Pengalaman naik Trans Jogja di musim liburan

Akhirnya Jogja punya trans Jogja juga setelah sekian lama hanya ada bus dan kol (semacam angkot di Jogja). Yang membedakan antara Jogja dengan kota lainnya adalah jadwal bus dan kol hanya beroperasi sampai jam 5 sore. Habis itu ya sudah ga ada. Maklum Jogja terkenal dengan kota sepeda motor.

Aku pernah nyobain Trans Jogja waktu aku pulang ke Jogja beberapa waktu yang lalu. Awalnya si ga terlalu memperhatikan, soalnya rute yang aku naiki juga hanya pendek si. Berawal dari shelter KR dan berakhir di shelter Amplas (Ambarukmo Plaza). Namun kemarin saat aku jalan-jalan bersama keluargaku, baru deh nyadar betapa berbedanya Trans Jogja yang aku naikin. Aku pikir karena musim liburan saja sehingga pelayanan Trans Jogja seperti ini. Semoga saja di hari-hari lainnya pelayanannya menjadi lebih baik lagi. Walau agak pesimis juga sih, secara pas musim liburan ini banyak orang-orang non Jogja yang main ke Jogja, pelayanan Trans Jogja kurang nyaman. Apalagi kalau hari biasa ya??

24 September 2009, aku dan beberapa saudaraku berencana main ke Malioboro. Biasanya kami naik sepeda motor dari rumah ortuku Kalasan. Tapi berhubung capek dengan kemacetan dan panas, akhirnya kami putuskan naik Trans Jogja saja. Toh harganya juga murah, dengan tiga ribu rupiah sudah sampai Malioboro. Irit dan ga capek tentunya. Tapi ternyata aku mendapatkan hal yang tidak menyenangkan selama perjalanan Kalasan-Malioboro PP.

Kami naik Trans Jogja di shelter KR (Jalan Solo), ini adalah Shelter terdekat dari rumah ortuku. Untuk mencapai shelter ini kami naik angkutan umum yang bernama Kol jurusan Prambanan-Jombor (kalau ga salah ya, maklum aku ga terlalu memperhatikan sih hehehe). Dengan biaya dua ribu rupiah per orang kami sudah sampai shelter KR. Setelah itu kami membeli tiket Trans Jogja seharga tiga ribu rupiah untuk menuju ke Malioboro. Seharusnya kami naik Trans Jogja trayek 1A yang akan berhenti di shelter yang ada di Malioboro (tepatnya di depan gedung gubernuran DIY). Namun petugas Trans Jogja menyarankan kepada kami untuk naik Trayek 1B saja dan berhenti di shelter Taman Pintar, lebih cepat dan tidak penuh. Begitu keterangan petugas, ya sudah karena kami belum berpengalaman ya menuruti saja saran petugas.

Masuk ke shelter KR, aku merasakan shelter ini sempit sekali, tidak seluas shelter busway di Jakarta. Tiket untuk naik Trans Jogja ini seperti tiket busway koridor 1 yang harus dimasukkan ke dalam mesin sebelum kita masuk. Menunggu sekitar 10 menitan lah, akhirnya bus trayek 1B datang. Aku masuk ke dalam bus yang sudah penuh juga, jadinya ya harus berdirilah kami. sambil mencari pegangan, aku terima telphon dari Kang Ucup (wah ini mah nelphon ga tanggung2 oi). Sambil berdiri dekat pintu, aku menjawab telphon dengan bicara dalam bahasa Indonesia (ya otomatis dilihatin semua orang lah). Baru pertama kali deh jadi pusat perhatian di bus. Ya gini deh, di kota sendiri bicara dengan bahasa Indonesia sedangkan mayoritas orang-orang di bus tersebut bicara dalam bahasa Jawa. Untung nerima telphonnya ga lama, coba kalau lama bisa2 jadi pusat perhatiaan deh.

Rute perjalanan ini melewati Bandara-Janti bawah-JEC-Gembira Loka-Kusumanegara dan berakhir di depan Taman Pintar. Nah di dalam bus, ada salah satu saudaraku yang nanya ke petugas bus, kalau mau ke Malioboro gimana caranya dari taman pintar. Nah mbak-mbaknya bilang, jangan turun, ntar nyambung lagi aja dengan trans Jogja. Sedangkan setahuku, ya tinggal nyebrang trus jalan deh. Karena berbeda pendapat, kami berdebat. Akhirnya nanya ma petugas di shelter Taman Pintar. Sama petugasnya malah disuruh nyebrang and jalan kaki. Nah lho, ko bisa ada pendapat yang berbeda dari petugas yang berkepentingan ya. Binggung aku.

O iya aku sampai lupa cerita nih, pas naik bus Trans Jogja ternyata yang memberitahu kita akan sampai di shelter mana itu adalah petugas yang ada di depan Pintu bus. Kalau biasanya di busway yang bicara mesin, nah di trans Jogja yang bicara orang. Aku ketawa aja saat dengar itu. Kemudian pada setiap shelter mbak-mbak yang di depan pintu bus selalu mencatat jam kedatangan di shelter (ehm jadi mikir buat apa ya).

Ada hal lucu yang terjadi saat aku naik bus trans Jogja, di Bandara masuklah 5 orang bencong alias banci ke bus. Ya ampun ni bencong, dandannya menor habis deh. Mending kalau cantik, lha ini dilihat aja malah bikin neg. Daripada dekat-dekat ma ni bencong aku jalan menjauh dari kelima bencong ini. Ga ngerasa aneh juga ni bencong, berlagak kaya yang punya bus aja. Masa di dalam bus semprot sana semprot sini parfum yang ga jelas baunya itu. Mending kalau wangi, ni parfum malah bikin pusing oi. Mana pakai nyanyi2 pula ni bencong. Berhubung sebel, aku keluarin aja semua kosa kata bahasa prencongku (dengan pronunciation seadanya walau kadang ga jelas hehehe). Sekalian aja ngapalin kosa kata yang sudah hafal plus bikin kalimat seadanya (maunya si ngomel2 pakai bahasa prencong tapi karena belum ngerti ya udah pakai yg bisa aja). Nah karena aku bicara pakai bahasa prencong (untung dibus itu ga ada yang tahu bahasa prencong ya, jadi kan mereka hanya nglihatin aja. Ni orang ngomong apa ya), tu bencong2 jadi ngilhatin aku. Trus satunya bilang, wah mbak itu kayanya lagi ngomel2 deh. Apa ngatain kita banci ya? Dalam hatiku pengennya si begitu mas, tapi karena ga bisa yaudah yang keluar bahasa yang indah2 ko.

Eh lama juga ni bus sampai Taman Pintar, mana AC nya ga kerasa udah gitu bus nya kecil (lebih kecil dari busway). Akhirnya setelah 45 menitan kami sampai di shelter Taman Pintar. Kemudian kami menyeberang dan jalan ke arah utara menuju Pasar Bringharjo (pasar tekenal dengan jual beli batik di Jogja). Yaelah baru juga lepas dari 5 bencong aneh di trans Jogja, di depan pasar kami ketemu lagi ma bencong yang lagi ngamen. Pakai nyolek sepupuku sambil bilang “ih dah punya jerawat dua, dah punya pacar ya”. Kami ketawa semua, sepupuku yang masih SMP kelas dua sampai ketakutan. Kenapa di Jogja banyak bencong ya??

Pulangnya kami naik trans Jogja lagi, sekarang kami nunggunya di jalan Malioboro. Pas mau beli tiket alias karcis, terjadilah perbincangan sebagai berikut :

Mbak yang jaga                       : mau kemana bu.

Tanteku                                      : mau ke kalasan

Mbak yang jaga                       : wah lama lho bu bisnya, soalnya macet.

Trias                                            : trus kalau lama kenapa?

Mbak yang jaga                      : ya nunggunya lama mbak, tu lihat macet kan, mana penuh pula.

Trias                                          : iya tahu mbak, gpp deh kami nunggu di sini. Lagian emang mau naik apa lagi. Taksi, ya ga  muatlah mbak kan kami banyakan.

Mbak yang jaga                   : ya bukan gitu mbak

Trias                                       : ehm mau ngasih solusi apa ga si mbak, ko org mau naik trans Jogja aja mbak larang.

Mbak yang jaga                 : silakan mbak, mau berapa orang.

Trias                                     : 7 orang mbak.

Di shelter sambil nunggu aku mengingat-ingat, perasaan di Jakarta ga pernah deh aku dengar petugas ini bilang kaya gitu. Baru dengar di Jogja ini, jadi berpikir dimana ya keramahtamahan orang Jogja. Aku ko jadi ngerasa malah bukan di kotaku sendiri, sepertinya aku ini pendatang saja. Akhirnya bus trayek 1A datang, kami antri untuk masuk. Pas mau masuk, ternyata petugas bus bilang naik belakang aja mbak, bisa duduk plus AC nya dingin. Berhubung kita dah capek dan pengen duduk yaudah kita nunggu bus berikutnya. Jadi bus pertama cuma diisi beberapa orang, awalnya aku pikir karena dah ga ada tempat duduk makanya petugasnya bilang gitu. Kami naik bus berikutnya, disitulah baru aku tahu bahwa bus pertama tadi adalah bus yang menyalib bus kami. jadi harusnya bus pertama itu berada dibelakang bus yang kami tumpangi, menurut jadwal, tapi gatahu kenapa bus pertama nyalib bus kedua. Aku jadi mikir, ko bisa gitu ya. Bukannya trans Jogja itu ga kejar setoran, tapi ko pakai nyalib-nyalib segala ya?

Aku nemuin hal aneh lagi, di daerah Kusumanegara. Petugas trans Jogja nanyain seorang penumpang, dia mau turun dimana. Heran aku, di Jakarta aku ga pernah nemuin pertanyaan kaya gini. Aku pikir mungkin karena bapak ini tadi nanyain ke petugas, ternyata bukan karena itu. Ternyata petugas itu memperhatikan tiap orang yang naik Trans Jogja, kalau sekiranya orang ini ga turun-turun, dia bakalan nanya, mau turun dimana. Ini berdasarkan pengamatan dan pengalamanku, karena aku juga ditanyai hehehe.  Wow segitunya kah pelayanan Trans Jogja??

Jogja, Jogja.. Dimanakah keramahtamahanmu? Sudah hilangkah rasa itu?? Aku kangen Jogjaku dulu. Aku kangen suasana Jogja yang nyaman, damai, tenang, ga macet.

Jogja, 25 September 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s