Sebuah Refleksi Kehidupan

Sebuah kejadian yang aku alami pas weekend kemarin membuatku sering bertanya-tanya kenapa bisa terjadi semua ini. Apakah pergeseran budaya sudah terjadi di negeri ini? Negara mana yang menjadi kiblat dari semua ini?

Kejadian pertama saat aku menginjakkan kaki di sebuah toko buku di Bogor. Sudah hampir setahun lebih aku tidak ke toko buku tersebut, hingga akhirnya kemarin aku pergi untuk membeli buku di sana. Anehnya saat aku berjalan-jalan sepanjang rak yang ada di toko buku tersebut, betapa kagetnya aku menemukan beberapa rak yang berisi buku-buku berjudul antara lain “Cara Mendidik Anak Pintar, Menjadi Orang Tua dari Anak Hebat” dan masih banyak lagi. Seakan-akan tujuan mendidik anak itu untuk menjadikan mereka anak pintar dan hebat.

Teringat perkataan seorang teman saat aku memberikan pujian kepada dia, betapa pintar dan hebatnya dia belajar. Orang tersebut hanya berkata “Apa definisi trias tentang hebat dan pintar itu?” Dan aku tidak mampu membalas pertanyaan yang dikemukakan orang tersebut. Ya, sebenarnya apa itu hebat, apa itu pintar. Dan kenapa semua orang tua ingin anaknya hebat dan pintar? Lalu kalau sudah hebat dan pintar, apakah anak tersebut bahagia menjalani rutinitas yang dipilihkan orang tuanya?

Contoh kasus saja, ketika seorang sahabat berusaha memberikan pendidikan terbaik buat anaknya. Dia mencari sekolah yang disebut favorit dan berbasis international. Sekolah tersebut mensyaratkan masuk kelas 1 harus sudah bisa membaca, kemudian setelah sekolah selesai, anaknya diminta mengaji dengan harus menghafal beberapa surat dari Al Qu’an dan beberapa hadist. Tak pernah terbayangkan olehku, gadis sekecil itu harus bekerja keras menghafal tugas-tugasnya. Lalu kemanakah dunia kecilnya? Dunia dimana dia bisa bermain-main bebas tanpa beban tugas menghafal.

Atau ketika seorang sahabat yang selalu menanyakan buku bacaan apa yang cocok untuk buah hatinya. Bahkan ini sahabat sampai-sampai membelikan ensiklopedia buat buah hatinya hanya agar kedua belah hatinya punya hobi baca buku. Saat itu yang aku sarankan hanya membelikan buku yang memang cocok dengan umurnya saja. Kegemaran membaca akan datang dengan sendiri, saat anak tersebut mengetahui betapa nikmatnya membaca buku itu, bukan sebagai kegiatan yang dipaksakan oleh orang tuanya.

Kejadian kedua saat di bioskop, bener-bener ini yang membuatku terheran-heran. Apakah orang tua tersebut tidak memperhatikan bahwa film “Breaking Dawn” dikhususkan untuk orang dewasa? Kenapa ada juga orang tua yang membawa anak-anak dibawah umur untuk nonton film tersebut? Alhasil, anak-anak tersebut tidak dapat menikmati film tersebut, karena di beberapa bagian dari film tersebut, matanya ditutup oleh orang tuanya. Heran saja kenapa memilih film “Breaking Dawn” buat anak-anaknya. Kenapa tidak memilih film TinTin ya? Atau film lain yang memang dikhususkan untuk keluarga dan anak-anak.

Mungkin inilah yang orang cari, sebuah hasil tanpa harus melihat proses pembelajaran. Atau sebuah ambisi dari orang tua yang ingin anaknya terlihat hebat dan pintar? Entahlah.. Jadilah orang tua yang bijak dalam memperlakukan seorang anak. Mereka juga punya kehidupan yang tidak bisa diulang lagi. Masa kanak-kanak yang damai, indah dan berkesan janganlah digadaikan dengan sebuah obsesi dari orang tua.

7 thoughts on “Sebuah Refleksi Kehidupan

  1. Ortu-2 sekarang mungkin hrs kerja keras juga menghadapi kenyataan ketatnya persaingan termasuk di sekolah, yg mensyaratkan harus bisa “banyak”, bahkan mungkin ke depannya bhs China akan menjadi kurikulum baru.

    Salam

  2. Hi

    How are you? Finally, I can read your story again.. When will you return to eroupe dear? Please, come back again as soon as possible🙂

    nice story.. So lebih manusiawi pendidikan di mana?🙂

    1. Holaaaaa…

      I am fine and you?? yup, I did not write something for 2 month.. I lost my idea and I did not know what I have to write hehehe.. As soon as possible mas, I promisse I will be there again hehehe.. I miss europe very much and I can’t forget all about europe..

      tunggu aku di berlin ya.. jangan balik dulu sebelum aku datang hihihihi.. *maksa lah pokoknya hehehee*

  3. Mba, menurut mba Trias nih ya, gimana caranya buat anak senang belajar? Saya kenal salah satu anak kelas 2 SD. Anak ini hobi banget belajar. Beda banget sama saya.😀
    Saya aja waktu SD kerjaannya main sepeda mulu. Waktu SMP belajar cuma waktu Ulangan.😀

    Salam hangat,

    E. Kartins

  4. Pingback: Homepage

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s