Selamat Jalan kakek

Dua bulan yang lalu, masih kutemukan wajah tua renta itu di Jogja. Wajah yang masih ceria dan bersemangat saat aku datangi di rumahnya. Walau badannya sudah kurus kering namun masih suka menanyakan soal pertanian padaku. Saat itu beberapa pertanyaan beliau belum bisa aku jawab, dan aku berjanji setahun lagi akan menjawab pertanyaan beliau itu. Namun ternyata belum ada setahun, aku tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang beliau lontarkan padaku.

Dua bulan yang lalu, kakekku menanyakan bagaiman kondisi pertanian di Perancis. Penduduk di sana bertani apa beternak. Kalau bertani, menanam apa. Trus irigasinya bagaimana. Itulah sekelumit pertanyaan-pertanyaan yang kakekku lontarkan padaku saat aku menjenguk beliau.

Sebulan kemudian, saat aku balik ke Jogja, belum sempat aku nemuin beliau hanya karena malas-malasan toh nanti bisa ketemu kapan-kapan dan karena masih ingin bersama orang tuaku, tiba-tiba di kejutkan dengan sebuah berita bahwa kakekku sakit, tidak sadarkan diri. Di malam ramadhan pertama, akhirnya kami semua melewatinya di Rumah Sakit.

Ada rasa menyesal, karena tidak sempat bertemu kakek dalam kondisi sadar. Hanya menemukan beliau pada saat tidak sadarkan diri. Berminggu-minggu kami bergantian menjaganya. Menghabiskan waktu di rumah sakit. Membacakan doa agar sakit beliau diperingan, terbesit keinginan di hatiku jika Allah ingin memanggilnya, ijinkan aku bisa ada disampingnya dan jika tidak, ijinkan beliau sehat.

Hari demi hari, ada perubahan baik atas kesehatannya, walaupun akhirnya di diagnosis oleh dokter bahwa kakek terkena stroke. Bisa mendengar tapi tidak bisa bicara. Hari sabtu sore, dua hari menjelang keberangkatanku, aku sempatin ke rumah sakit untuk pamitan. Dengan sedikit menahan tanggis, aku bilang ke beliau bahwa senin siang aku berangkat ke Perancis, meminta doa dan restu dari beliau agar perjalanan dan sekolahku nanti lancar. Beliau memegang tanganku erat sekali seakan tidak mau melepaskan tanganku, dan terlihat sedikit air mata di mata belau. Jujur sedih banget melihat beliau seperti itu. Seraya menghibur beliau, aku bilang tahun depan pulang dan akan merayakan lebaran bersama beliau lagi. Bahkan sempat aku suapin beberapa makanan di mulutnya.

Ternyata sore itu, kakek diijinkan pulang ke rumah. Alhamdulilah, sebelum aku berangkat, kakek bisa ada di rumah lagi bersama keluarga besarnya. Ketika tiba di rumah pun, tanganku masih beliau pegang erat seraya mengguman mengucapkan sesuatu. Yang aku yakinin itu adalah nasehat-nasehat yang ingin beliau katakana padaku. Namun aku tidak jelas mendengar nasehat apakah itu. Hanya menduga-duga saja. Hanya anggukkan kepala saja yang aku lakukan, agar kakekku senang.

Hari minggu, satu hari sebelum keberangkatanku, aku sempatin datang ke sana. Kali ini beda perlakuannya. Kakekku hanya memandangku saja tanpa ekspresi. Entahlah apa yang ada dipikirannya kala itu.

Tadi siang, sekitar jam 14h00 waktu Perancis, aku mendapat message dari salah satu keponakanku bahwa kakek meninggal. Kaget mendengarnya, sempat merasa tidak percaya dan sedikit panic. Ingin menanyakan kabar tersebut sama kakakku atau ibuku, namun pulsa simpatiku dan pulsa no perancisku tidak cukup untuk mengirim sms ke Indonesia. Akhirnya mencoba menghubungi beberapa teman yang terlihat online di YM dan FB. Meminta bantuan untuk mengirimkan pulsa simpati ke no HP ku. Walau ada beberapa yang bisa dihubungin, namun memang belum jalannya, ada saja penghalangnya. Alhamdulilah ada salah satu teman yang terlihat invisible dan aku coba mengetuk YM nya, meminta bantuan buat mencarikan pulsa. Seorang sahabat yang aku repotin untuk mencarikan pulsa yang sangat berarti buat ku. Maaf udah ngerepotin malam-malam begini. Setelah pulsa aku terima, segera aku kirimkan sms ke kakakku dan orang tuaku, menanyakan kabar itu. Dan ternyata benar, kakek meninggal jam 18h00 waktu Indonesia setelah dibacakan surat yassin.

Mulailah penyesalan itu kembali hadir. Menyesal tidak menemui beliau secepatnya ketika sampai di Jogja kemarin, menyesal belum bisa menjawab pertanyaan beliau, menyesal tidak menemani hari-hari terakhir beliau.

Hanya sebuah doa yang bisa aku lakukan disini untuk mengiringi kepergian beliau. Semoga Amal ibadahnya di terima Allah. Selamat Jalan kakekku. insyaAllah nanti saat aku pulang, akan aku jawab pertanyaan kakek di pusaran kakek. Walau hanya bisa melihat pusaran kakek, namun doa ini akan selalu menemani kakek di alam sana.

 

Grenoble, 15 September 2010…

2 thoughts on “Selamat Jalan kakek

  1. Innalilahi wa inalilahi niroji’un.. dear, are you okay? let me know if you need something.. open ur skype, and we can talk now.

  2. thanks.. i am ok.. i know it will happend but i wish i can see him after i get my master. i think this is the best way for him. just want go home to see him for the last, but i can’t do it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s