Sepenggal cerita dari Seminar MAPEKI XII di Bandung

Selama dua hari kemaren tepatnya tanggal 23-24 Mei 2009, ada seminar tahunan MAPEKI di Bandung. Kebetulan tahun ini yang jadi penyelenggaranya adalah PUSKIM Bandung, tahun depan rencananya si ke Bali. Tapi sayang ni, kemungkinan aku ga bisa ikut padahal ada rencannya akan publish hasil risetku tahun ini. Ya gimana lagi, InsyaAllah tahun depan aku berangkat ke France jadi ya aku harus merelakan ga ikut seminar deh.

Bukan itu si yang ingin aku ceritakan di sini. Tumben banget keynote speaker seminar MAPEKI kemaren ada professor dari eropa bukan dari Jepang lagi. Mungkin karena PUSKIM punya banyak link kali ya, jadinya bisa mendatangkan professor tersebut.

Pada saat pembukaan MAPEKI XII, aku sebenarnya agak malas-malas gitu. Habisnya ga ada paper yang menarik ni. Serasa ga nambah aja wawasannya kadang malah berpikir apa aku salah komunitas ya. Ehm kadang pengen ga ikutan, tapi gimana lagi kantorku ada andil ni dalam terbentuknya komunitas ini. Apalagi ini adalah acara tahunan (bisa dibilang si acara besarnya kantorku), karena sebagian besar peneliti di kantorku mempublish penelitian mereka di seminar dan jurnal MAPEKI ini.

Namun tiba-tiba aku jadi bersemangat saat bu Anita mengatakan bahwa pada hari kedua ada keynote speaker dari Universität Karlsruhe (hayo dari tulisannya bisa nebak kan dari Negara mana hehehe). Langsung deh otak dan telingaku pasang antena tinggi. Maklum universitas itu sangat familiar banget denganku. Gimana ga familiar coba, kalau universitas tersebut dulunya pernah jadi target ku si hehehehe. Kemudian aku coba aja nanya ma mas Dany, professor ini mau bahas apa. Eh mas Dany bilang kalau professor ini akan bahas tentang pipa dari kayu yang dipakai buat saluran air. Ehm sepertinya menarik (padahal yang menarik adalah professor ini asalnya dari German doang, yang lain lewat deh hehe).

Hari kedua aku nikmatin banget tu session keynote speaker, wow bule sekali ni professor. Tinggi banget lho, udah gitu bahasa Inggrisnya bagus banget. Aku bahkan dah bayangin setahun lagi aku bakalan ngerasain suasana kelas yang diajar oleh professor-professor yang ahli dibidangnya. Aku dengerin setiap perkataannya dan penjelasan beliau. Awalnya si agak binggung, tapi pas beliau menerangkan sebagian kecil mengenai finite element model yang membantu penelitiannya, aku langsung connect aja. Ya iyalah itu kan sebagian kecil dari penelitian yang akan aku lakukan di UJF nanti. Penjelasannya Professor Blass sangat keren oi. Jadi pengen mentargetkan professor ini buat S3 ku deh hehhe..

Akhirnya setelah professor Blass selesai presentasi, aku ma Ismadi mendekati professor ini. Aku tanyain soal finite element model yang dia gunakan dalam penelitiannya, kemudian interest risetnya. Trus beliau ngasih kartu namanya, tapi aku ga ngasih kartu namaku ni. Aduh kesalahan yang sangat fatal ga membawa kartu nama oi. Tapi ga papa si, toh aku masih bisa email beliau hehehe..

Saat ngobrol dengan professor Blass ini, aku tahu kalau beliau interest risetnya tentang sambungan kayu, timber structure and building construction, bukan numerical modeling. Aku mulai berfikir saat itu, S2 ku yang focus pada analisa numeris bisa aku gunakan dalam penelitian sambungan. Aku coba akan mengabungkan dua penelitian tersebut, toh bekal yang akan aku dapatkan di UJF (InsyaAllah kalau aku bisa kuliah di sana tahun depan) akan memberikan manfaat buat penelitianku kelak. Merasa ada peluang aku coba ngajak dia ngobrol, sambil bilang kalau tahun depan aku akan kuliah di perancis. Trus dia nanya di daerah mana, aku bilang di Grenoble. Eh professor Blass malah ngasih tahu kalau Karlsruhe itu dekat sekali dengan Strasbourg. Beliau juga bilang kalau universitasnya terbuka sekali kalau aku mau datang ke sana. Ya ampun, langsung deh hatiku berteriak senang. Secara aku pengen banget bisa kuliah di German dari dulu trus sekarang ada peluang yang sangat terbuka lebar.

Ternyata ada manfaatnya juga ni ikutan MAPEKI tahun ini, walaupun ga punya paper buat di publish hehhe, tapi aku bisa kenalan ma professor dari German oi. Setiap usaha pasti ada hasilnya, entah kapan kita bisa memetik hasil kerja keras kita. Aku merasa Allah sangat banyak memberiku kesempatan untuk meraih mimpi-mimpi ini. Saat aku mendapatkan kunci untuk membuka pintu beasiswa yang akan membawaku ke eropa ternyata membuka pintu-pintu yang lain untuk aku masuki.

Hidup dalam impian indah ternyata membuatku bersemangat untuk berjuang meraihnya. Melihat keindahan yang tidak bisa dikatakan saat kita bisa memegang dan mengengam impian ini. Hidup tanpa impian pasti hampa rasanya, hidup dengan impian membuat hari-hari kita jadi indah. So bermimpilah agar kita bisa isi hidup ini dengan keindahan.

Eropa bukan lagi Negara yang susah untuk menembus, hanya diperlukan usaha, ketekunan, keuletan, pantang menyerah dan putus asa serta kesabaran maka kita bisa ke sana. Mengambil ilmu-ilmu mereka untuk mengembangkan Negara ini, merasakan keindahan serta kemodernan Negara tersebut adalah sesuatu yang pantas kita coba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s