Tidak berarti lagikah uang Rp 200,00?

Menurut kalian apa artinya uang Rp 200,00? Apakah uang itu berharga ataukah memang sudah tidak ada nilainya lagi?

Siang itu, aku dengan beberapa teman makan siang disebuah tempat dekat CCF. Disitulah aku menemukan sebuah pengalaman berharga, sebuah pertanyaan yang sampai saat ini belum mampu aku jawab dan cerna dengan baik. Pengalaman yang membuatku bertanya-tanya, ada apa dengan orang-orang Jakarta?

Siang itu, mbak Dina, mbak Maya, mas Wisnu dan aku, makan soto di dekat jembatan penyeberangan UI. Saat kami menikmati makan siang dengan lahapnya, karena memang lagi kelaparan, datanglah 2 orang pengamen. Satu orang memainkan gitarnya dan satunya lagi menyanyi.

Mereka menyanyikan beberapa lagu yang ga enak di dengar (yaiyalah secara mereka nyanyinya asal-asalan), tapi bukan itu yang mengangguku. Namun sikap mereka yang memaksa kami untuk memberi mereka uang. Saat itu berhubung mbak Dina ga bawa uang recehan, dia bertanya padaku adakah uang recehan. Aku sih bilangnya hanya ada Rp 200,00. Mbak Dina menerima uang itu dan memberikan uangnya sama kedua pengamen. Kami kira mereka akan segera pergi. Ternyata dugaan kami salah.

Salah seorang pengamen menaruh kantong plastic berisi uang di hadapan sekumpulan cewek-cewek yang sedang makan di sebelah kami. Gatahu apakah dikasih atau tidak sama cewek-cewek itu. Sepertinya sih dicuekin, karena pengamen itu beralih mendekati mbak maya. Tapi sama mbak Maya malah dicuekin. Gatahu salah satu pengamen itu bilang apa, tiba-tiba dia beralih di belakang mbak Dina dan aku. Saat dia menaruh kantong plastic itu, reflek aku bilang, “kan sudah dikasih”. Kaget banget sangat dengar jawaban mereka, “hanya Rp 200,00 aja, nih aku balikin (sambil membalikin uang yang dikasih mbak Dina tadi)”. Lalu mereka pergi dengan muka yang sangat menyebalkan.

Saat itu aku heran, mereka mencari uang untuk sesuap nasi tapi saat diberi sedikit mereka sok jual mahal. Berlagak ga perlu dan mengumpat ke orang-orang yang tidak memberi mereka uang. Miskin aja dah sok gaya dan sombong apalagi kalau dah kaya ya. Walau hanya Rp 200,00 tapi itu kan rizki. Kenapa harus ditolak? Nyanyinya juga asal-asalan ko minta lebih.

Bukan mau menghakimi sikap mereka, hanya saja kenapa mereka yang usianya masih muda tidak bekerja yang lebih baik lagi dari pengamen. Walau pekerjaan pengamen tidak sepenuhnya jelek, namun selagi masih dikarunia badan yang kuat dan sehat, bisalah mencari pekerjaan lain.

Mungkin memang benar kata temanku, uang Rp 200,00 sudah tidak berharga lagi, namun kalau menolak rejeki juga tidak baik. Apapun itu semoga kedua pengamen tersebut diberi hidayah sama Allah untuk merubah sikap mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s