Lelah

Tak terasa waktu sudah berjalan sangat cepat. Rasanya baru kemarin memulai kuliah, tapi ko udah ujian ya. Ujian dan tugas adalah salah satu kewajiban yang harus kita kerjakan saat kita sekolah. Hanya dengan itulah kita bisa naik kelas ataupun mendapat gelar yang kita mau. Namun pernahkah terpikir oleh kita perjalanan panjang yang kita lalui untuk melewati ujian itu mampu membuat kita stress, sensitif dan terkadang membuat kita marah-marah tidak jelas atau bahkan mendadak badan kita merasa demam.

Sejak memutuskan kuliah di negerinya Napoleon, kehidupanku berubah 180 derajat dari biasanya. Tentu saja berubah, karena aku sudah keluar dari comfort zone ku di Indonesia. Yang biasanya bisa bangun siang, terus berangkat ke kantor sesukanya. Sampai kantor kalau ga ada kerjaan, bisa download, chatting, facebookan, ngisengin orang, bahkan bisa bolos kalau ga ketahuan. Ga ada yang marahin dan ga ada beban yang harus aku pikul serta tidak ada deadline yang mampu membuatku pusing. Kecuali kalau ada pemeriksaan ya, kadang itu juga yang bisa bikin pusing hehehe. Namun kini, semua berjalan begitu cepat. Belum selesai yang satu, sudah datang beban yang lain. Beban itu silih berganti datang dan pergi, tak membiarkanku sedetikpun untuk bernafas.

Rasa lelah sudah menghingapi otak kecilku. Kapasitas otak yang aku miliki ternyata tidak mampu menampung semua pengetahuan yang aku peroleh di Eropa. Hingga akhirnya, semua isi di otakku berasa tumpah dan tidak bisa menyerap hal-hal baru lagi. Padahal aku masih membutuhkan otakku untuk menghadapi ujian dan tugas-tugas yang menghadangku saat ini. Ditambah lagi dengan datangnya musim dingin yang lebih cepat dari biasanya, telah mampu menambah kebekuan di otakku.

Ya otakku kali ini sudah lelah dan beku. Tidak bisa diajak lagi berfikir kritis seperti dulu. Terbukti di ujian pertamaku, sanggup membuatku duduk lesu dan putus asa. Tidak ada satupun pertanyaan di soal ujian kemarin mampu aku jawab dengan benar. Padahal sebelum masuk ruang ujian, hampir semua rumus deformasi sudah hafal. Namun saat memandang soal-soal tersebut dan berusaha menjawabnya, tiba-tiba saja otakku tidak bisa berfikir jernih. Tanganku mulai kaku dan aku sama sekali ga bisa berfikir.

Satu setengah jam aku duduk tanpa bisa berfikir, hanya mampu berdoa dan meminta bantuan Allah untuk mencairkan kebekuan di otakku. Perlahan-lahan otakku mau berfikir, walau sesekali  dia ngambek dan tidak mau berfikir lagi. Hati kecilku berusaha untuk membujuk otakku untuk mau bekerja lagi, namun otakku malah berkata bahwa ujian ini bukan final exam, jadi ada kesempatan memperbaikinya di final exam. Hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, dan berusaha mengingat kembali konsep-konsep deformasi untuk menjawab ujian itu. Di detik-detik terakhir otakku akhirnya mau berfikir dan membantuku menyelesaikan ujian kemarin, walaupun aku tahu hasilnya tidak sesempurna yang aku inginkan.

Sejak kejadian itu, badanku tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku gagal di ujian pertamaku. Mulailah hati kecilku menyalahkan diriku, dan pelan-pelan badanku mulai protes dengan diriku. Suhu yang terkadang bisa mencapai minus 10 derajat dan kadang bisa sampai 7 derajat, ternyata malah semakin membuat badanku tidak nyaman. Akhirnya demam itu menghingapi diriku di hari Senin kemarin.

Ya, seiring mencairnya salju dan diiringi dengan harus kuliah pagi jam 8 pagi serta mendapati ruangan yang tidak sehangat biasanya. Ternyata menambah meningkatnya suhu di tubuhku. Perlahan-lahan karena tidak mau sakit, aku putuskan makan apapun yang ada di kamarku walaupun di mulutku rasanya pahit. Meminum obat yang aku bawa dari Indonesia, memaksaku untuk minum susu hangat setiap saat, ngemil coklat serta makanan yang berbau coklat serta istirahat yang cukup, dengan tidak lagi begadang seperti yang biasa aku lakukan.

Namun ternyata semua itu tidak berhasil, otakku masih beku dan demamku terkadang masih menghampiriku disaat aku mencoba membaca beberapa literature yang menunjang kuliahku. Hingga tadi sore sebuah perbincangan kecil antara hati kecilku dan otakku telah menyadarkanku akan satu hal. “otakku capek dan lelah, serta membutuhkan istirahat barang sebentar”. Otak dan badanku ternyata tidak kuat untuk berlari mengejar ketertinggalan yang aku hadapi saat ini. Mereka butuh liburan sejenak, untuk bisa berlari lagi.

Aku bahkan sempat berfikir, kenapa banyak orang yang ingin kuliah lagi ya? Padahal dengan kuliah lagi, itu artinya kita menantang sebuah ketidakpastian dan hambatan. Buatku sebuah ketidakpastian itu adalah sesuatu yang unik dan menantang. Walau terkadang ketidakpastian itu membuatku sedih, putus asa bahkan terkadang bisa membuatku harus jatuh berkali-kali. Tetapi anehnya aku menyukai ketidakpastian ini.

Sama seperti saat ini, disaat ketidakpastian nilai yang akan aku peroleh di akhir semester nanti dan ketidakpastian aku lulus di program master ini, ternyata tidak membuatku kapok untuk tetap berlari dan berlari. Hanya otak dan badanku yang mampu menghentikan kemauanku berlari. Di saat otak dan badanku protes karena tidak tahan dengan kemauanku, maka aku harus mengalah dan menuruti mereka.

Eropa dengan sejuta keindahannya telah mampu mengajakku berlari dan berlari mengejar mimpi-mimpi ini. Mimpi-mimpi untuk melihat kota-kota yang tertulis di buku Edensor serta menaklukan ilmu-ilmu di sini.

Tiga hari ini akan aku bebaskan otak dan badanku melakukan hal-hal yang mereka inginkan. Mulai dari menonton film, blogwalking, ngisengin om ku, baca lagi buku Edensor, komen di FB teman-temanku sampai bergosip hal-hal yang tidak penting. Semoga saja tiga hari ke depan, kebekuan di otakku akan mencair dan deman yang kurasakan akan secepatnya hilang.

 

Grenoble, 9 December 2010,

*trias yang lagi berdamai dengan otak dan badannya yang mulai memberontak*

4 thoughts on “Lelah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s