Bunda, You are everything for us

Seminggu yang lalu banyak sekali status di FB yang menuliskan « Happy mother day », mengucapkan terima kasih kepada bunda kita. Namun apakah ucapan terima kasih kita diketahui bunda kita ya? Sudahkah kita menelephon bunda kita pada hari itu? Ataukah kita hanya mengucapkan terima kasih kita pada tanggal 22 Desember saja, setelah itu ya lupa deh dengan jasa-jasa bunda kita.

Sebenarnya tidak ada tradisi di keluargaku untuk memperingati hari ibu. Tidak ada kegiatan yang membebaskan bundaku dari pekerjaan sehari-hari di tanggal tersebut. Tidak ada kado ataupun sekedar ucapan terima kasih. Buat kami tanggal 22 Desember adalah hari biasa, yang tak perlu diperingati secara berlebihan. Dan bundaku pun tak pernah mengharapkan ucapan ataupun kado dari anak-anaknya.

Bisa dibilang kakak-kakakku dan aku adalah anak-anak tercuek di dunia ini. Namun bagi kami, membahagiakan bunda kami tercinta, memberinya kado ataupun perhatian bisa kami lakukan kapanpun, tak perlu nunggu hari istimewa seperti ulang tahun ataupun hari ibu. Saat kami ingin membebaskan bunda kami dari pekerjaannya, bisa kami lakukan saat kami pulang ke rumah. Saat kami ingin memberikan kado buat bunda, kami pun tak perlu nunggu saat bunda ultah ataupun hari ibu. Jika ada rejeki, kami selalu mengirimkan sesuatu kepada bunda kami.

Tak istimewanya hari itu membuatku terlihat cuek saat bunda mengirimkan sms yang bertuliskan “Ingat-ingatlah kebaikan bunda. Lupakanlah kejelekan bunda. Maafkan lah kesalahan bunda. Amien”. Sms itu bunda kirimkan tanggal 22 Desember 2011 jam 15:30, disaat aku masih di kantor. Sesaat membaca sms itu, aku terkejut. Tumben bunda menuliskan sms seperti ini. Tidak biasanya bunda menuliskan sms yang aneh menurutku. Berhubung setiap sabtu pagi merupakan jadwal menelephon orang tua, jadinya aku acuhkan sms tersebut. Toh bundaku tahu, jam segitu aku masih di kantor, dan bukan hal yang penting, pikirku saat itu.

Hari sabtunya, aku tanyakan maksud sms bundaku itu. Bundaku hanya cerita, saat itu disebuah perkumpulan ibu-ibu ada perlombaan menuliskan kata-kata indah dari seorang ibu kepada anak-anaknya.  Setelah itu kalimat indahnya dikirimkan ke hp anak-anaknya, dan barang siapa yang mendapatkan balasan dari anak-anaknya plus kata-katanya menarik akan mendapatkan hadiah. Bundaku iseng saja mengikuti perlombaan tersebut, perlombaan yang diadakan untuk menyambut hari ibu. Ternyata kata-kata yang bunda tuliskan buat kami mendapat nilai terbaik menurut panitia, namun sayangnya tak ada satupun dari kami anak-anaknya yang membalas smsnya. Saat ditanya sama panitia, bundaku hanya berkata “Kedua anak-anak saya saat ini sedang bekerja, jadi mungkin HP nya sedang tidak aktif. Yang satu sibuk ngajar jadi dosen trus yang satunya lagi sibuk di lab. Mungkin nanti kalau sudah baca smsnya baru bisa balas.” Walaupun akhirnya bundaku kalah, namun bundaku ga pernah menyesali kekalahan tersebut. Bundaku masih yakin bahwa kami tidak pernah melupakan beliau.

Saat mendengar ceritanya, hatiku sedikit tersayat. Betapa aku terlalu cuek dengan sebuah sms dari bundaku. Betapa aku terlalu tidak mementingkan sebuah sms. Yang hanya bisa aku ucapkan saat itu adalah permintaan maaf karena tidak begitu perhatiannya.

Pagi tadi kembali aku ingat sebuah film yang direkomendasikan oleh seorang teman. Sebuah film yang berjudul “I don’t know how she does it”, akhirnya aku putuskan untuk melihat film tersebut dikala kantor masih sepi dan streamingnya berjalan lancar. Kunikmati perlahan-lahan film tersebut, kuperhatikan setiap detik adegan yang ada. Betapa aku melihat pontang-pantingnya seorang ibu yang harus mengurus dua orang anak, seorang suami dan tetap bekerja. Betapa si ibu beberapa kali harus meninggalkan anak-anaknya untuk sebuah pekerjaan. Masih aku ingat sepulang kerja, beliau masih harus mengurusi anak-anaknya, atau sebelum berangkat ke kantor si ibu masih bisa mengantarkan anaknya ke sekolah,atau ketika malam tiba si ibu diam-diam menciumi anak-anaknya di saat anak-anaknya sudah tidur.

Bener-bener memperlihatkan aku betapa hebatnya seorang ibu yang selain mengurus keluarga juga mengambil kesempatan bekerja. Terharu saat aku melihat si ibu yang akhirnya memutuskan untuk menunda pekerjaannya hanya karena ingin membuat boneka salju bersama anak-anaknya. Walaupun sebelumnya dia harus berargumen sama bosnya, dan tidak peduli dengan pekerjaannya lagi. Karena hal terpenting bagi dirinya adalah keluarganya. Indah endingnya, dan satu lagi yang aku bisa aku lihat di film ini yaitu betapa baik suaminya mensupport dirinya dan karier istrinya.

Jika di Indonesia, seorang wanita karier pasti memiliki asisten yang membantu dirinya siang malam, namun di film ini, si wanita karier hanya dibantu satu orang asisten yang tidak bisa membantunya siang malam. Terkadang untuk urusan memasak, mencuci dan pekerjaan rumah tangga lainnya masih harus dikerjakan oleh seorang ibu, asistennya pun hanya membantu mengasuh anak-anaknya. Namun di luar negeri ada tempat penitipan anak ding hehehe.. kalau di Indonesia kan masih jarang dan sulit bukan??

Dua hal itu membuatku menyadari akan kehadiran seorang ibu dalam hidup anak-anaknya. Dibalik kesibukannya, beliau masih memperhatikan anak-anaknya, menjaga anak-anaknya dan ingin membahagiakan hari-hari anak-anaknya. Namun terkadang bagi kita anak-anaknya, sering lupa akan ibu kita. Alasan sibuk pekerjaanlah yang sering kita jadikan alasan untuk tidak menyapa ibu kita bahkan mengacuhkan telphon atau smsnya. Terkadang menelephonpun  jarang, walaupun sekedar untuk menanyakan kabarnya.

Sudahkah kita menanyakan kabar bunda kita hari ini?

Bogor, 29 December 2011

2 thoughts on “Bunda, You are everything for us

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s