Pengalaman Membuat Rencana Penelitian

Pernah mengalami menulis skripsi, thesis atau research project? Pasti semua orang pernah mengalaminya. Bagaimana pusingnya mencari data-data, jurnal, paper, atau buku-buku yang ada hubungannya dengan penelitian kita. Terkadang topic penelitian kita itu belum pernah kita pelajari di bangku kuliah, ataupun kalau sudah hanya sekilas saja. Namun apakah itu membuat kita mundur atau tetap mengambil topic tersebut. Menurut Anda, apa yang akan Anda lakukan saat anda diminta membuat thesis yang Anda yakini belum pernah dipelajari di bangku kuliah.

Satu setengah tahun yang lalu, aku pernah mengalami kondisi dimana diharuskan menulis sebuah research projet buat apply BGF 2009, ditambah aku belum pernah membuat sebuah rencana penelitian yang benar-benar aku tidak menguasai bahan dan topiknya, bahkan bisa dibilang aku belum pernah belajar mengenai itu. Sebuah keputusan gila yang aku buat saat itu, memilih salah satu topic penelitian yang tidak familiar dan belum pernah aku lakukan. Hanya dengan modal nekad dan keyakinan bahwa aku bisa membuatnya, toh aku masih bisa mencari referensi di internet (pikirku saat itu).

Entah kenapa, saat itu hati kecilku menuntunku pada salah satu topic yang yang ditawarkan professorku. Dan aku gatahu juga kenapa aku memilih topic itu, topic yang tidak wajar menurutku. Sebuah topic yang penuh dengan angka-angka, rumus-rumus, integral dan hitungan. Topic penelitian yang belum pernah dilakukan di Indonesia, topic yang menggabungkan 2 metode untuk memprediksi keretakan pada struktur beton.

Pengalaman yang membuatku belajar lagi mengenai FEM (Finite Element Methode), sampai integral dan matriks.  Sebuah pelajaran yang dulu sempat aku pertanyaan, kenapa harus ada mata kuliah Elemen Hingga, dan matrik. Toh di dunia teknik sipilan, jarang sekali method itu digunakan dalam lingkungan proyek. Namun sekarang aku harus bergelut dengan hal-hal yang berurusan dengan angka-angka dan rumus-rumus itu.

Berpuluh-puluh jurnal dan paper aku cari dan download. Dengan terbatasnya jurnal yang dimiliki LIPI, kadang membuatku meminta bantuan teman-temanku dan kakakku yang kebetulan sedang kuliah di luar negeri untuk mencarikannya. Dengan berbekal judul paper dan jurnal itulah mereka mencarikan apa yang aku perlukan. Bermalam-malam membacanya, hingga terkadang lupa waktu bahwa besok harus kerja, dan berhasil membuatku bergadang. Dan hal itu aku lakukan selama 2 bulan (perjalanan yang sangat panjang).

Tentu saja, selain aku berkonsultasi dengan jurnal-jurnal, aku tetap berkomunikasi dengan professorku, bertanya pada beliau tentang hal-hal yang tidak aku ketahui dan tidak jelas, sambil memberikan usul mengenai metode yang akan aku gunakan nanti. Pernah pula melakukan tindakan bodoh, dengan sok tahu mengusulkan menggunakan metode yang memakai program computer. Ya jelas saja professorku minta aku baca lagi paper-paper yang sudah beliau kirimkan, lha penelitianku saja ga perlu menggunakan program computer ko aku ngusulin pakai. Baru sadar setelah aku baca-baca lagi hehe.. Namun tidak membuatku patah arang, malah membuatku tertantang untuk menyelesaikannya. Setelah 2 bulan diskusi dan membaca beberapa paper, aku putuskan membuat rencana penelitianku semampuku dan meminta professorku memeriksa sebelum dikirim ke SCAC beserta aplikasi beasiswaku. Selama seminggu aku tidak pergi kemana-mana, mengobrak-abrik paper, kemudian menggabungkan metode-metode yang akan aku gunakan, akhirnya aku kirimkan rencana penelitianku itu ke Perancis. Tidak membutuhkan waktu lama professorku memeriksanya, dalam waktu tidak ada 2 jam, sudah ada balasan dari professorku. Ternyata beliau tidak mengubah satupun metode yang aku tawarkan, beliau hanya menghapus beberapa metode yang tidak perlu aku pakai dan menambahkan beberapa kalimat di pendahuluan. Gara-gara itulah aku yakin bahwa aku mampu menyelesaikan penelitianku ini nanti, apapun halangannya. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, sebelum kita mencobanya.

Hal yang sama terjadi pada salah satu sahabatku yang sedang menyusun thesis masternya, sebuah keputusan yang membuatnya harus belajar dari awal lagi. Awalnya dia berpikir bahwa penelitian ini lumayan pelik dengan kondisi dia saat ini, harus banyak belajar terutama ilmu dasar, gen moleculer dll. Namun karena dia sudah memilih topic itu, dia harus menyakinkan dirinya, berdoa dan berusaha bahwa segala sesuatu bisa dipelajari. Tidak perlu takut dengan hal-hal buruk yang akan terjadi pada penelitiannya nanti. Toh dia masih bisa berdiskusi dengan pembimbingnya (secara langsung pula hehe).

Hal itu terjadi juga pada seorang kakak yang sedang menyelesaikan S3 di German. Tingkat kestressan yang tinggi gara-gara presentasi draft doctoralnya selama 4 jam (gila aja ya 4 jam oi, bahas apa aja ya hehe). Hingga membuat kakakku ini tidak bisa berkata apa-apa lagi, dengan penelitian mengenai biomolekuler yang rumit itu, tidak bisa aku bayangkan kondisi kakakku dalam ruangan itu. Empat jam dengan beberapa dosen dan peneliti, dicerca banyak pertanyaan, dan harus jawab dengan bahasa Inggris. Teringat kata-katanya dimana dia tidak bisa mempertahankan pendapatnya gara-gara kehabisan kosa kata, mana ditambah saat pulang dari kampus dia salah naik bus sampai 3 kali. Gara-gara diotaknya sudah tidak bisa berpikir.

Begitulah pengalaman kami dalam mengapai mimpi kami, mimpi mendapatkan ilmu yang bisa bermanfaat buat semua orang. Mungkin diantara kami terkadang egois, tidak mau memperlihatkan research project kami pada beberapa orang. Bukan karena kami pelit, namun kami pun harus kerja keras untuk membuat sebuah rencana penelitian. Bisa dibayangkan, jika aku tidak mendapatkan beasiswa BGF 2009 sedangkan rencana penelitianku sudah matang, bisa saja aku bakalan putus asa walau ada kemungkinan professorku akan mengusahakan aku mendapat beasiswa lainnya. Tidak ada yang gratis di dunia ini, semua yang kita peroleh pasti dengan usaha dan kerja keras.

Thanks buat sahabatku di Aussi dan kakakku di German.. thanks atas sharing pengalamannya di YM. Sukses semuanya ya..

4 thoughts on “Pengalaman Membuat Rencana Penelitian

  1. hi, salam kenal

    salah satu yg membuat sy semangat utk apply BGF tahun ini adalah setelah membaca artikel2 di blog Tyas

    baru saja kemarin sy kirim aplikasi, saya pilih master yang course, jadi tidak pake research proposal, malah saya kira Tyas mau ambil yang doktoral karena udah buat research proposal

    alhamdulillah sy jg sudah dapat acceptance letter dr univ di sana. do’akan saya yah mengenai BGF ini😀

    1. Halo Beta..

      Salam kenal juga..

      Tahun kemarin emang diminta research proposal buat master dan doctoralnya, makanya itu aku buat research proposalnya.. Tahun ini beruntung tuh, ga disuruh buat🙂

      Bon courage ya..

    1. Salam kenal tedy..

      Yoi, selamat mencoba ya.. InsyaAllah bisa, coba aja, perkara hasilnya serahkan sama Allah.. masih di Indonesia, insyaAllah berangkat akhir bulan ini.. Bon courage ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s