Sosial versus Eksak

Apa yang ada dipikiran kalian mengenai bidang social atau eksak? Lalu bagaimana dengan penelitian social dan penelitian eksak? Adakah yang lebih unggul menurut kalian?

Wah awal-awal udah diberi pertanyaan ya, tapi tidak berat kan hehehe.. Yup, semalam ada seorang teman yang mengatakan bahwa penelitian ilmu sosial diremehkan di Indonesia alias tidak dianggap. Karena bidang sosial adalah bidang yang minoritas dibandingkan bidang eksak. Ehm begitukah?

Ko aku punya pandangan berbeda ya. Kalau ilmu sosial tidak dianggap, khususnya di bidang sosial, lalu anak-anak Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (Puslit IPSK-LIPI) tidak mempunyai lahan penelitian dong. Lalu Ibu Dewi Fortuna Anwar dan bapak Ikrar Nusa Bakti tidak mempunyai kesempatan membuat paper. Itu pertanyaan yang terlintas dibenakku saat itu. Tanpa sadar pikiranku melayang pada keduabelas kakak-kakakku yang anak Ilmu Pemerintahan UGM angkatan 1996, 1997 dan 1998 (kalau ga salah ya). Kedua belas kakak yang telah mengajarkanku banyak hal. Kedua belas kakak yang mampu membuatku bisa bermimpi ke eropa hehe. Kedua belas kakak-kakakku yang bisa berhasil membuktikan bahwa kuliah di sosialpun ada harapan hidup ko.

Ibu Dewi Fortuna Anwar, bapak Ikrar Nusa Bakti dan kedua belas kakak-kakakku adalah orang-orang sosial yang sangat aku kagumi dan menjadi panutan buatku. Kenapa bisa begitu?? Ok, aku jelaskan satu-persatu.

Ibu Dewi Fortuna Anwar, adalah seorang professor riset dan deputi di Kedeputian Ilmu Pengetahuan dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI), direktur kegiatan dan penelitian pada Habibi Center, anggota Dewan Penasehat CIDES (Center for information and Development Studies), asisten wakil Presiden bidang Hubungan International (Mei-Juli 1998), Asisten Menteri/Sekretaris Negara Bidang Hubungan Luar Negeri (Agustus 1998 – November 1999), selama pemerintahan Habibie, peneliti tamu pada the Institute of Southeast Asian Studies di Singapura (1989) ; anggota Kongres pada the US Congress di Washington D.C. (1990-1991) anggota Dewan Penasehat PBB tentang Perlucutan Senjata, anggota the International Council, the Asia Society, New York, anggota of the Weapons of Mass Destruction Commission (WMDC), Stockholm, anggota the International Advisory Board of the Asia-Pacific College of Diplomacy, ANU, Australia dan anggota the International Institute for Strategic Studies IISS (London),  Profesor tamu C.V. Starr pada Southeast Asian Studies di the SAIS (Johns Hopkins University) , Washington DC (January – May 2007). Banyak ya prestasi beliau.

Lalu siapakah bapak Ikrar Nusa Bakti itu? Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti, adalah mantan Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI). Pendapat beliau banyak kita jumpai di Koran-koran nasional. Silakan saja check di google hehe.

Lalu siapakah kedua belas anak IP UGM itu?? Mereka adalah teman-temannya masku. Kenapa aku kagum sama mereka? Ya jelas lah. Siapa sih yang tidak tahu jurusan ilmu pemerintahan UGM? Namanya mungkin tidak seterkenal jurusan Hubungan International, Komunikasi dll. Namun ternyata mahasiswanya hebat-hebat lho. Tidak minder dengan jurusan mereka. Bahkan setahuku, saat ini mereka mendirikan sebuah LSM di Yogya, dan tentu saja bekerja di bidang penelitian sosial. Kedua belas orang ini sebagian besar sudah bergelar S2, kalau yang belum ya sedang melanjutkan S2nya lah. Dengan bidang sosial yang menjadi pilihan mereka, sepertinya tidak pernah aku mendengar kalau mereka mengatakan bahwa ilmu mereka minoritas, tidak diterima di masyarakat atau membandingkan ilmu mereka dengan ilmu eksak. Yang aku tahu malah mereka sangat eksis sekali di bidangnya, bahkan ada yang sudah publish paper di jurnal atau menjadi pembicara di seminar.

Minoritas, kenapa menjadi perdebatan dan menjadi alasan untuk tidak bisa maju ya. Dulu senior peneliti di LIPI mengatakan padaku jika ingin menjadi peneliti yang keren, jadilah peneliti di mana tidak banyak peneliti yang berkecimpung di situ, alias jadilah peneliti minoritas. Karena dengan menjadi peneliti minoritas kita mampu bereksplor banyak hal. Ya intinya saingannya masih sedikit gitu.

Itulah salah satu alasan kenapa aku memilih kuliah di Grenoble dan riset tentang numerical modeling di sini. Alasannya simple, setahuku masih sedikit peneliti di Indonesia yang menggunakan numeric dalam penelitian mereka. Maklumlah kebanyakan masih pada suka eksperimen sih, walau biayanya lebih mahal dibandingkan penelitian yang menggabungkan numeric dan eksperiment.

Menurutku, mau bidang sosial, eksak, minoritas atau mayoritas, suatu keberhasilan tergantung orangnya lah. Tuh, ada pak Ikrar atau bu Dewi, yang menurut  masyarakat ilmu sosial tidak memberikan harapan. Eh ternyata mereka bisa terkenal dan mempunyai jabatan penting.

Kalau diri kita sendiri meremehkan kemampuan dan ilmu kita, bagaimana orang bisa menghargai diri kita dan ilmu yang kita miliki. Indonesia tidak hanya membutuhkan peneliti-peneliti bidang eksak saja, namun peneliti-peneliti bidang sosial juga dibutuhkan. Hanya saja semuanya balik ke pribadi masing-masing, jadi jangan salahkan pandangan masyarakat atau ilmu itu sendiri.

 

Dedicated to all my brothers in Indonesia, khususnya anak-anak IP UGM 1996 ( mas Joko, mas ucuk, mas nanang, mas achong dkk), terimakasih banyak.

Grenoble, 19 Februari 2011

 

2 thoughts on “Sosial versus Eksak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s