Ingin berubah dan maju atau tidak?

Sebenarnya dah lama aku ingin nulis mengenai ini, tapi malasnya lagi kumat jadi ya ga jadi-jadi deh. Awalnya aku sempat berdiskusi dengan seorang teman trus kami bahas itu sampai malam. Belum ada jawaban yang pasti, dan aku masih binggung juga harus ngomong apa. Setidaknya kalau aku nulis disini, dan ada yang baca setidaknya bisa membuka pikiran buat orang-orang. Aku hanya ingin sharing aja dan berusaha untuk membuka wawasan buat semua orang. Semoga bermanfaat.

Sudah hampir sebulan ini di kantorku ada suatu kegiatan conversation. Awalnya Bu Ika yang ngusulin di Milis, trus direspon oleh banyak orang. Karena mungkin ingin ada sarana untuk ngobrol pakai bahasa Inggris tanpa harus dibilang sok gaya ataupun ingin menyombongkan kemampuan kita berbahasa asing. Yasudahlah berdirilah sebuah English Club di Biomat. Dari sekian banyak peserta kemampuannya berbeda-beda, ada yang sudah advance, ada yang baru intermediate bahkan ada yang elementary. Tapi ga membuat kami saling menyombongkan diri atau sok pintar. Yang sudah advance mengajari yang belum bisa. Yang belum bisa ngomong akhirnya terpaksa ngomong. Ga ada yang saling mengurui. Semua berjalan dengan aturan yang kita buat.

Tiap minggu selalu saja berbeda yang menjadi leadernya. Dan bahan yang diberikan pun berbeda-beda (yaiyalah kan penguasanya juga berbeda hehhee). Pertemuan pertama kita bahas apa yang pengen dicapai dari EC ini, trus bagaimana cara pembelajarannya, dan masih banyak lagi (malas nulisnya hehehe). Pertemuan kedua dan ketiga masih aja maen-maen, dengan anggota yang semakin bertambah. Di pertemuan ke empat yang jadi leadernya Dany. Trus acaranya mendengarkan lagu (tentu saja lagu nya berbahasa inggris hehehe) ditambah lagi ada sepenggal film (film nya Vic Zu pula, tahu kan sapa dia..) trus kita suruh nebak lagu apa yang cocok buat soundtracknya. Kemudian kita disuruh dengarin sebuah lagu plus ngisi lirik yang udah dihilangkan ma Dany. Ehm Cuma dua kali kita dengerin itu. Ya ampun aku banyak banget salahnya (habisnya ada lagu yang cepet si hehhe alasan aja nih padahal emang ga ngerti penyanyi ngomong apa hehhe). But It’s Ok, itu membuat aku tersadar kalau listeningku sekarang yang bermasalah. Makanya banyak yang salah hehehe.. Pertemuan selanjutnya yang ngisi Bu Linda. Ehm bu Linda ngisi tentang writing, speaking and vocabulary. Kita dipaksa ngasih komen dalam bahasa Inggris, aduh belepotan deh rasanya ngomongnya. Ga terarah dan masih makai vocab yang itu-itu aja. Saat nulis pun aku jadi ga bisa mau nulis apa (habisnya dibatasi waktu si, padahal aku kalau mau nulis sesuatu itu butuh waktu lama hehehe) jadinya ya blom bagus gitu deh. Nah pas season tebak-tebakan aku banyak yang ga ingat. Jadinya ga dapat hadiah deh hehehe. Pertemuan selanjutnya Om Didi yang jadi leadernya, om Didi ini nyuri ideku hehhee.. Ga ding, om Didi minta bantuan aku tuk nyariin bahan listening tapi bukan dalam bentuk lagu. Yaudah aku kasih tahu aja websitenya voa, trus aku jelasin permainannya. Eh dipakai juga usulku hehehe.. Pas season ini cukup enak dan menyenangkan buat aku. Karena terbiasa mendengarkan logat America maka aku banyak yang benar saat nebak kata-kata yang dihilangkan ama Om Didi, walaupun ada yang salah juga si, tapi kebanyakan salahnya itu ada kata yang harusnya plural aku nulisnya malah singular, trus ada kata yang harusnya berakhiran ed tapi aku nulis nya ga pakai ed (salahnya ga fatal kan hehehe). Tapi ada juga kata-kata yang aku ga ngerti itu apa, sampai-sampai om Didi bilang “stupid”. Sebel juga sih dikatain begitu, tapi malah membuatku sadar bahwa telingaku harus terlatih lagi kalau ingin bisa bener semua.

Dari sekian pertemuan EC, telah menyadarkan aku mengenai kekurangan-kekurangan yang ada pada diriku. Dari semua materi yang diberikan sang leader, setidaknya telah menambah banyak kosakata dan pengetahuanku tentang belajar bahasa Inggris. Jujur deh dulu tuh bahasa Inggris adalah pelajaran yang paling aku benci. Kalau disuruh milih, aku memilih ngerjain matematika atau fisika atau kimia daripada disuruh ngerjain bahasa Inggris. Tapi sekarang aku malah sangat menyukainya. Kalau 1 hari ga denger lagu atau berita dalam bahasa Inggris ada sesuatu yang kurang dalam hidupku. Bahkan folder musik di HP dan Laptopku sekarang ga ada lagu-lagu Indonesia. Semua lagu-lagu yang tersimpan berbahasa Inggris. Apalagi sejak aku mempunyai MP3, disitu semua berisi berita-berita dari VOA, kalaupun ada rekaman paling juga rekaman mengenai hal-hal tentang beasiswa. Seperti waktu penjelasan pihak AusAID di Biologi kemaren aku juga merekan semua yang dibicarakan oleh pihak AusAID. Seakan-akan aku membangun duniaku dari menjelang tidur sampai mau tidur lagi aku harus diawali dan diakhiri dengan sebuah berita atau lagu berbahasa Inggris. Kata orang si cara ini adalah cara paling cepat untuk kita belajar berbahasa Inggris. Ehm sampai saat ini emang terbukti si (khususnya buat aku hehehe). So kelak jika mas Joko dah pulang dari Australia ehm kayanya aku dah pede bisa ngajak ngomong ama dia hehehe (walaupun ntar pasti diprotes sama bunda dan ayahku hehehe)

Disini aku hanya ingin bilang kalau EC itu sangat bermanfaat bagiku. Ada teh Dini, bu Faiz, bu Ika dll yang akan membenarkan cara kita ngomong, trus kita dikasih tahu bagaimana mereka belajar bahasa Inggris sampai mereka bisa seperti sekarang ini. Semuanya tuh ga ada yang instan, jadi ya pelan-pelan saja. Dan yang paling penting kita ga boleh takut salah ataupun malu.

Ada beberapa pihak yang tidak mau bergabung dengan EC (entah karena alasan udah bisa bahasa Inggris atau karena merasa dia ga PD atau ngerasa bahasa Inggrisnya masih kacau atau ngerasa yang jadi anggota EC itu pintar-pintar atau gatahu lah). Terserah aja deh mau bergabung ataupun ga. Tapi tolong dong jangan kasih alasan yang menyudutkan kami. Aku ga akan bilang sapa orangnya, Cuma denger-denger si orang itu bilang kalau yang jadi anggota EC itu bahasa Inggrisnya bagus-bagus sedangkan dia bahasa Inggrisnya masih jelek. Ini yang ingin aku bahas dalam postinganku. Kalau kami pintar ga mungkin kami akan mendirikan EC dikantor. Itu logikanya kan. Ngapain coba buang waktu percuma untuk sesuatu hal yang tidak berharga. Jujur saja semua anggota EC itu butuh sarana untuk speaking, kita sadar ko berbahasa Inggris itu kebutuhan. Apalagi yang saat ini ingin ambil kuliah master di luar negeri. Pastilah butuh sekali speaking yang bagus, cara pengucapan yang benar dan grammer yang bagus. Oleh karena itu kami ngadain EC. Ga ada batasan level di EC ini. Yang sudah bisa dan berpengalaman (seperti bu Faiz, teh Dini, bu Ika atau mbak Fitri) ga segan-segan tuh ngajarin kami. Lagian juga ada ko yang bahasa Inggrisnya pas-pasan. Kalau boleh dijadikan contoh ni, aku salut dengan Paijo. Dia tuh kadang cara pengucapannya membuat aku binggung dia ngomong apa. Tapi dia paksain juga ngomong walau terkadang salah cara pengucapannya. Trus kita kasih tahu yang bener seperti apa. Dia mau dengerin dan ga patah semangat. Walau kadang dia bilang si padaku gini “ Yu, aku malu temanan ma sampeyan. Habisnya bahasa Inggrisku ko salah semua tho grammernya”. Tapi dia mau berusaha, setiap kali salah dia terus ingat dan kemudian hari lain ga ngulang lagi (walau terkadang masih juga hehhehe). Intinya si Cuma satu, kalau ingin maju siaplah bertarung dengan orang lain. Jadi jangan jadikan kelemahan kalian sebagai pembenaran bahwa komunitas kami (EC maksudnya) adalah komunitas elite. Kami rasa bukan seperti itu ko, coba aja deh masuk dan gabung ke EC. Pasti kalian akan ngerasain hal yang menyenangkan. Gratis pula, coba kalian ambik kursus diluar pasti bayar kan hehhee..

Trus ada satu alasan lagi yang membuatku tertawa. Alasan kenapa ga mau gabung hanya karena statusnya masih honorer. Emang sih sebagian besar anggotanya statusnya sudah PNS, tapi disitu kan ga tertulis khusus PNS dan CPNS. Kenapa sih setiap kali ada kegiatan yang baik selalu dihubung-hubungkan dengan status? Padahal kami kan ga mensyaratkan seperti itu? Atau perasaan mereka saja ya? Setelah berbincang-bincang dan memberikan pengertian bahwa maksud dan tujuan EC adalah untuk melatih kita ngomong dalam bahasa Inggris. Ga ada hubungannya dengan status PNS, CPNS ataupun honorer. EC terbuka buat semuanya, ga mengenal status peneliti, administrasi atau apapun. Yang penting ingin belajar dan meningkatkan kemampuannya dalam berbahasa Inggris terutama dalam speaking. Akhirnya yang ngasih alasan itu bergabung juga dalam EC. Seneng deh bisa membuka wawasan orang agar bisa terbuka dengan perubahan. Aku juga ngasih tahu dia untuk mencari jalan lain daripada menunggu yang tidak pasti. kalian tahu sapa dia? Dia adalah om Didi. Hehehe akhirnya aku bisa membujuk om Didi. Ayo om maju terus dan raih impian terbesarmu. I keep my promise, and I will help you to reach your dream.

Ada alasan lain yang membuatku sampai sekarang ingin banget merubah pandangannya. Tapi masih saja gagal. Semoga saja Allah membuka hatinya untuk bisa menerima perubahan. Dia beralasan ga ikut EC karena di EC harus ngomong. Ya elah namanya juga English Conversation gitu lho. Yapastilah harus ngomong tho. Memangnya kenapa kalau disuruh ngomong bahasa Inggris? Takut salah? Ga tahu bahasa Inggrisnya apa? Atau takut grammernya yang salah? Ehm sampai aku nulis ini aku belum menemukan jawabannya. Sekarang gini deh, kalau dia pintar bahasa Inggris tapi Cuma pasif ya ga mungkin akan bisa maju tho. Masa gini, kalau ada seminar trus ada season pertanyaan dan kita mau nanya (kebetulan seminarnya dalam bahasa Inggris), kita tulis aja pertanyaan kita dikertas trus kita berikan ke penyaji gitu. Kaya orang bisu dong hehehe. Lucu kan, atau mungkin kita bakalan diketawain kali. Trus ntar gimana ceritanya kalau ada seminar dan kita yang disuruh jadi pembicara. Nyuruh orang lain yang bawain? Hehehehe.. Aneh dan lucu kan?

Itu beberapa alasan yang aku dengar selama adanya EC. Gatahu kalau diluaran masih ada alasan lain. Tapi dari semuanya aku bisa merangkum sebenarnya kenapa mereka ga mau bergabung dengan EC (kecuali buat orang-orang yg ga butuh EC) adalah mereka malu, takut salah dan ga PD buat ngobrol dengan bahasa Inggris. Kemudian mereka mencari pembenaran buat dirinya bahwa tidak bergabung dengan EC itu ga masalah ko. Tapi kalau ada yang nanya kenapa ga bergabung dengan EC mereka berusaha menyakinkan orang yang nanya itu bahwa anggota EC kebanyakan dah pintar-pintar sedangkan dirinya blom pintar. Itulah sifat dan kebiasaan orang Indonesia, berusaha mencari pembenaran atas sikap dan perbuatan mereka tanpa instropeksi kedalam diri mereka masing-masing. Apa si kekurangan mereka? Ok lah kalau ga mau bergabung dengan EC, tapi tolong jangan kami yang dijadikan alasan. Kenapa ga nyari alasan dari diri anda saja? Kesannya kan kami ini jadi golongan elite yang ga mudah terjangkau oleh kalian. Padahal kami ga pernah membuat jarak itu, yang membuat jarak itu semakin jauh kan kalian sendiri.

Kemaren sempat ada yang ngasih saran, untuk yang bahasa Inggrisnya ga bagus kenapa ga dibikin kelas sendiri. Lha kalau dibikin kelas sendiri sapa ntar yang ngawasin? Ya yang bahasa Inggrisnya pintar. Ehm berarti kerja dua kali dong. Namanya juga conversation pasti ga ada level-levelan dong. Ya itu masukan sih, tapi aku rada pesimis berhasil jika yang bahasa Inggrisnya masih belum bagus dikumpulin menjadi 1 group terpisah dengan yang sudah bagus bahasa Inggrisnya. Kenapa aku pesimis? Karena ntar gimana lihat progressnya, kan ga bisa bandingin. Lagian dengan dicampur kita bisa lihat kemajuan teman kita. Pasti lah dalam diri tiap orang itu ada rasa ga suka tersaingi, jadi kalau dia sudah tersaingi maka dia akan berusaha mengejar ketertinggalannya. Jadinya dia makin bersemangat untuk bisa menaklukan bahasa Inggris kan? Tapi gatahu juga ya tiap orang pasti berbeda sih pandangannya.

Sebagai penutup, aku hanya ingin memberikan saran. Kalau ingin maju lihatkan ke atas, bertemanlah dengan orang-orang yang selalu ingin berubah, latihlah dirimu dalam persaingan dan jangan pernah malu untuk berbuat salah. Satu lagi pesanku, janganlah kalian menyalahkan kami atau mencari-cari kesalahan kami (khususnya anggota EC) jika suatu saat kami lebih berhasil dari kalian semua. Karena aku yakin para anggota EC adalah orang-orang yang mau menerima perubahan dan mau berubah. Belajar bahasa Inggris ga mudah, itu membutuhkan waktu lama dan panjang. Untuk berani ngomong pun butuh keyakinan yang kuat. Bahasa Inggris adalah bahasa utama yang dibutuhkan untuk ke semua negara. Dan bahasa inggris adalah modal pertama kita untuk bisa mendapatkan beasiswa. Apakah kalian ga mau mendapatkan beasiswa ke luar negeri? Atau emang sudah cukup keberadaan kalian di sini?

9 thoughts on “Ingin berubah dan maju atau tidak?

  1. weleh… weleh….
    what you did with your workplace is something great!
    I salut you.
    I’ve done the same thing since 2004.
    wherever I stay, I try to make an english speaking club.
    n of course there are always troubles in the process.
    but it’s a learn for us

  2. we (not I coz we develop everything about English in a team), we made some clubs also in secondary and senior high school in Central and East Java. the result was good. unfortunately we have to leave them coz we have to face our new job in Jakarta (but we are still connected to English things every moment).
    we made some games to raise the new members’ self confidence.
    so they themselves would find any problems that they faced in learning English

  3. Klo aku sadar betul bahasa inggris ku belepotan, ancur and amburadul abis..
    Tapi aku super pede klo lagi di ajak ngobrol sama org bule, walaupun terbata2 & sering kaya “Jaka Sembung Bawa semen, Gak Nyambung Man..” yang penting tuh org bule ngerti apa yg aku maksud. hehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s