S3 siapa takut?

Sebuah email aku terima dari seorang teman sore tadi, subjet email yang sedikit aneh membuatku penasaran dengan isinya. Aku pikir pasti isinya adalah nasehat-nasehat dan pertanyaan-pertanyan yang akan menyudutkan atas sebuah keputusan yang aku ambil setahun yang lalu. Ternyata dugaanku salah, email itu berisi sebuah dukungan atas keputusan yang aku ambil.

Email itu berisi sebuah cerita dari seorang dosen dari sebuah universitas terkenal di Bandung yang memberikan sebuah jawaban yang bijaksana atas pertanyaan dari seorang muridnya yang sedang mengalami kebimbangan pada sebuah keputusan yang akan dia ambil.

Setahun yang lalu aku sempat menuliskan sebuah artikel yang berjudul “Apakah salah jika ingin kuliah lagi? (www.threeas.wordpress.com/2009/02/27/apakah-salah-jika-ingin-kuliah-lagi/)” Sebuah artikel yang aku tulis disaat aku merasa sebel dengan seseorang yang telah menjuluki temanku dengan istilah PKI alias Perempuan Korban Ilmu. Saat itu aku tidak bisa protes dengan komentar beliau, secara beliau lebih tua dariku. Dan aku sendiri tidak mau komentarku membuat permasalahan dengan beliau. Yang aku lakukan hanyalah mendengarkan celotehan beliau yang menurutku sangat-sangat tidak mendasar. Pelampiasan kekesalanku pada saat itu adalah dengan menuliskannya dalam blog ini.

Hari ini aku menemukan sebuah jawaban yang mendasar dari pertanyaan seseorang itu. Perempuan yang menginginkan sekolah sampai S3 bukanlah seorang yang biasa-biasanya, namun seseorang yang akan mendedikasikan pengetahuannya itu buat keluarganya dan tentu saja buat negaranya. Perempuan tersebut bukanlah perempuan korban ilmu seperti yang selalu dia katakan.

Masih ingatkah kalian kapan pertama kali kalian menerima pelajaran yang diajarkan oleh perempuan lulusan S3? Kalau aku, pertama kali menerima pelajaran dari seorang perempuan lulusan S3 adalah saat aku kuliah di UGM 11 tahun yang lalu. Nah kalau ada seorang anak yang lahir dari seorang perempuan yang sudah menyelesaikan kuliah S3nya, itu berarti anak itu menerima pelajaran pertama kali dari seorang perempuan lulusan S3 lebih awal dari diriku. Sejak bayi, anak tersebut sudah dibimbing, disapih, dibelai rambutnya dan diberi petuah-petuah serta nasehat-nasehat dari seorang perempuan lulusan S3. Beruntung banget ya anak tersebut, mendapatkan cerita dan pengalaman yang sangat berharga dari seorang perempuan lulusan S3.

Pernahkah terbesit alasan tersebut pada benak orang yang memberi istilah PKI pada seorang perempuan yang ingin melanjutkan kuliahnya sampai S3. Sebuah pertanyaan yang hinggap di kepalaku malam ini. Pertanyaan yang aku sendiri ga bakalan mendapatkan jawaban tersebut.

25 thoughts on “S3 siapa takut?

  1. ga ada salahnya sich kuliah tinggi tinggi…. tapi cuma di budaya indonesia biasanya para cowok kurang PD ama cewek yang pendidikannya jauh lebih tinggi dari dirinya so cewek yang pendidikannya udah “terlanjur tinggi” dan belum punya pasangan biasanya rada susah nyari pasangan disini.
    that just my personal opinion but our destiny is god secret so go on!!!

      1. hemm, jangan emosi dunk…
        kan cuma masukan aja buat bahan pertimbangan.
        saya berkaca pada dosen saya yang lulusan swiss, pemenang perhargaan tingkat nasional dll tapi nikahnya telat (banget).
        tapi ada juga yang cewek lulusan SMA ga nikah nikah.
        so, takdir kita ada di tangan tuhan tapi gimanapun tetep ikhtiar

      2. Tapi gak semua cowok bercita2 untuk sekolah lagi, S2, S3 dst kan mbak? kalau perempuan S3, punya puluhan tulisan di jurnal internasional, punya banyak paten dan mampu benar-benar menghargai dan membuat suaminya (yang cuma S1 atau ekstrimnya SMA) merasa dihargai itu baru top.

  2. Tapi terkadang yang ada wanita lulusan S3 justru sibuk dengan pekerjaan & aktifitasnya di kantor, sampai lupa mendidik anak & ngurusin keluarganya!

    Saya sendiri punya teman yang Bapak dan Ibunya lulusan S3 & bahkan salah satunya seorang Profesor tapi anaknya justru tak sehebat kedua orang tuanya! ^_^

    1. Ya semuanya kan tergantung orangnya.. Ga hanya lulusan S3 aja ko yang sibuk dengan pekerjaannya sampai lupa sama tugas utamanya mendidik anak, tapi ada juga perempuan yang tidak lulusan S3 lebih asyik dengan kariernya ketimbang mengurus anak. trus anaknya dititipin deh sama baby sister🙂

      Aku mempunya beberapa kenalan perempuan lulusan S3 yang bisa membagi waktunya antara keluarga dan karier. Bahkan anak2nya berhasil semua sekarang.

  3. @ Perwira

    Ga emosi ko, cuma ngasih pendapat saja. Kalau cowok dah minder gara2 perempuannya lulusan S3, itu masalahnya di cowoknya. kenapa juga ga mau sekolah. Hari gini gitu lho masih mengandalkan S1.. Bisa-bisa kalah saingan dengan orang asing. Lagian kalau cuma lulusan S1 dah banyak kali hehe..

    Jodoh kan emang sudah ditakdirkan sama Allah, kalau memang belum ketemu ya emang begitu kali takdirnya. Bukan karena dia lulusan S3 atau tidak. Aku pikir ga ada hubungannya semua itu. Mungkin ada juga sih hubungannya, karena itu budaya di Indonesia.

    1. hehe, jangan ngomong gitu trias.. tidak semua orang bisa melanjutkan sekolah walo dia ingin.. hehe. justru paragraf pertamamu menunjukkan kalo jawabanmu sudah pake sedikit emosi.. hehe, cool off cool off.. makan es krim yuk?

      1. Ga pakai emosi ko Za, cuma ngasih pendapat aja🙂 yup, betul tidak semua orang bisa melanjutkan sekolah, namun kalau ada niat pasti ada jalan kan? Ehm padahal tadi nulisnya ga pakai emosi, tapi ko terlihat seperti pakai emosi ya.. Sepertinya harus banyak belajar menyusun kata-kata nih🙂

        Ayuk, tahun depan makan es krim nya di Eiffel ya🙂

  4. semangat sekali trias ini, bagus bagus, terus gapai cita-cita setinggi langit.. tapi agak ga klop dg paragraf mengenai “pendidikan perempuan S3”.. terbersit pertanyaan, apa sih yg trias harapkan dr seorang perempuan S3? mendidik dan mengasuh anak lebih baik? rasanya semua ibu menginginkan yg terbaik utk anaknya apapun pendidikan dia, bukan?

    this is my humble opinion :
    doctor of phylosophy itu bukanlah sebuah indikasi “tingginya” ilmu seseorang loh, justru sebaliknya. dan, sifatnya sangat spesifik di bidang yg ditekuni. jadi rasanya tidak ada hub-nya dengan mendidik anak. kalo maksud trias dlm bidang ilmu pengetahuan, ok lah, out of the question.

    another humble opinion : jangan sampai mixed up saja antara menggapai S3 dengan genderisasi. pria yg minder dg wanita S3? itu personal, nothing to do with anything. S3 adalah pilihan kok.. ga usah dibawa terlalu serius ^^

    sekian.. do what’s best for you, and don’t ever need to scrumble with the dust surround you.. have a nice day..

    1. Yaiyalah harus semangat, hidup kan cuma sekali Za, jadi ya harus dinikmati dengan penuh semangat dong..

      Yup, betul semua ibu pasti menginginkan yang terbaik buat anak2nya, namun dengan pendidikan tinggi yang dimiliki dari seorang ibu akan membuat anak2nya jadi lebih baik lagi dari dirinya. Entah itu dari segi pendidikan, cara berfikir maupun karakternya. Pasti beda kan cara mengasuh seorang ibu lulusan SD atau lulusan SMP misalnya. Dengan banyaknya pengalaman yang dimiliki seorang ibu pasti akan mempengaruhi karakter anaknya. Menurut penelitian, gen kepintaran itu diturunkan dari seorang ibu lho🙂 (apa hubungannya coba🙂 )

      Yup, tidak semua cowok minder sama perempuan S3. Masih ada juga ko yang malah tertantang mendapatkannya.🙂

      1. gen kepintaran? 5 tahun bergelut dlm dunia functional genomic, kok aku nda pernah denger gen kepintaran? tidak ada itu, haha, ngarang banget. pintar tidaknya seorang anak tidaklah genetis, tp lebih ke lingkungan.. percayalah..

  5. @ Riza

    Oh ga ada ya gen kepintaran🙂.. Iya deh agak sedikit percaya, tapi belum percaya 100% nih hehe.. Secara ada pengalaman, orang yang aku kenal dekat berada di lingkungan orang-orang pintar, namun pola pikir dan “kepintarannya” biasa aja nih Za.. trus yang salah apa ya?

    1. menurut trias pintar itu apa sih? menurutku “everbyody must be good on something”.. kalo dia ga pinter pelajaran mungkin pinter olahraga, atau yg lain, just example ^^

      1. Pintar itu adalah kemampuan dari seseorang yang menunjukkan kualitas yang lebih dari orang lain. Yup setuju, pintar bukan hanya dilihat dari prestasi akademik saja, namun pintar juga bisa dilihat dari prestasi2 lainnya.

  6. setelah lebih dari orang lain terus kenapa? kenapa harus lebih? seperti lingkaran setan saja ya pertanyaannya. sudahlah kita hentikan sampai disini, jika tidak bisa sampai seterusnya.

    1. Kenapa harus lebih? Kalau kurang atau sama berarti ga bisa dibandingin dong Za.. Ga pa pa Za, buat latihan bikin argumen. Delf B2 kan harus ada argumen tho..

  7. Gak ada yang salah kok….😉. Yang penting tetap sadar fitrah kita sebagai manusia. Bahwa di atas langit masih ada langit🙂.

  8. @ Muhammad Panji

    Yup tidak semua cowok ingin melanjutkan sekolah, begitu juga tidak semua cewek juga ingin melanjutkan sekolah. So kenapa gender dipermasalahin? Mau sekolah atau tidak, tidak tergantung pada gender. Tapi tergantung dari niat dan tujuan masing-masing individu.

    Menurutku, tidak hanya istri yang harus menghargai suami. Tapi suami pun harus mau menghargai istrinya. Seorang istri akan menghargai suaminya (walau karier istrinya lebih tinggi dari suaminya) jika sifat dan karakter suaminya juga baik (maksudnya baik disini adalah tidak jahat atau syirik). Kalau ga ya, mungkin saja istrinya tidak menghargai suaminya.

  9. aku tertarik dengan diskusi gen kecerdasan menurun dari ibu.
    analisa mudah nya mungkin bisa dilihat di sini http://lhiesty.wordpress.com/2009/10/03/hereditas-kecerdasan-anak-benarkah-lebih-dipengaruhi-oleh-ibu/
    dan disini http://imronrosyadi.blogspot.com/2009/06/ingin-anak-anda-cerdas.html

    tapi ya memang ga 100% sh pengaruh genetisnya. krn ada faktor lingkungan juga.

    @riza, dan ternyata sudah ada penelitian ttg itu lho…so.. informasi nya jd valid kan??hehe..^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s