My first Idul Fitri in Grenoble

Untuk pertama kalinya, aku merayakan lebaran di sebuah kota kecil di Perancis yang jauh sekali dari negeri tempat aku dilahirkan. Sebuah kota yang sejauh mata memandang hanya melihat hamparan gunung dan pegunungan. Kota kecil yang sepi dari hiruk pikuk dunia, namun cocok buat belajar. Ga ada godaan yang aneh-aneh hehe..

Hari itu, Jum’at 10 September 2010 jam 5h30 waktu perancis (jam 10h30 waktu Indonesia barat), aku terjaga dari tidurku. Saat itu aku terbangun gara-gara alarmku teriak-teriak membangunkanku untuk sholat subuh, tak kusadari sedikitpun bahwa hari itu adalah lebaran. Sempat kaget karena mikir lupa sahur dan masih berpikir bahwa hari itu harus puasa. Namun saat aku melihat note di dekat laptopku, aku baru sadar bahwa hari ini ada janji dengan Mas Al dan keluarga di Chavant untuk pergi sholat Id.

Dengan tergesa-gesa, secepat kilat mempersiapkan diri untuk menunaikan sholat Id di sebuah tempat dekat Grand Palace. Tempat berkumpulnya semua orang Islam di Grenoble. Tiada terdengar takbir disetiap jalan menuju ke sana. Dengan menaiki tram C dari Hector Berlioz menuju Chavant dan kemudian lanjut menggunakan tram A menuju Alpexpo.

Sesampai di Alpexpo, wow sedikit terkejut. Secara Grenoble adalah kota kecil, namun warga muslimnya banyak sekali. Kata mas Al sih hampir 10% penduduk sini adalah muslim, namun sayang disini tidak mempunyai masjid. Kami pun sholat di sebuah gedung yang tidak ada kubah masjidnya.

Disini rata-rata wanitanya memakai gamis saat mau menunaikan sholat Id. Jadi pada saat sholat mereka tidak memakai mukena seperti yang biasa kita pakai. Kata mbak yessi, hanya orang Indonesia dan Malaysia yang memakai mukena saat sholat. Jadi berasa asing nih karena aku memakai mukena sedangkan yang lain tidak. Sempat aku ditanyain sama yang ngurus jamah wanita, berasal dari mana aku ini. saat aku jawab Indonesia, dia hanya melemparkan senyum indahnya.

O iya, ada yang beda dengan Indonesia, saat aku datang ketempat ini. Di sini sebelum sholat, ada berbagai macam makanan kecil, susu, kacang, kue, kurma dan air dingin yang disediakan untuk kita. Jadi sebelum kita sholat kita bisa ambil makanan kecil itu sepuasnya. Dan di pintu masuk, ada yang membagi-bagikan plastik buat tempat sepatu kita. Kemudian, tempatnya juga sudah diberi tikar dan sajadah banyak banget. Jadi kita ga perlu bawa Koran ataupun tiker lagi saat datang ke sana.

Lebaran kali ini sangat berkesan buatku, walau jauh dari keluarga namun masih saja kunikmati indahnya Idul fitri. Setelah pulang dari sholat Id, aku menghabiskan waktuku di sebuah keluarga Indonesia disini. Main-main sama Sabita, ngobrol sama mas Al dan mbak yessi, berbagi pengalaman dengan mereka dan tentu saja makan lontong, sayur buncis yang dikin opor, balado kentang, ayam, semangka, dan buah yang tidak ku kenal namanya hehe.

Pulangnya, aku jalan kaki, menikmati dinginnya suasana sore di Saint Martin D’heres. Ternyata aku bisa melewati lebaran kali ini tanpa rasa sedih yang begitu dalam. Walau ada sedikit kesedihan tidak bisa berkumpul dengan keluarga besar di Jogja, kangen opor ayam masakan ibu, kangen suasana sungkeman, kangen dengar suara takbiran, kangen denger suara bedug, kangen denger suara mercon, tapi itu sebuah konsekwensi yang harus aku bayar dari sebuah pilihan. Sebuah harga yang mahal untuk sebuah mimpi kecil.

Selamat Lebaran, Minal Aizin Wal Waidzin, Maaf Lahir dan Bathin Atas semua kesalahan..

Grenoble, 11 September 2010

4 thoughts on “My first Idul Fitri in Grenoble

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s