Tulisan dalam kehidupan

Beberapa hari ini begitu banyak pelajaran yang aku dapatkan dari sekelilingku. Mulai dari berbagai macam masalah yang tiba-tiba menghampiriku tanpa aku duga, diskusi kecil-kecilan dengan beberapa sahabat sampai beberapa link tulisan dari berbagai teman yang mampu membuka cara pandangku dan mendinginkan sedikit gejolak yang ada dalam pikiranku.

Pilihan menjadi netral diantara kepungan idealis dan tempuran beberapa kelompok terkadang menjadi pilihan yang sulit. Sedikit menjauh dari rutinitas dan focus pada tujuan utama malah sering dianggap berpihak pada salah satu kubu. Kebinggungan yang mulai menyerang akhirnya tumpah di email dan chattingan ke beberapa sahabat. Mungkinkah ini shock culture? Entahlah yang pasti semuanya menjadi serba salah ketika harus berhadapan dengan kehidupan nyata. Kehidupan yang ingin segera aku tinggalkan untuk sekedar menarik nafas panjang dan kembali berlari mengejar mimpi yang tak pernah bisa hilang dari pikiranku selama ini.

Allah memang maha penyayang, saat nafas ini sudah sesak dan dada ini sudah tak mampu menahan semua beban yang datang. Tiba-tiba aku dikejutkan sebuah note yang panjang yang mampu memberiku setitik cahaya untukku berjalan lagi.

Entahlah kenapa note itu menarik perhatianku, note yang menceritakan kisah yang mirip dengan apa yang aku alami saat itu. Penyadaran bahwa pemilihan kata-kata dalam penulisan di blog ataupun status di jejaring social walaupun sudah dihapus akan tetap tersimpan rapi di sebuah alamat di dunia maya. Hal itu sama dengan sebuah perkataan yang sudah kita lontarkan dan menyakiti hati seseorang, kata-kata itu akan tersimpan rapi di lubuk hati orang yang tersakiti. Perkataan ataupun penulisan ternyata efeknya bisa setajam silet sehingga mampu membuat orang yang tersakiti akan mengingatnya sampai kapanpun. Seperti saat kita membuat sebuah lubang di kertas dengan pulpen dan kemudian  kita cabut pulpen tersebut. Kertasnya akan berlubang dan tak bisa direkatkan lagi. Walaupun sudah kita rekatkan dengan lem namun bekasnya masih ada.

Diawal blog ini aku buat, tulisanku sudah membuat masalah dalam kehidupanku. Membuatku untuk berfikir lagi apakah memang perlu aku melanjutkan menulis semua pengalaman hidupku dalam dunia maya ini. Berfikir untuk memperbaiki lagi tema tulisan yang pantas aku publish dan berharap tidak akan pernah lagi mengulangi kesalahanku untuk kedua kalinya yaitu menuliskan tema yang salah. Namun ternyata dua tahun yang lalu, aku melupakan janjiku sendiri. Kembali aku menulis sebuah kalimat yang mampu membuat orang lain tersinggung dan aku baru menyadarinya kemarin saat orang tersebut menyindir kalimat yang pernah aku tulis di blogku tiga tahun yang lalu.

Blog ataupun jejaring social di dunia maya ternyata mudah sekali diakses, apalagi dengan bantuan mbah Google. Seakan dunia kita tak ada yang bisa kita tutupi lagi. Namun apakah dengan mudahnya akses tersebut, maka dengan bebasnya pula kita menuliskan semua apa yang kita rasakan pada media tersebut? Hingga kalimat caci maki, hinaan ataupun pembunuhan karakter dengan mudahnya kita tulis tanpa memikirkan dampaknya? Bahkan bisa dibilang twit war dll dengan mudah kita temukan di jejaring social. Sindir-sindiran atau secara terang-terangan menyerang orang pun dengan mudah kita baca dalam status-status rekan atau teman kita. Tidak bisakah kita menggunakan kemudahan fasilitas tersebut dengan sehat??

Mungkin benar apa yang diungkapan seorang teman di note dan statusnya “there is a difference between getting a degree and having an education”, awalnya ga ngeh dengan kalimat tersebut. Namun setelah aku baca notenya, akhirnya aku mengerti maksudnya. Memang banyak orang yang sekolah namun ternyata ada bedanya antara orang yang sekolah untuk mencari gelar dengan orang yang berpendidikan walaupun orang berpendidikan itu belum tentu dia bersekolah.

Diskusi panjang dengan tema “pulang atau tidak pulang setelah sekolah di luar negeri” ataupun “pilihan bersekolah di dalam negeri atau di luar negeri”, akhir-akhir ini menghiasi wall facebook beberapa teman-temanku. Dan sebagai dampaknya aku kena colekan atau cubitan dari teman-temanku dan imbasnya aku berkomentar di status mereka.

Jika saja aku masih seperti dulu, mungkin yang akan keluar dari tulisanku adalah komentar-komentar yang memojokkan teman-temanku, namun semua itu sudah berubah kini. Aku bersikap netral untuk tema-tema yang sensitive, karena aku ingat dengan perkataan guruku “semua itu adalah pilihan selera trias, coba kamu diskusi warna kesukaan sama temanmu. Apa yang terjadi?? Pasti ga ada ujungnya bukan diskusi tersebut. Itu pilihan hidup trias, yang ga bisa dihakimi siapapun. “ Dan untuk setiap tema tersebut, aku berusaha mencari solusi terbaik buat kedua belah pihak, dan selalu mengatakan bahwa semuanya benar, tidak ada yang salah.

Belajar dari semua pengalaman itu, membuatku lebih berhati-hati kembali dalam menulis ataupun berkata apa-apa. Karena tulisan dan perkataan kita adalah cerminan dari karakter kita. Terimakasih teman sudah menyadarkan aku akan sebuah dampak dari dunia maya dan tulisan-tulisan kita.

Bogor, 11 January 2012

2 thoughts on “Tulisan dalam kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s