Penipuan lewat telphon..

Pernah ngalamin ditipu orang dengan cara di telphon?? Bilanglah anda mendapat hadiah, orang tua Anda sakit sehingga Anda harus mengtransfer uang ke rekening yang menelephon Anda, atau orang tua Anda ditelphon kalau Anda atau saudara Anda masuk rumah sakit??

Banyak sekali ya penipuan yang berkedok seperti itu. Heran kenapa si harus bikin panic orang. Apa kurang kerjaan ya orang tersebut? Sebel deh rasanya kalau denger cerita seperti itu. Ingin banget melaporkan ke polisi, biar tahu rasa tu penipu-penipu.

Kamis kemarin keluargaku nyaris aja ditipu, tapi alhamdulilah Allah masih melindungi kami sehingga kami belum sempat mengalami kerugian. Ceritanya begini, siang-siang ayahku mendapat telphon dari seorang cowok yang ngaku sebagai masku (wuih hebat deh penipu ini, suaranya nyaris sama dengan suaranya kakakku) ngasih tahu kalau dia baru saja nabrak 2 orang hingga mati. Kemudian ayahku diminta mengumpulkan semua uangnya untuk membantunya ngurus masalah ini. Kalau bisa ambil semua tabungan dan perhiasan yang dipunyai ibuku. Berhubung panic bapakku hanya bisa bilang “iya tunggu ibumu dulu ya” (pada saat itu ibuku lagi di rumah nenek yang berjarak 1 KM lah). Sambil nunggu ibuku, ternyata bapakku ngikutin aja tu perintah si penipu.

Beberapa saat kemudian, penipu itu telphon lagi, nanyain jumlah uang yang bisa bapakku kumpulkan. Kalau perlu ambil uang yang di tabungan juga, karena dia butuh cepat. Saking paniknya bapakku meminta tetangga untuk memanggil ibuku di rumah nenek. Setelah ibuku tiba, penipu tersebut telphon lagi dan cerita kejadiannya sama ibuku. Penipu tersebut bilang kalau dia ada di Jakarta lagi ketemu am orang tua yang jadi korban. Trus ibu berinisiatif nanya apakah perlu ibuku ke Jakarta untuk mendampingi masku. Penipu tersebut bilang ga usah, siapin aja semua uang dan perhiasan.  Gatahu dapat ide dari mana, ibuku telphon masku (kalau yang ini masku yang asli hehe). Tapi ga aktif, coba lagi dan lagi ga nyambung juga. Pada saat yang sama penipu tersebut telphon lagi, trus bapakku nanya ko HP nya ga aktif, di hubungi ga bisa-bisa. Nah mas Joko palsu alias si penipu ini bilang kalau HP nya di ambil ma polisi buat jaminan (alasan yang ga masuk akal tho, masa HP buat jaminan si?? Emangnya makan di warteg trus ga bawa uang, HP jadi jaminan deh). Gatahu apa yang menggerakkan ibuku, ibuku langsung merebut tlp tersebut dari bapakku sambil bilang “ Kowe sopo tho?? (kalau ditranslate ke bahasa Indo : kamu sapa sih?). Mungkin tahu kedoknya terbongkar, langsung deh telphonnya di tutup.

Beberapa menit kemudian, mas Joko (asli dan bukan penipu) balas telphon ibuku. Mas ku bilang tadi lagi ngajar di kampus, jadi ga bisa angkat tlp sambil nanyain tadi telphon ada apa (itu kebiasaan kami kalau ditlp ortu kami and ga bisa angkat, biasanya setelah itu kami tlp balik). Ibu cerita tadi ada yang ngaku2 sebagai masku dan bilang kalau dia habis nabrak orang trus orang itu bilang kalau butuh uang cepat makanya ibu dan bapak disuruh ngumpulin semua uang dan perhiasannya. Mas Joko hanya bisa menghela nafas panjang dan berusaha menenangkan ortu kami kalau dia baik-baik saja. Kalaupun dia perlu uang pasti ga minta ortu sampai harus ngumpulin uang, masih ada tabungan di rekeningnya. Tinggal ambil saja. Mas ku hanya berpesan hati-hati saja, karena ini dah lebih dari ketiga kalinya.

Alhamdulilah masih dalam lindungan Allah, belum sempat dirugikan juga. Aku heran kenapa ini sering banget terjadi di keluarga kami. Dan selalu saja yang jadi objek penderita adalah masku. Mulai dibilang masku masuk rumah sakit, ketabrak, harus operasi sampai yang kemarin nabrak orang sampai mati. Ya Allah apakah ini teguran dari Mu untuk kami lebih berhati-hati dan mawas diri. Hikmah yang bisa aku ambil dari peristiwa ini adalah untuk lebih berhati-hati, mulai sering berkomunikasi dengan keluarga dan sering memberi kabar ke keluarga kalau ada apa-apa. Yang paling penting adalah aku harus sering menghubungi keluargaku minimal seminggu sekali menelephon mereka atau sms mereka walau hanya sekedar menanyakan kesehatannya.

Mungkin ini adalah konsekwensi besar yang harus kami terima. Maklum di Jogja ortuku tinggal sendirian, aku tinggal di Bogor (bentar lagi pindah ke Jakarta trus ke Grenoble) dan masku tinggal di Malang. Tapi kami yakin masih ada Allah yang akan melindungi kami, toh kalau memang kami akan mengalami penipuan dan menderita kerugian pasti itu atas ijin Allah dan itu merupakan ujian buat kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s