PNS vs TOEFL 600

Awal tahun baru ini sedikit banyak aku dikejutkan oleh beberapa statement dari sebagian teman-temanku, komentar-komentar negatif akibat statement seorang menteri yang dirilis beberapa media elektronik. Pertamanya sih aku baca berita ini di running teks sebuah televisi, wuih tinggi banget juga syarat toefl buat jadi PNS, batinku saat itu.

Aku pikir itu ga bakalan jadi polemik di jejaring sosial, tapi ternyata dugaanku salah. Beberapa teman memposting berita-berita yang berkaitan dengan statement seorang menteri itu. Mulai dari komentar sinis nilai TOEFL dari menteri tersebut, kemudian manfaatnya jika PNS mempunyai nilai TOEFL yang tinggi sampai komentar bapak menteri tersebut bakalan tidak mempunyai pegawai jika syarat tersebut diberlakukan.

Aku sih jadi penasaran saja siapakah bapak menteri ini terutama latar belakang pendidikannya. Tidak mungkin seseorang yang tidak mengerti medan akan mengeluarkan statement yang aneh-aneh, apalagi beliau adalah seorang menteri.

Akhirnya aku bertanya pada mbah Google tentang Bapak Gita Wirjawan yang merupakan menteri perdagangan dan yang mengeluarkan statemen bahwa  beliau akan mewajibkan jajaran ‘anak buahnya’ di kementerian perdagangan memiliki skor TOEFL (Test of English as a Foreign Language) minimal 600.

Dengan hanya mengetik Gita Wirjawan di mbah Google, kutemukan latar belakang pendidikannya.  Menurut Wikipedia, Gita Wirjawan lahir di Jakarta pada tanggal 21 September 1965, putra dari pasangan Wirjawan Djojosoegito dan Paula Warokka Wirjawan.  Menempuh pendidikan S1 di Amerika Serikat dan menyelesaikan kuliahnya  pada tahun1992 di Kennedy School of Government jurusan administrasi bisnis. Kemudian melanjutkan S2 di Harvard University jurusan public administration.

Dari latar belakangnya pun bisa dipastikan TOEFL nya lebih dari 500, bahkan mungkin bisa mencapai 600. jadi kalau ada yang meragukan nilai TOEFL dari beliau, sepertinya hanya mereka-mereka yang asal ngomong tanpa tahu ataupun berusaha mencari tahu latar belakang pendidikan dari beliau. Setidaknya itu memberiku pelajaran bahwa tidak semua menteri itu memiliki nilai TOEFL dibawah 500, tidak sepantasnya kita mengeneralisirkan semua orang. Sebaiknya sih kita perlu cek dan ricek terlebih dahulu, apakah jika statement yang akan kita bikin itu sudah kita cek kebenarannya. Jangan asal ngomong tanpa bukti.

Bukannya diriku membela bapak menteri tersebut ataupun meragukan nilai TOEFL beliau. Namun setahuku untuk masuk universitas di Amerika, orang asing pun harus memenuhi persyaratan minimal nilai TOEFL. Kalau ga salah sih rata-rata nilai TOEFL untuk bisa diterima di salah satu universitas di Amerika adalah 550, berdasarkan websitenya Harvard University  minimum TOEFLnya adalah 600, plus biasanya untuk anak-anak ekonomi wajib melampirkan nilai GMAT juga. Jadi kita pun bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan kita sendiri, berapakah score TOEFL dari bapak menteri tersebut.

Lalu pertanyaan berikutnya adalah, apa manfaat nilai TOEFL tersebut ya buat PNS?? Aku juga binggung, manfaatnya apa hehehe..Sebaiknya sih tanyakan pada bapak menteri tersebut untuk lebih jelasnya. Namun kalau aku yang ditanya, pasti akan aku jawab salah satu manfaatnya adalah bisa dengan mudah mendapatkan beasiswa buat sekolah lagi hehehe. Kan salah satu syaratnya dapat beasiswa terkadang adalah nilai score TOEFL.

 Fakta yang ada di masyarakat adalah terkadang ada orang yang sangat fasih berbahasa Inggris dan lancar kalau ngobrol dengan orang asing, namun ternyata saat di tes TOEFL nilainya jelek. Lalu apakah kita bisa menghakimi orang tersebut tidak bisa bahasa Inggris? Apakah nilai TOEFL yang tinggi bisa distandarkan dengan kefasihan berbahasa Inggris?

Yang bisa aku katakan disini sefasih-fasihnya kita berbahasa Inggris mungkin tidak bisa sefasih orang Inggris, Australia, Amerika atau negara-negara yang berbahasa Inggris. Tahu sendiri kan bahasa Inggris bukan bahasa ibu kita dan bukan bahasa nasional kita. Coba kita bandingkan dengan bahasa Indonesia, jika ada test kemampuan berbahasa Indonesia, nilai kita berapa coba? Sudah baguskah bahasa Indonesia kita dalam pergaulan? Kalau bahasa Indonesia kita saja masih sangat jauh dari sempurna, apalagi bahasa Inggris?? Atau kita lebih bangga untuk berbahasa Inggris daripada berbahasa Indonesia?

Jadi menurutku, kalau ada seorang menteri yang mensyarat nilai TOEFL “setinggi” itu, tanyakanlah apa tujuan kedepannya, walaupun agak kontroversi namun buatku ya sah-sah saja ko. Yang jadi pertanyaan buatku adalah sebenarnya kenapa syarat tersebut tidak berlaku juga buat para anggota DPR yang hobinya keluar negeri ya?? Secara mereka kan kalau di luar negeri ngobrol ma anggota dewan di negara yang mereka kunjungi juga kan ya? Atau jangan-jangan para anggota DPR tersebut ke luar negeri dengan alasan study banding didampingi dengan para penerjemah ya??

Yang perlunya dikritisi tersebut adalah bagaimana nasih para PNS tersebut yang nilainya dibawah 600, apakah akan dipecat atau ada kebijakan lainnya. Dan satu lagi mungkin sebaiknya kita tanyakan manfaat dan tujuan PNS di Kementerian Perdagangan (Kemdag) memiliki nilai TOEFL 600 dan bagaimana upaya bapak menteri tsb menaikkan nilai score pegawainya. Kalau pun nanti para pegawai Kemdag itu dikursusin, pertanyaan selanjutnya adalah uang darimana untuk biaya kursus tersebut. Janganlah kita mengkritik hal-hal yang tidak penting.

Sebaiknya kita mencerna sesuatu itu dengan pelan-pelan dan berfikir jernih. Jangan mudah terpancing emosi sehingga yang keluar dari mulut kita adalah statement-statement yang tidak ada buktinya.

Bogor, 2 January 2012

10 thoughts on “PNS vs TOEFL 600

  1. wah sangat setuju skali usaha pak Gita utk memajukan ekonomi bangsa lewat anak buahnya di dep perdagangan. Secara PNS dep perdagangan banyak berhubungan dgn legal document untuk perjanjian antar bangsa…jadi bisa dimaklumi kalau PNS dept ini akan maksimal jika nilai toeflnya sangat tinggi …hmm mungkin minim 575 deh (tawar heheh). Wong saya saja butuh waktu yang sangat lama nulis disertasi dlm bahasa inggris, maklum toefl cuman 550😛
    Gak kebayang kalo untuk perjanjian kerjasama, si PNS butuh sebulan utk buat document …

    So, maju terus pak Gita …

    1. yuk kita dukung programnya pak Gita.. biar makin maju bangsa kita ini..kalaupun ada kritikan negatif ya wajar saja, kan setiap kebijakan itu selalu ada yang pro dan kontra. tinggal bagaimana kita menyikapinya saja hehehe

  2. DPR itu jabatan politik dan PNS itu jabatan karir.
    Untuk urusan pekerjaan dan karir, syarat TOEFL perlu.

    Untuk DPR, boleh-boleh aja, mereka dites TOEFL dan hasilnya dibuka depan umum. Supaya rakyat tahu orang yang mereka pilih itu seperti apa.

    1. tidak semua PNS perlu TOEFL kali.. nah kalau PNS guru SD bidang olahraga misalnya atau PNS pemda yang ga pernah keluar negeri atau pekerjaannya ga ada hubungannya dengan dokumen berbahasa Inggris, apa perlu kemampuan bahasa??

      Kalau anggota DPR nya ga pernah keluar negeri ya ga masalah ga bisa TOEFL.. tapi kalau anggota DPR nya sering ke luar negeri ya wajib tuh TOEFL 600.. Daripada malu-maluin negara aja, keluar negeri ga ngerti bahasa Inggris.. Plus perlu juga tuh bahasa asing lainnya hehehe…

  3. Di negara kita sesuatu yang baik juga pasti menuai kritik hehehe. Maksudnya Pak Menteri, nilai TOEFL 600 itu diperoleh secara bertahap. Rencananya di Deperindag akan diadakan diklat bahasa untuk para pegawainya dgn tujuan untuk menaikkan nilai TOEFL-nya pegawai. Karena menurut beliau di Departemen itu akan banyak berurusan dengan pihak asing. Kan kalau pegawainya lebih fasih untuk berbahasa asing (dlm hal ini bahasa Inggris) lebih baik bukaaan !🙂

  4. setahu saya menurut pak gita di salah satu stasiun TV berita swasta mengatakan, toefl 600 penting bagi karyawannya di kementrian perdagangan untuk komunikasi dan kelancaran interaksi dengan para investor dari luar negri. Beliau menambahkan mengapa singapure maju karna SDM nya lancar menjalin komunikasi dengan investor demikian juga India, dimana rata-rata mereka menguasai english.

    Upaya dari kementrian keuangan untuk mengatasi karyawannya adalah dengan mengalokasikan dana 5 M untuk bimbingan bagi karyawannya.
    dan kata pak gita juga, hal semacam ini telah berhasil membawa beberapa karyawannya dapat nilai toefl 600.

    1. Singapura dan India memang sedari kecil mereka sudah menggunakan bahasa Inggris sebagai bahsa pengantar di sekolah-sekolah. berbeda dengan Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantarnya.

      Menurutku kemajuan suatu bangsa tidak berdasarkan penggunanaan bahasa inggris lho. itu hanya salah satu penunjang.

      silakan cek di Eropa, seperti Perancis atau Jerman atau Italy. Mereka sangat bangga dengan bahsanya sendiri, tapi tetap maju kan?? Kalau Anda ke sana sangat jarang sekali Anda menemukan iklan berbahasa Inggris. Bahkan film di bioskop pun selalu di dubbing dengan bahasa mereka.

      Buatku TOEFL 600 hanya untuk syarat masuk sekolah, kemampuan berbahasa tidak berdasarkan score TOEFL namun berdasarkan penggunaannya tiap hari. Apa artinya TOEFL 600 jika tidak digunakan tiap hari yang ada lupa semua deh kosa kata dan grammer.

      Di Singapura dan India hampir tiap hari orang2 menggunakan bahsa Inggris sebagai bahasa komunikasi. Jadi wajarlah jika mereka bisa berbahsa Inggris dgn lancar. Sedangkan kita?? kapan kita menggunakan bahsa Inggris??

  5. sangat tidak setuju, skornya terlalau berlebihan kalau pemberlakuannya hanya di departemen terkait ngak maslaha, yang masalah berlaku ke seluruh PNS indonesia. tingkat kualitas pendidikan di daerah dan pusat sangat jauh

  6. Percuma punya menteri, DPR, atau pemimpin pintar di bidang akademik, kalau tidak memiliki jiwa yang bersih n tekad yang kuat utk memajukan negara ini, toh selama ne kita tau bahwa presiden n para menterinya bisa dikatakan smw adlah org pandai akademik, bergelar DR, Margister,dll tp mana kenyataannya sampai saat ini Indonesia masih belum bs maju. Jdi bwt apa n apa tjuan memiliki skor toefl tggi ap t bs mnjmin ssorang memliki kinerja baik, n loyalitas pda negara utk mmjukan bangsa ne? Keseimbangan antara IQ,EQ, n SQ t lbh penting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s