ungkapkan keherananku tersebut, beliau malah menasehatiku untuk tidak menghakimi keputusan seorang laki-laki yang tidak bersedia atau mengijinkan istrinya belajar lagi. Beliau mengingatkanku bahwa laki-laki itu punya rasa egois dimana dia tidak ingin dikalahkan oleh istrinya. Kembali aku tanyakan kenapa beliau mengijinkan istrinya bekerja dan sekolah lagi. Jawaban sempat membuatku tersenyum sebab jawabannya singkat sekali. Kata beliau, dia hanya ingin mempersiapkan istrinya jika kelak dia meninggal lebih dulu dari istrinya. Dia ingin keluarganya tetap tidak kekurangan dan istrinya mampu mandiri tanpa dia. Wuih bijak banget ya, dia mikirnya jauh banget.

Kalimat itu menyadarkanku saat aku melihat Kick Andy kemarin malam. Ada seorang istri yang bergelar S1 dan sesaat setelah menikah, suaminya melarang dia untuk bekerja dan meminta dia untuk tinggal di rumah mengurus keluarga. Tak disangka-sangka badai itupun datang, saat sang suami tugas di luar , dia terpesona dengan wanita lain hingga melupakan dan meninggalkan keluarganya. Akhirnya sang istri pun harus bekerja menjadi sopir taksi untuk bisa memenuhi kebutuhan kelauarganya. Miris saat menyimak hal tersebut.

Dari semua ibu-ibu yang tampi dalam acara tersebut, mempunyai keinginan yang sama. Sebuah keinginan yang menjadi semangat ibu-ibu tersebut untuk bekerja lebih giat. Mereka tidak ingin anak-anaknya kelak seperti mereka serta mereka ingin anak-anaknya itu berhasil dalam pendidikan.

Satu hal yang bisa aku petik dari acara ini, ibu-ibu hebat ini tidak pernah sekalipun menyerah pada nasib. Kegigihan mereka menjalani hidup yang keras dan terus menapaki kehidupan dengan optimis menjadi penyemangatku dalam menjalani kehidupan akan aku lewati di depan sana.

Setelah bertahun-tahun nasehat yang kudengar dari ibuku itu, baru kali ini aku paham maksudnya. Kenapa beliau selalu berpesan padaku untuk tetap bekerja walaupun sudah menikah. Bagiku, bekerja tidak mesti dengan bekerja di kantor, bekerja bisa di rumah. Yang penting kita punya kemampuan dimana kita bisa mengembangkannya namun kodrat sebagai seorang ibu pun tidak boleh kita lupakan.

Belajar dari pengalaman beberapa teman yang bisa menggurus anak dan keluarga ; sekolah dan bekerja, yang kita butuhkan hanyalah sebuah berbagi peran antara suami dan istri. Penyetaraan kondisi antara suami dan istri, saling mendukung dan tetap menganggap bahwa suami tetaplah imam keluarga setinggi apapun gelar seorang istri , mungkin inilah resep sebuah keluarga bisa berjalan dengan baik .

Bogor, 28 January 2012

2 thoughts on “Pesan Bunda Kala itu

  1. “jarang sekali aku menemukan sosok laki-laki yang bersedia mendukung mimpi istrinya untuk sekolah lagi” – hehehe, autocurhat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s