Kesadaran Berkendaraan Di Jalan Raya

Hari Minggu saat aku sedang mengedit beberapa foto yang aku jepret di hari Sabtu, sebuah berita di televisi mengagetkanku dan sempat membuatku terhenti tanpa bisa berkata-kata lagi. Kabar duka yang aku terima saat itu membuatku tak habis pikir tentang negeri ini. Bagaimana tidak pejalan kaki yang sedang berada di halte yang sepantasnya adalah tempat teraman buat mereka namun hari itu menjadi tempat yang paling tidak aman. Sebuah kendaraan telah menabrak kerumunan pejalan kaki tersebut dan menyebabkan 9 pejalan kaki tewas.

Awalnya dalam bayanganku mereka sedang menyeberang jalan, namun setelah browsing di internet ternyata mereka ada di trotoar tempat yang memang dikhususkan buat pejalan kaki. Hingga kini berita tersebut menjadi topik terhangat di negeri ini. Beberapa teman mengirimkan video tentang “kedasyatan” kecelakaan itu. Saat melihat video itu tak tega rasanya melihat beberapa anak muda sepulang bermain footsal tergeletak tak berdaya. Atau ketika melihat seorang bapak yang mengendong anaknya sambil memberikan susunya, padahal anak kecil tersebut sudah tak bernyawa. Hingga seseorang menyadarkan bapak tersebut bahwa anaknya sudah meninggal.

Sedih rasanya melihat kejadian tersebut, apalagi setelah diketahui bahwa pengemudi tersebut tidak membawa SIM atau Surat Ijin Mengemudi. Lebih parah lagi, SIM pengemudi tersebut telah habis masa berlakunya.

Betapa nyawa di negeri ini dengan mudah tergadaikan di jalan raya. Aturan yang seharusnya dipatuhi, namun oleh beberapa orang dengan sadar dilanggar. Sepulangku dari Perancis, aku pernah berujar bahwa aku kembali ke dunia nyata dan hutan rimba yang di dalamnya hanya ada aturan rimba. Sapa yang kuat dialah pemenangnya.

Masih saja aku ingat saat aku pertama kali naik motor di Jogja sepulang dari Perancis, betapa aku sering ngomel-ngomel di jalan melihat perilaku orang-orang yang berkendaraan tak sesuai aturan. Contohnya saja, ketika lampu lalu lintas sudah menyala kuning, bukannya memelankan kendaraanya tapi malah mempercepat. Jika kita memelankan kendaraan kita yang ada kita diklakson kendaraan di belakang kita. Awalnya aku cuek aja, namun karena keseringan di klakson, terkadang aku malah ngomelin kendaraan yang mengklaksonku sambil mengatakan bahwa aturan dimana-mana itu kalau lampu kuning menyala ya harusnya memelankan kendaraannya bukan malah mempercepat kendaraan.

Banyak sekali orang yang melanggar aturan di sekitarku, antara lain ketika kita akan membelok. Masih banyak diantara kita yang berjalan atau berkendaraan di jalur yang tidak seharusnya. Hanya dengan alasan jika kita membelokkan kendaraan di tempat yang sudah ditentukan itu jaraknya jauh, jadi mending ya melawan arus. Toh banyak juga yang melakukan hal tersebut. Nah lho, hanyo ngaku saja yang masih sering melakukan hehehe. Itu pakai aturan sapa ya?? Aturan rimba kan ya, bukan aturan lalu lintas hehehe

Jika dibandingkan dengan negara-negara di Eropa, lebih nyaman berkendaraan atau jalan kaki disana. Pejalan kaki disana malah sangat dihormati. Diberikan tempat yang aman. Pengalaman berjalan kaki di eropa ini lah yang terkadang aku rindukan. Kapan ya aku bisa merasakan nyamannya jalan kaki, nyamannya naik kendaraan umum tanpa takut atau betapa nyamannya berkendaraan di jalan raya.

Seringnya aku jalan-jalan di eropa hingga terkadang membuatku harus pulang tengah malam. Naik tram yang nyaman dan aman, sehingga tidak membuatku ketakutan pergi sendiri. Atau berjalan-jalan dengan enaknya sambil jeprat jepret beberapa bangunan yang indah tanpa takut ditabrak kendaraan lain karena area pejalan kakinya luas dan tidak dipakai untuk berjualan. Menyeberang jalan dengan aman tanpa takut diklakson atau di caci maki pengendara lain, bahkan malah sering dipersilakan menyeberang jalan.

Bagaimana di Indonesia? Ketika aku jalan kaki di trotoar saja terkadang masih sering diklakson orang dari belakang, padahal aku jalan di tempat yang benar. Pengendara motor saja yang salah, mereka berada di jalan yang salah. Bagaimana tidak jika jalur yang mereka lalui itu adalah jalur yang berlawanan arah dengan mereka. Terkadang aku malah ngomel-ngomelin mereka sambil berkata “kamu kan yang salah, kenapa mesti main klakson”. Apakah mentang-mentang mereka naik motor lalu mereka bisa jadi raja jalanan ?

Terkadang kita sudah bersikap sesuai dengan aturan namun orang lain tidak begitu, hingga terkadang kita yang sudah berhati-hatipun bisa juga terkena dampaknya. Namun apakah karena banyak yang melanggar aturan jalan raya, sehingga kita juga harus meniru mereka? Mulailah dari diri sendiri untuk mematuhi aturan di semua bidang tanpa harus memperhatikan orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s