Sebuah Pelajaran Hidup

    Hidup mesti berjalan, yang sudah berlalu tidak bisa kembali lagi, yang terjadi saat ini pasti akan berlalu dan masa depan penuh dengan ketidakpastian. Ingin rasanya memulai hari ini dengan sebuah senyuman dan semangat baru. Mencoba melupakan dan memaafkan perkataan seseorang, tapi kenapa sampai saat ini aku belum bisa? Kenapa harus selalu aku ingat perkataan itu? Padahal memaafkan tidak lah seberat memindahkan samudera, tapi kenapa aku belum bisa? Ya Allah bantu aku untuk bisa memaafkannya…
    Teringat sebuah kisah saat aku liburan ke Jogja akhir tahun kemaren. Saat itu aku beserta Rivo, Paijo alias Ismadi, Teguh dan Ahmad sedang jalan-jalan ke Candi Prambanan. Awalnya ga ada rencana mau mampir ke Candi tersebut, berhubung masih siang dan sekalian lewat setelah pulang dari Resepsi nikahan Om Syam yasudahlah kami mampir. Ini cerita bukan tentang cerita Candi Prambanan tapi sebuah cerita yang sampai saat ini masih saja aku ingat.
Saat kami mau pulang, tiba-tiba saja seorang nenek tua renta kira-kira berumur 70 tahunan mendatangi mobil kami. Awalnya si kami pikir dia seorang pengemis yang minta sedekah. Teguh nyeletuk untuk ngasih uang ke nenek itu, awalnya Paijo bilang kayanya bukan pengemis deh. Dan bener ternyata nenek itu penjual tahu bacem. Paijo pun akhirnya membeli tahu itu, tanpa kami duga dari mobil kami lihat kalau nenek itu nanggis sambil berguman (kami ga denger apa yang nenek itu bicarakan). Waktu Paijo sampai ke mobil kami, kami nanya kenapa nenek itu nanggis. Paijo cerita kalau kita pembeli pertama dan dagangannya masih banyak juga. Trus dah gitu tadi si nenek doaiin semoga banyak rejeki, diberi kesehatan dll tapi ko ga di doain supaya cepat dapat jodoh ya kata Paijo lho ( Dasar paijo). Tersentuh dengan perilaku nenek itu, kami memutuskan untuk membeli lagi tahu itu. Dan lagi-lagi kami melihat nenek itu nanggis. Kata Paijo nih, nenek itu nanggis karena ingat anak dan cucunya.
    Bener-bener membuat aku tersentuh kalau ingat kejadian itu. Semangat nenek tua itu untuk bekerja dan mendapatkan sesuap nasi sangat2 pantas dihargai. Beliau memilih untuk berjualan tahu bacem daripada jadi pengemis. Sebuah pilihan yang sangat2 tepat. Dipenghujung usianya beliau masih saja bekerja, padahal bukannya seharusnya beliau saat ini dirumah jagain cucunya dan menikmati hari tuanya. Kemanakah saudara2 nenek itu ya? Dimanakah anak2 beliau? Ya Allah lindungi nenek itu ya dan aku titip  beliau kepada Mu Allah. Jaga beliau dan berilah rezeki serta berkah kepada beliau.
    Semua perjalanan hidup manusia di dunia ini tidak bisa ditebak. Aku sendiri ga tahu jalan hidupku mau kemana. Satu yang pasti aku ingin menggapai ridho Allah. Terkadang saat aku sendiri aku ingat nenek tua yang aku temui di Candi Prambanan itu, jika aku diberi waktu untuk bisa membahagiakan dan menjaga kedua orang tuaku aku ingin menjaga mereka seumur hidup mereka. Dan aku ga ingin kejadian yang menimpa nenek itu terjadi pada kedua orang tuaku kelak.
    Dalam hidup ada naik dan turunnya, semoga saja disetiap langkah kehidupanku ini aku bisa belajar dari pengalaman orang. Bisa jadi bijaksana dalam menghadapi semua permasalahan dan tidak memandang orang hanya dari materi. Berusaha untuk bisa jadi orang baik.

3 thoughts on “Sebuah Pelajaran Hidup

  1. toel trias, jadilah orang bijak, dan untuk bisa seperti itu seperti mendaki tebing terjal. tapi dengan tubuh lo yg 37 kg pasti lo bisa mendakinya hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s