Pelajaran dari sebuah tempe.

Tempe adalah makanan khas Indonesia dan hampir semua orang pasti menyukainya begitu juga denganku. Hampir setiap hari tempe dan tahu selalu terhidang di meja makan. Bahkan di penjaja gorengan di pinggir jalan pun dengan mudah kita dapat menemukan makanan ini.

Sekilas tidak ada istimewanya makanan ini, lha wong harganya juga murah dan mudah didapat. Ehm mudah didapat ya? Iya sih kalau di Indonesia tempe mah ada di mana-mana, di pasar tradisional, supermarket, di pinggir jalan dsb.

Hampir setahun rasanya aku tidak makan tempe, bertemu dengan tempe pun hanya beberapa kali. Pertama pada saat seorang teman datang ke Grenoble dengan memberikan tempenya, kedua saat aku ke Wageningen dan ketiga saat aku pulang dari Belanda. Hanya tiga kali ternyata aku makan tempe selama tinggal di Perancis.

Jika di bandingkan dengan Indonesia, aku susah sekali menemukan penjual tempe di Perancis (mungkin hampir sebagian kota di Perancis tidak ada penjual tempe). Walaupun jika kangen dengan makanan Indonesia, kami bisa pesan di toko online namun rasanya jangan ditanya deh. Pasti beda banget.

Apakah tempe hanya ada di Indonesia? Tentu saja tidak. Tempe ada juga di Eropa tapi tidak semua Negara di eropa mempunyai toko asia yang menjual tempe. Setahuku sih hampir di semua kota di Belanda mempunyai toko asia yang menjual tempe.

Sehingga tidak heran jika tempe adalah barang mewah buat kami para pelajar di eropa khususnya Perancis. Disini tempe menjadi mahal harganya. Bayangkan saja, jika aku ingin makan tempe aku harus ke Belanda. Ongkos ke sananya saja sekitar 140 euros untuk sekali jalan jika ditempuh dari Grenoble dengan menggunakan TGV ( 1 euros sama dengan Rp 12.000,00). Mahal ya harga tempenya. Makanya itu pas kemarin ke Belanda, saat ditanya pengen makan apa. Aku hanya bilang pengen makan tempe hehehe.

Dari kisah tempe inilah aku memetik sebuah pelajaran berharga, terkadang kita menganggap remeh sesuatu bahkan sering menganggap itu adalah barang biasa atau tidak berharga di suatu tempat. Namun ternyata barang atau benda tersebut akan sangat berguna dan mewah di tempat lain. Kita bisa mengejek-ejek hal-hal tertentu ataupun kenangan tertentu bahkan menganggap itu tidak penting untuk diingat. Namun ada kalanya kenangan itu akan sangat berharga buat seseorang.

Ya, cara memandang sesuatu tiap orang itu berbeda-beda. Cara memperlakukan sesuatu pun berbeda-beda. Dari situlah aku mulai mengerti, tidaklah pantas aku berfikir bahwa setiap orang mempunyai pandangan yang sama denganku. Kalaulah aku berfikir bahwa ini adalah hal terpenting dalam hidupku belum tentu hal itu menjadi penting juga dalam hidup orang lain. Buatku bisa jadi hal ini mewah namun buat orang lain hal itu bisa jadi adalah murah.

One thought on “Pelajaran dari sebuah tempe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s