First step for my research plan

Sudah 4 tahun aku jadi peneliti dan sudah ada sekitar 4 paper yang aku hasilkan namun tetap aja masih bingung untuk membuat proposal penelitian buat master ku nanti. Walau dah hampir 2 tahun ini aku belajar membuat proposal buat mendapatkan dana DIPA dari kantorku, tetap saja ga berpengaruh padaku. Namun setidaknya pengalaman itu membuat pola pikirku berubah, dengan pengalaman yang aku alami itu membuatku sedikit bisa untuk menganalisa bagaimana sebenarnya pola berpikir dalam membuat proposal.

Seminguan ini hampir saja aku putus asa dengan topik penelitian yang ditawarkan Profesor Dufour. Gatahu mesti melangkah kemana, trus pertama kali itu yang dianalisa apa? Mau nanya tapi ragu, ya maklum masih bepikir bahwa Profesor luar itu sifatnya sama dengan Profesor dalam negeri. Akhirnya daripada bingung aku kirim email aja ke Prof. Dufour, bilang kalau aku belum familiar dengan metodenya dan ga ngerti itu ”crack opening, meso-level dan discrete element method”. Akhirnya senin kemaren Prof. Dufour langsung menjelaskan apa itu crack opening, meso-level dan discrete element method. Woo penjelasannya keren habis.. Aku aja sampai terbengong-bengong, Prof Dufour menjelaskannya sangat simple dan mudah dimengerti. Thankf prof.

Setelah mendapatkan penjelasan, akhirnya aku searching paper-paper yang ada hubungannya dengan ketiga kata kunci diatas. Ga nemu oi di Google. Akhirnya aku masukan kata kunci satu-satu atau menggabungkan 2 kata kunci di atas. Alhamdulialh nemu beberapa paper yang saling berkaitan. Kemaren sempat nemu paper yang hampir sama dengan topik yang ditawarkan sama Prof Dufour. Bedanya adalah di metode analisanya. Di paper itu menggunakan metode Rigid Body Spring Model (RBSM). Hampir sama si asumsi awalnya, memisahkan antara mortar, agregat dan interface. Waktu baca paper itu, rasanya kepalaku hampir pening banget. Gimana ga pening, orang hampir disemua halaman isinya rumus, penurunan rumus dan integral. Mana aku dah lupa pula cara ngerjainnya. Trus aku ga punya buku analisis numeris dan metode elemen hingga (ketinggalan di Jogja oi hehhee). Tambah pusing deh, darimana ya rumus itu. Butuh waktu 3 hari aku untuk memahami paper ini (rekor terlamaku baca paper hehehe). Karena masih bingung dengan asumsi dasarnya, aku bertanya lagi ma Prof Dufour. Tau deh ntar reaksinya bagaimana, soalnya pertanyaanku rada aneh. Aku baru menyadarinya saat aku baca paper itu kembali. Ya ampun malu deh rasanya kalau ketemu ma Prof Dufour. Habisnya pertanyaan ga nyambung oi. Kan di paper itu menggunakan metodel RBSM jadi ya tegangan gesernya menggunakan stress spring dong bukan normal stress hehhe. Ko bisa-bisanya aku mengusulkan menggunakan tegangan spring sih hehehe. Aduh capek deh hehhee.. Ya maklum lah aku baru pertama kali riset tentang beginian, belum paham. Lagian kata Arso metode seperti ini emang hanya diberikan waktu kuliah S2. Lha aku kan belum kuliah dah diminta bikin proposal seperti ini. Ya begini lah jadinya heheh.. Alasan saja si sebenarnya, karena aku kurang teliti aja bacanya dan ga coba dibandingkan dengan discrete elemen method.

Setidaknya ini adalah minggu kedua dimana aku dah tahu harus kemana melangkahnya. Dah tahu tujuan penelitianku ko. Tinggal mencoba menggabungkan pendekatan meso-level dengan discrete element method untuk menghasilkan analisa crack opening yang terjadi pada struktur beton yang digunakan pada struktur bendungan, waduk ataupun saluran air. Karena biasanya di tempat-tempat tersebut sering terjadi crack opening. Wah sepertinya penelitian ini keren oi. Dah terbayang ni di otakku arahnya mau kemana. Tinggal mencoba berdiskusi sama Prof Dufour untuk menentukan dasar asumsi. So tinggal baca-baca lagi deh paper-paper yang sudah aku temukan dan bikin deh proposal risetnya. Ehm masih ada 2 bulan untuk menyelesaikan. Aku harap si selesai, kan hanya membutuhkan 3 halaman aja ko hehhee.. Perhaps, Allah give me the best for my life.

Awal membuat proposal riset dengan topik yang ditawarkan prof ku telah membuatku frustasi. Karena ga ada teman yang bisa aku ajak diskusi. Bingung harus bagaimana. Pernah juga waktu itu aku lihat seseorang yang jelas-jelas sudah kuliah S2 di salah satu perguruan tinggi di Indonesia (aku ga mau nyebutin namanya), dengan mudahnya mendapatkan metode buat thesisnya kelak. Di tinggal telphon pembimbingnya terus bertanya ”Pak sebaiknya sampelnya ukuran berapa ya, trus metodenya pakai yang mana ya?” Gubrak deh. Rasanya aku hanya bisa memandang dia. Iri jelas lah. Aku aja yang belum kuliah S2 mesti searching paper trus ngajak diskusi ma Prof ku, sedangkan dia dengan enaknya bertanya apa yang harus dia lakukan buat penelitiannya. Oi ini S2 lho, bukan S1 yang masih perlu dibimbing. Mau banget aku kalau disuruh gitu. Tinggal ngikutin aja kemauannya pembimbing tanpa mencari dulu paper-paper yang berkaitan. Trus ditambah lagi, paper yang dia gunakan itu terkadang paper yang dah lama banget oi. Sedangkan yang aku pakai sekarang ini, paper-paper keluaran terbaru. Paling lama ya tahun 2005. Aneh deh dah kuliah S2 hampir 1,5 tahun ko bisa tidak membuat perubahan terhadap pola pikir ya. Ehm ga jelas si sebenarnya gimana dengan silabus kampusnya. Waktu aku bandingkan dengan silabus dari kampusku, ternyata di kampusnya temanku itu semua masih dasar. Ya bisa dibilang seperti S1 saja. Gimana aku ga bilang seperti itu, orang di S2 ko masih ada statistik. Sedangkan silabus di calon kampusku itu ehm semuanya dah menjurus ke arah penelitian ga ada tuh mata kuliah dasar. Yang ada semuanya adalah yang akan menjadi topik penelitian kita. Eh sobatku malah bilang ”Ya iyalah trias silabusnya beda banget. Ingat dong kamu akan kuliah di Eropa gitu lho. Ingat Eropa trias, negara maju. Jangan samakan dengan Indonesia dong”. Iya sih tapi kan setidaknya dosen-dosennya dari luar juga kan. Masa ga membawa kemajuan buat kampus sih. Gatahu deh gimana pola pengajarannya. Atau emang seperti itu ya pendidikan di Indonesia itu. Tambah deh alasanku untuk kuliah S2 di luar terutama di Eropa.

Kadang aku berkeluh kesah dengan mas Joko, mas Udin, mas Adrian dan mbak Fitri. Dari merekalah aku selalu mendapatkan support, mereka selalu bilang ayolah jangan nyerah gitu. Ingat Allah pasti akan memberikan hasil yang indah didepan. Aduh kalau ingat kata-kata itu, rasanya semangatku jadi nambah. Merekalah yang selalu memberikan tambahan semangat disaat semangatku dah hampir habis. Merekalah yang selalu bilang bahwa aku beruntung mengalami peristiwa ini. Peristiwa yang belum pernah mereka alami. Dan mereka sangat yakin aku bisa melewatinya. Wah mereka saja yakin aku bisa lewati, kenapa aku ga? Itulah yang membuatku belajar, belajar dan belajar lagi. Ga mau mengecewakan mereka, orang-orang yang selalu ada disisiku saat aku ga tahu harus bagaimana, saat aku hanya bisa diam ga bisa nentuin langkah. O iya, sekarang aku dah membuka satu pintu yang selama ini tertutup buatku. Aku dah sangat jelas bisa melihat arah penelitianku, so tunggu ya proposal penelitianku. Trus minta tolong dikoreksiin hehhee..Makasi ya atas semua waktu kalian buat mendengarkan keluh kesahku. Makasi juga atas dukungannya.. I promise I do the best that I can do.

One thought on “First step for my research plan

  1. Hehehehe… Rasanya pengalaman kita sama ya… Saya juga begitu. Ambel topik SIpil yang S2 juga padahal masih S1. Topik saya tentang interpolasi Kriging, metode baru next ster dari metode elemen hingga. Dari semester kemarin uda skripsi ini loh, semester ini kena lanjut. Belum lagi ini topik pertama di almamaterku. Aslinya uda ada di luar negeri (AIT), tapi di Indo belum ada, gt.. Wkwkwkwkwk.. Semangat ya bro. Be blessed =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s