Orang Asing Juga Manusia

Suatu hari aku janjian dengan beberapa teman di sebuah mall di Jakarta, bertemu setelah sekian lama kita tidak bertemu. Berbagi cerita dan kondisi masing-masing. Tak terasa sudah waktunya makan siang, pergilah kami ke sebuah restoran di mall tersebut.

Tiba-tiba saat salah satu temanku datang ke meja kami sambil tertawa terbahak-bahak. Sambil duduk dia bercerita tentang sepasang orang asing yang tidak jadi pesan makanan hanya karena pelayanannya tidak bisa bahasa Inggris. Bukannya membantu, temanku itu malah tertawa. Kuhentikan makanku seketika saat mendengar cerita temanku, dan aku bertanya kepadanya orang asing yang mana yang akhirnya tidak jadi pesan. Temanku itu lalu menunjukkan sepasang orang asing yang ada di ujung restoran tersebut.

Kuhampiri sepasang orang asing tersebut kemudian dengan sopan aku bertanya baik-baik apakah mereka membutuhkan bantuan untuk memesan makanan. Lalu laki-laki asing itu bertanya padaku apakah aku bisa bahasa Inggris. Kujawab saja iya, selintas aku lihat buku travelling yang dipegang perempuan asing tersebut berbahasa Perancis. Dan dengan tersenyum aku bilang juga kalau aku bisa bahasa Perancis. Wah kaget juga mereka saat mendengar itu.

Akhirnya kami bertiga kembali mendatangi pelayan restoran tersebut, kemudian kami melihat daftar menu-menu makanan yang tertera di daftar menu restoran. Jika ada sesuatu yang mereka tidak tahu, mereka bertanya padaku, kemudian aku tanyakan ke pelayan tersebut lalu kembali aku jelaskan kepada kedua orang asing tersebut. Memang sedikit ribet tapi aku senang melakukannya. Setelah itu, mereka memutuskan untuk memesan beberapa makanan kemudian aku pesankan makan tersebut. Setelah semuanya terlihat beres, aku pamitan kepada kedua orang tersebut untuk melanjutkan acara makan siangku.

Lalu aku kembali ke meja semula dimana beberapa teman-temanku berada. Salah satu temanku berkata dengan lantang “ya inilah sang hero hari ini”. Yang lain malah bertanya apa alasanku berbuat seperti itu, ada juga yang berkata bahwa aku bak pahlawan kesiangan dan sebagainya. Setelah komentar-komentar itu terlontar satu persatu dari mulut teman-temanku, aku hanya menjawab singkat “Aku pernah berada dalam kondisi seperti kedua orang asing tersebut dan saat itu ada seseorang yang bersedia membantuku memesankan makanan. Kini tiba saatnya aku membalas kebaikan orang yang sudah membantuku. Aku ingat saja dengan film Pay Forward”

Ya aku ingat sebuah kejadian ketika  aku jalan-jalan di Italy sendirian tanpa seorang teman. Maklum temanku lagi bekerja di lab, jadi ya dia tidak bisa menemaniku jalan-jalan di kota tempat dia tinggal. Siang itu rasa lapar mulai  aku rasakan setelah berjam-jam menyusuri jalan di kota Turin. Akhirnya aku berputar-putar mencari tempat makan yang halal. Pencarian tempat makan yang halal di kota Turin tak semudah di Indonesia. Disini banyak sekali makanan yang tidak bisa aku makan. Berjalan keliling-keliling, susah sekali aku menemukan restoran Turki atau mencari kedai yang jualan Kebab. Akhirnya masuklah aku ke sebuah kedai  yang menjual pizza.

Setelah melihat-lihat aneka macam pizza, aku mencoba bertanya-tanya mana pizza yang tidak ada pork nya. Berhubung aku tidak bisa bahasa Italy, aku bicara dengan pelayan tersebut dengan bahasa Inggris. Eh pelayannya malah ngajak ngomong pakai bahasa Italy. Mencoba menggunakan bahasa tarzan alias bahasa tubuh pun agak susah. Hingga aku pun hampir putus asa dan berniat untuk pergi saja. Namun karena sudah bener-bener lapar, aku berusaha untuk bisa mendapatkan pizza yang aku mau.

Tanpa sadar, keluarlah sebuah kalimat keluhan dalam bahasa Perancis. Untunglah seseorang calon pembeli mendengar keluhanku tersebut. Orang tersebut mendekatiku dan berkata bahwa dia bisa menolongku asalkan aku berbicara dalam bahasa Perancis, karena dia ga bisa bahasa Inggris. Wah senangnya hatiku ada orang yang bisa bahasa Perancis di Italy. Akhirnya aku minta tolong dia untuk mencarikan pizza yang tidak ada Pork atau jambon. Kemudian dia menunjukkan dua jenis pizza yang aku mau. Pilihanku jatuh pada pizza vetegable, setelah itu orang Italy tersebut memesankanku sepaket pizza yang isinya pizza, coca cola dan kentang.

Senangnya aku, akhirnya bisa membeli makanan itu. Setelah aku membayar, aku makan pizza tersebut di depan kios itu bersama orang Italy yang sudah membantuku. Dari beliaulah aku tahu bahwa orang Italy rata-rata lebih mengerti bahasa Perancis daripada bahasa Inggris. Jadi tak  ada salahnya jika aku tersesat atau ingin membeli sesuatu menggunakan bahasa Perancis untuk komunikasi. Bersyukur banget aku bisa menguasai salah satu bahasa di eropa.

Hal itu membuatku lebih care terhadap orang asing ketika aku berada di Indonesia. Terlebih ketika ibuku mengajariku untuk mau membantu orang asing ketika mereka di Indonesia. Kisahnya ketika suatu sore ibuku melihat ada sepasang orang asing naik becak di Jogja, terlihat binggung di jalan dekat  rumahku. Ketika itu mereka tersesat dan tukang becaknya pun ga ngerti bahasa Inggris. Akhirnya tu orang asing bertanya sama sembarang orang yang lewat di depannya. Ibuku yang ketika itu sedang di depan rumah dan menyaksikan hal tersebut buru-buru memanggilku dan menyuruhku untuk mendekati sepasang orang asing dan abang tukang becak tersebut. Akhirnya aku dekati mereka dan bertanya apakah perlu bantuan. Kemudian si cowok asing bertanya padaku tentang sebuah alamat hotel. Aku jelasin saja jika dia ingin ke hotel tempat dia menginap, akan lama dan kasihan abang tukang becaknya. Aku hanya menyarankan dia untuk naik bus saja. Aku sarankan naik transJogja yang lebih enak jalurnya (padahal sebenarnya aku ga tahu kalau harus pakai angkutan lain hehehe).

Aku jelaskan kepada abang tukang becak tersebut untuk mengantar sepasang orang asing yang belakangan aku ketahui mereka dari Perancis (again, ketemu lagi sama orang prancis di indonesia) ke halte bus TransJogja terdekat. Kemudian aku jelasin rute-rute yang harus dilewati sama tu orang asing. Dan tak lupa aku tuliskan di kertasnya alamat tujuan orang asing tersebut, dan kuminta untuk mereka tunjukkan saat mereka membeli tiket bus transJogja serta kepada mbak-mbak petugas yang ada di dalam bus TransJogja. Buat jaga-jaga saja kalau mereka tidak bisa menemukan orang Indonesia yang bisa bahasa Inggris saat di halte bus dan di dalam bus saat mereka mau turun dari bus.  Sebelum berpisah aku berikan no HP ku kepada sepasang orang asing tersebut dan meminta untuk menelephonku jika masih binggung bagaimana caranya untuk pulang ke hotel tempat tinggal mereka.

Ketika aku kembali ke rumah, aku dengar seseorang bertanya kepada ibuku kenapa ibuku mau membantu orang asing tersebut dengan menyuruhku untuk mendekati kedua orang asing tersebut, bisa saja kan ibuku diam saja toh dia tidak ditanyain sama kedua orang asing dan tukang becak tersebut. Ibuku hanya menjawab « Dua anak saya pernah tinggal di luar negeri, saya selalu membayangkan bagaimana jika anak-anak saya tersesat seperti orang tersebut. Kalau saya membantu orang asing di sini, saya berharap di negeri orang anak-anak saya ada yang bantuin  »

Mungkin bagi sembarang orang melihat beberapa turis asing yang kebinggungan tidak mengerti bahasa Indonesia terlihat lucu, namun buatku tidak demikian. Aku pernah merasakan menjadi orang asing di negeri orang dan tidak bisa bahasa lokal. Susahnya minta ampun, walaupun aku bisa bahasa Inggris yang merupakan bahasa international namun tak semua orang bisa bahasa Inggris sama dengan orang Indonesia.

Hidup di negeri orang telah memberiku banyak pelajaran, dari menjadi orang minoritas sampai menjadi orang asing di negeri orang. Hingga kini aku bisa menghargai kaum minoritas dan bersikap ramah terhadap orang asing. Bukan untuk sok-sokan, gaya atau ingin pamer. Namun karena aku pernah merasakan apa yang dirasakan kaum minoritas dan turis asing tersebut.

Bogor, 14 December 2011

9 thoughts on “Orang Asing Juga Manusia

  1. Orang harus mengalami sendiri dik, baru bisa merasakan bagaimana susahnya survive di negeri orang. selama ini banyak orang yang keluar negeri menggunakan travel agent yang menyediakan tour guide. jadi mereka tidak pernah mengalami tersesat dan bagaimana berinteraksi dengan orang lokal. kesusahan dan kesulitan yang adik hadapi, tidak akan mungkin dialami oleh orang Indonesia yang jalan-jalan dengan travel agent. nice story dik.. keep writting🙂

  2. Bener banget mbak. Di korea sini aku juga mengalami hal yang sama. Tidak semua orang korea bisa berbahas inggris apalagi aku posisinya di kota kecil. Sungguh luar biasa susahnya ketika tersesat (ga tersesat juga susahnya luar biasa.. hehehehe)
    Btw, udah balik ke Indo aja mbak? cepet bener, winter vacation ato udah kelar?

    Salam.
    Thomhert ^^;

  3. Pingback: My Homepage
  4. The when I just read a blog, Im hoping that this doesnt disappoint me approximately this one. Get real, Yes, it was my method to read, but When i thought youd have something interesting to state. All I hear is a number of whining about something that you could fix should you werent too busy trying to find attention. 465028

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s