Pérouges

 Sabtu kemarin, aku sempatin ikut jalan-jalan ke Pérouges, padahal lagi padat-padatnya dengan thesis dan exam. Tapi berhubung ingat nasehat tetehku untuk menyeimbangkan antara belajar dan jalan-jalan, makanya ide jalan-jalanpun diambil. Walau resikonya adalah harus belajar lebih rajin lagi setelah jalan-jalan. Harapan tinggal harapan, niat belajar tergantikan dengan mengedit foto-foto yang sangat banyak sekali di kameraku untuk aku publish secepatnya agar semua sahabat dan teman-temanku bisa melihat kota Pérouges yang sudah aku kunjungi.

Pérouges adalah kota di Timur Perancis, yang merupakan bagian dari Ain department. Kota ini terletak di timur laut dan berjarak 30 KM dari Lyon. Dari Grenoble tempat aku tinggal sekarang bisa ditempuh selama 1,5 jam naik bus.

Sepanjang perjalanan aku melihat ladang-ladang gandum dan peternakan-peternakan yang ada di sisi jalan tol. Disini aku lihat banyak sekali sapi dan kuda, serta beberapa alat-alat untuk menyiram tanaman yang sangat besar. Pemandangan ini mengingatkanku pada kakekku yang sudah meninggal tahun kemarin. Dulu sebelum berangkat ke Perancis dan saat beliau masih sehat, beliau pernah menanyakan padaku bagaimana sistem pertanian dan peternakan di Perancis. Bagaimana mereka bercocok tanam dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan beliau yang belum bisa aku jawab. Namun saat aku punya kesempatan untuk menceritakan banyak hal, beliau sudah dipanggil Allah tanpa aku ada disisinya.

Setibanyanya di kota Pérouges, kami langsung ke Office du tourisme untuk menunggu pemandu yang akan memandu kami selama keliling kota ini. sebenarnya kota ini adalah kota tua yang berada di atas bukit. Dikelilingi oleh tembok-tembok yang kuat dan tinggi. Kota ini merupakan kota abad pertengahan. Desa ini tidak mempunyai banyak barang-barang peninggalan tetapi kota ini sangat membanggakan bentuk rumahnya yang sangat tua. Selain itu kota ini juga menjadi tempat syuting beberapa film Perancis termasuk juga film “The Three Musketeers”.

 Saat pertama memasuki kota ini, langsung kita bertemu dengan Porte d’en Haut alias pintu gerbang. Tembok tinggi disekeliling kota ini terbuat dari batu-batuan yang besar. Pada abad kelima belas, penduduk Pérouges yang biasa disebut Pérougiens mengubah gereja mereka menjadi benteng. Di bawah menara gereja merupakan jalan keluar dari Pérouges. Melalui pintu lengkung ini, kita dapat melihat rumah Vernay dengan jendela-jendela pada lantai pertama dan pintu lengkung di lantai dasar.

 Pintu kedua Pérouges rusak selama pengepungan pada tahun 1468. Di atas pintu ini tertulis : “Perogia Perogiarum. Urbs imprenabilis. Coquinati Delphinati Voluront prehendere illam. Ast non potuerunt. Attamen importaverunt portas, gonos, cum serris et degringolaverunt cum illis. Biabolus importat illos!.” Yang artinya kurang lebih “Perouges of the Perougians,impregnable town, the Dauphiné scoundrels tried to take her but could not do so. However, they took the doors,the hinges and the locks and fell with them. Let the Devil take them!”

 Ditengah-tengah kota ini terdapat “Place du Tilleul”. “Place du Tilleul” terletak di akhir “Rue des Princes” dan dekat dengan “Ostellerie”. “Ostellerie” merupakan sebuah rumah yang letaknya dekat dengan museum.

Eglise Fortress atau gereja Fortress, terletak di pintu masuk kota ini, setelah pintu utama (“La Porte d’en Haut). Gereja ini dibangun pada abad kelimabelas dan dirusak oleh penduduk Pérouges dengan tujuan untuk membangun kembali benteng mereka. Gereja ini dibangun kembali pada tahun 1469 dan selesai 10 tahun kemudian. Selama pembangunan kembali, mereka merusak patung “Sainte Madeleine” yang terdapat dalam gereja tersebut. Di dalam gereja ini kita dapat melihat lukisan dinding pada kolom dan beberapa patung kayu di abad kelima belas.

 Setelah berkeliling kota kecil ini, akhirnya kami kelaparan dan mampirlah kami disebuah restaurant. Seperti yang bisa kalian lihat di foto, itulah menu makan siangku. Disini pertama kali disajikan makanan pembukanya adalah salad sayuran. Setelah habis baru deh menu utama dihidangkan. Dimana menu utama kali ini adalah ikan dan kentang rebus. O iya disini tradisinya adalah kita harus menunggu teman kita yang belum habis makan menu pembuka menghabiskan makanan tersebut. Setelah semua orang selesai makan, maka makanan utama segera dihidangkan. Begitu juga setelah semua orang selesai makan makanan utama, makanan penutup segera dihidangkan. Makanan special dari Pérouges adalah “Galettes de Pérouges”, rasanya manis banget. Makanya aku tidak habis hehehe..

Setelah makan, perjalanan dilanjutkan ke Museum. Karena ke museum tidak bersama pemandu kami yang bernama Mlle. Katty, maka kami sempat tersesat dan muter-muter tidak jelas gitu. Namun setelah bertanya-tanya sama beberapa orang akhirnya kami bisa menemukan museum tersebut. Tidak ada yang menarik dari museum ini, karena hanya berisi barang-barang peninggalan yang biasa saja. Seperti Injil jaman dahulu, koin mata uang jaman dulu, foto-foto mengenai kota Pérouges dari masa ke masa, kursi, meja dll.

 Rasa kecewa akan museum ini ternyata terobati oleh sebuah tempat kecil diatas museum ini. Di sinilah kita bisa melihat Pérouges dari atas. Keren banget lah, seperti bayanganku saat aku membaca buku-buku ceritaku saat aku kecil dulu. O iya, di museum ini ada juga tamannya. Bentuknya kaya circle key tapi bukan circle key.

Setelah dari museum ini, kami punya waktu bebas selama kurang lebih 2 jam. Sekali lagi aku mengelilingi kota ini, dan diujung jalan aku bertemu orang-orang yang memakai kostum tradisional. Akhirnya aku sempatin foto sama mereka. Habis lucu sih kostumnya. Selain itu aku juga foto dengan pelayan restaurant yang memakai baju yang unik menurutku.

 Tidak terasa waktu berjalan dengan cepatnya. Setelah merasa puas keliling kota tersebut, akhirnya aku berkesempatan mencari souvenir dari kota ini. Dua buah hiasan magnet buat ditempel di kulkas, hiasan di meja  dan gantungan kunci menjadi pilihanku. Tidak lupa aku membeli 6 kartu pos buat sahabat-sahabatku. Satu dikirim ke Montpelier buat ombil, satu buah dikirim ke Adeliade buat tetehku yang imut biar ga malas bikin proposal dan empat buah dikirim ke Indonesia.

Sejak aku tinggal di Perancis, hobiku semakin bertambah. Dari dulu yang awalnya hanya suka membaca, menulis, travelling, dengerin music. Kini bertambah menjadi suka mengirim kartu pos, photography, masak, dan ngisengin orang hehehe. Mengirim kartu pos adalah wajib buatku, karena hanya dengan ini aku bisa membalas kebaikan mereka. Tanpa bantuan mereka mungkin aku tidak ada disini.

Setelah puas dengan berkeliling kota Pérouges ini, akhirnya jam 17h30 kami beranjak meninggalkan kota tua itu untuk kembali ke Grenoble. Ya, masa-masa menghilangkan penat selama seminggu ini bisa sedikit terobati. Kini saatnya kembali ke kehidupan nyata alias kehidupan laboratorium – residence bersama om crimson dan om castem. Tapi lumayan lah, seminggu kedepan hanya running program saja tanpa harus menulis kode-kode numeric yang melelahkan hehehe..

Grenoble, 17 April 2011

Akhirnya bisa menulis lagi setelah stuck tidak tahu mau nulis apa..

4 thoughts on “Pérouges

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s