Ketika hitungan matematis tidak berlaku

Ini adalah cerita titipan dari OmDidi, dia pengen di publish di blog aku. Yasudahlah sebagai ponakan yang sangat berbakti dengan om nya, maka diijinkanlah kisah om Didi ini nampang di blog ku ini. Ok deh met menikmati cerita Om ku ini ya..

Ketika hitungan matematis tidak berlaku

by Didi Tarmadi

 

Sebuah cerita yang diilhami oleh kisah nyata

            Panggil saja dia Bang Yos. Aku biasa memanggilnya demikian. Tentunya bukan mantan orang nomor satu DKI Jakarta. Umurnya berada diantara zona tiga puluh empat puluh tahun. Berperawakan sedang, tidak kurus juga tidak gemuk. Alias ideal. Dia tidak

merokok. Tapi dia juga suka minum kopi. Kulitnya kuning langsat, berwatak periang dan raut mukanya jarang sekali ditekuk. Senyumnya yang khas bersama lesung pipit seperti galian gasing di padang sahara. Kumisnya terlihat jarang berpadu dengan jenggotnya yang panjang tapi jarang juga. Dari penampilan, lumrah-lumrah saja (seperti kebanyakan karyawan di kantorku), hanya saja pakaiannya jarang bermerek tapi tetap di setrika.    Dia setahun lebih dulu kerja di kantorku, artinya dia seniorku. Kami beda devisi. Dan sudah hampir tiga tahun aku mengenalnya. Setiap hari aku bisa bertemu dengannya  sepuluh kali. Biasanya kami bertemu di lorong kantor. Dan setiap bertemu aku biasa menghabiskan waktu sekitar sepuluh menitan untuk bercengkrama dengannya. Gosip-gosip murahan yang sering ditayangkan infotainment, cerita seputar keluarga, kolaborasi kerjaan dan hal-hal sepele lainnya menjadi topik pembicaraan saat kami bersua. Cerita yang biasanya mengantung karena kesibukan masing-masing akan dilanjutkan pada perjumpaan selanjutnya.

            Setiap tanggal satu pagi kami biasa berkumpul di ruangannya. Ada juga kawan-kawan yang lain. Saling memperlihatkan struck gaji. Disitu tertera tulisan dengan jelas “gaji pokok” di bawahnya terdapat tulisan “potongan koperasi” lalu ada tulisan juga “potongan utang.” Kami biasanya menertawakan yang punya potongan koperasi dan potongan utang yang besar. Canda itu bisanya hanya berlangsung sekitar sepuluh sampai dua puluh menitan. Setelah itu wajah-wajah akan sedikit ditekuk sambil duduk. Ada yang duduk di kursi, di meja atau ngejoplak di lantai. Asap nikotin yang dihisap dalam-dalam akan terhempas lepas saat nafas dihembuskan sekencang-kencangnya. Hembusan yang menandakan kerisauan bersama angka yang tertera di struck gaji yang nominalnya sangat miris. Termasuk aku. Mungkin, aku masih beruntung karena masih bujangan saja,  jadi angka yang tertera di sepotong kertas yang biasa dihekter diatas beberapa lembar uang masih bisa bersaldo walaupun sangat jauh untuk membeli pulau dewata atau pesawat boeing. Mimpi aja ga nyampe kale bro.

            Bang Yos memiliki dua orang malaikat kecil. Galih adalah anak pertamanya. Ia berumur 2.5 tahun. Seperti anak kebanyakan. Galih anak yang periang, manja, nakal dan masih suka menangis saat keinginannya tidak dikabulkan. Galih tidak ikut play group. Tapi kercerdasannya mulai tampak pada sinar mata dan daya repleks berpikirnya. Dia sudah bisa membaca huruf-huruf alphabet tapi masih  agak kesusahan untuk merangkaikan kata terutama membaca “ng” dan “ny”, dia juga sudah bisa menghitung angka dari satu sampai dua puluh tapi cukup kesusahan untuk menghitung angka diatas dua puluh, tangannya akan bergerak-gerak lama saat ia mencoba penjumlahan dan pengurangan. Dan dia juga sudah bisa menuliskan huruf dan angka walau tulisannya masih seperti cakar ayam.  Anak keduanya berumur satu tahun diberi nama Gilang. Tampak subur, lucu dan menggemaskan. Aku paling suka menggendongnya lama. Selalu ada getaran kedamaian merambat sejuk saat menggendong Gilang. Sepasang matanya yang bening dengan bola mata hitam mempesona seperti oase yang memberi kesejukan ditengah himpitan beban hidup yang rasanya sangat kompleks.

            Aku biasa mennyambangi kontrakannya dua hari dalam satu minggu. Galih selalu keluar lebih dulu seolah dia sudah hafal dengan suara motorku. Yah, kalo lagi beruntung dia akan mendapatkan mainan, buku gambar atau makanan yang biasa aku beli di jajanan pasar rakyat. Teh Lilis suaminya Bang Yos selalu tersenyum manis saat menyuguhkan segelas air putih.

            “maaf gulanya habis.” Katanya sembari bergurau.

            “air putih lebih menyehatkan.” Kataku sambil membalas senyumannya.

            Aku biasa duduk di kursi kayu memanjang di depan beranda kontrakannya yang sempit. Entahlah aku suka duduk lama-lama disana. Aku seperti menemukan sebuah kehidupan yang lain. Sebuah kehidupan yang dibangun dari bata-bata kesederhanaan. Ada pembatasan hasrat dunia dipadu dengan rasa syukur yang nyata. Akh, sesuatu yang sangat sulit ditemukan ditengah kehidupan metropolis.

            “buatku asalah keluarga bisa makan, anak-anakku bisa minum susu dan bisa beribadah dengan tenang. Maka tujuan hidupku sudah tercapai.” Bang Yos berkata lirih seraya menatap Teh Lilis dengan penuh kasih. Teh Lilis tersenyum manja. Sepasang matanya menyiratkan persepsi yang sama dengan Bang Yos. Entahlah, apakah bentuk persepsi mereka tercipta karena kondisi kehidupan mereka yang memaksa mereka menyederhanakan hasrat keduniaan ataukah persepsi itu sudah terbangun jauh sebelum kesusahan hidup menyapa mereka.

            “Aku tidak pernah risau dan takut dengan kehidupan ini. Rezeki itu sudah ada jatah dan aturannya.” Kata-katanya terdengar mantap. Kata-kata yang sudah sering aku dengar dari mulut-mulut orang-orang baik di pengajian atau di mimbar-mimbar. Tapi kata-kata yang diucapkan Bang Yos terdengar lebih mengena dan mampu menelusup lalu terpatri di hati dan otakku. Walau demikian kata-kata itu tetap saja  masih menjadi sebuah teori atau retorika yang membuatku masih saja bimbang untuk melangkah ke dunia yang penuh.

            Seperti senja itu. Butir-butir hujan tampak mulai menetes dari muka langit yang tampak buram lalu sesekali kilat menoreh wajah langit menimbulkan suara guntur yang menggelegar. Arak-arakan awan dari sudut-sudut langit menyatu lalu membentuk lapisan awan hitam yang semakin tebal. Mataku terus menatap kebiasaan buruk langit di senja hari di kotaku. Sudah hampir setengah jam aku terdiam di depan lobi utama.

            “belum pulang mas?” Bang Maun satpam front office menyapaku ramah. Aku hanya menggeleng lemah sembari tersenyum sebisaku. Desahaan nafasku menyaingi jarum jam yang berdetak satu-satu di dinding. Yah, sebenarnya badanku lelah karena beban kerjaku hari ini begitu padat. Ingin rasanya terbaring damai lalu lelah itu hilang. Tapi belakangan ini berbaring di kostan tidak juga membuat lelah hilang. Pikiran tak mau diajak mengikuti hasrat untuk berehat tapi justru melayang-melayang menyusuri buritan-buritan langit lalu menaiki tangga-tangga khayangan dan mencipta bertemu bidadari-bidadari yang sangat sesuai dengan kriteria. Peri-peri yang tidak pernah berjumpa tapi seolah nyata dan ada. Akh, sebuah perjalanan khayal yang panjang yang justru semakin menimbulkan lelah.

            Kubelokan saja motorku berlawanan arah menuju kostanku. Satu tujuanku yaitu menyambangi rumah Bang Yos mudah-mudahan mereka tidak bosan dengan kedatanganku. Dari kejauhan aku bisa melihat Bang Yos dan Teh Lilis sedang duduk rapat. Tangan Teh Lilis memijat-mijat pundak Bang Yos. Perlahan Bang Yos merebahkan kepalanya di pangkuan Teh Lilis Lalu Teh Lilis memijat-mijat kening Bang Yos yang lebar. Adegan itu membuat motorku terhenti. Ada keraguan menyelinap pada relung hatiku untuk meneruskan perjalanan ke arah kontrakan Bang Yos yang tinggal beberapa puluh meter lagi. Dengan helaan nafas yang panjang aku membelokkan kembali sepeda motorku. Aku tidak ingin mengganggu kemesraan mereka.

            Sepenjang perjalanan pikiranku terus melayang-malayang seputar kehidupan Bang Yos. Gajinya sebulan yang hanya setara dengan 5 porsi sedang menu di steam boat tempat menjamu orang-orang Jepang atau setara dengan 15 loyang pizza super prime. Yang pasti angka di struck gajinya belum bisa menyentuh upah minimum propinsi alias tergelincir cukup jauh dari gaji miskin versi pemerintah. Lalu setiap bulan Bang Yos harus mengeluarkan dua puluh persen dari gaji nya untuk membayar kontrakan alias rumah petak. Hmm, teori matematis atau statistik paling sederhana pun akan menyuguhkan fakta bahwa tak mungkin Gilang dan Galih bisa menghirup udara. Gizi mereka tidak akan mencukupi untuk meneruskan pertumbuhan atau membentuk sel-sel kecerdasan di otak-otak ranum mereka. Tapi, fakta menunjukkan Gilang dan Galih masih hidup. Galih justru tumbuh cerdas dan Gilang semakin montok saja. Dan sore tadi aku masih menyaksikan kemesraan tulus yang mereka suguhkan di beranda kontrakan. Sebuah momen yang boleh jadi menjadi langka bagi orang-orang berdasi yang bekerja di kantor-kantor tinggi menyentuh langit.   

            Setauku Bang Yos tidak punya usaha lain. Bagaiman mungkin. Kerja dari pagi pulang petang. Kapan bisa nyambi lagi. Hampir saja sepeda motorku menabrak mobil honda jazz merah jambu yang mendadak berhenti. Sebuah kepala melongok dari kaca pintu mobil yang secara otomatis terbuka. Kepala milik seorang wanita yang ditaburi dengan sepasang bulu mata lentik tebal, hidung mancung dengan bibir mungil merah muda dengan kulit putih, sepintas mirip Prisa Adinda. Wanita muda itu sejenak menatapku lalu mendesah pelan kemudian kembali menekan tombol penutup kaca pintu mobilnya. Sudut mataku masih terus menatap sosoknya dari balik kaca mobilnya. Ia tampak santai duduk di balik stir yang bagian tengahnya terdapat logo Juventus. Lalu sudut mataku terbentur pada pada sosok ibu-ibu tua yang sedang menggendong anak kecil yang kumal. Ibu pengemis itu menjulurkan tangannya yang keriput ke arah wanita muda itu. Wanita muda itu tidak berekasi. Ia tampak sibuk dengan Ipod nya. Ibu pengemis itu masih sabar menjulurkan tangannya sambil bibirnya bergerak-gerak. Aku tidak mendengar kata-kata yang meluncur dari bibir kering ibu pengemis itu karena helm full face menutupi pendengaranku. Wanita muda dengan pakaian merah bergaris garis ketat itu tetap tidak berekasi, perlahan ia memalingkan pandangannya ke arah lain. Mungkin ia enggan mengotori pandangannya dengan sosok kumal dan menjijikkan.

            Kembali pikiranku tersita pada kehidupan Bang Yos. Pemandangan kontras wanita muda dan ibu pengemis itu segera menghilang. Aku masih memikirkannya karena tertarik dengan fakta hidup yang kadang tidak rasional dan tidak terukur. Aku masih tidak habis fikir kenapa Bang Yos masih bisa tersenyum, masih bisa bercanda dan kenapa Teh Lilis juga menampilkan warna yang sama. Cintakah yang membutakan mata Teh Lilis sehingga dia mau mengayuh sampan bersama Bang Yos menyusuri lautan kemiskinan. Benarkah mereka benar-benar miskin atau kah sesungguhnya mereka yang kaya. Kalau mereka miskin mengapa mereka masih bisa bermesraan di beranda dan jarang sekali aku dengar keluh kesah Bang Yos. Boleh jadi justru akulah yang  sering berkeluh kesah dan Bang Yos hanya tersenyum-senyum saja setiap kali mendengar keluh kesahku.

            “anakku sedang sakit dan harus dirawat di rumah sakit.” Seorang ibu muda yang bersebelahan dengan ruanganku berkata lirih pada ibu muda yang seruangan dengannya. Dari perkataannya aku bisa mendengar tendensi kekhawatiran yang begitu besar. Reaksi normal seorang ibu mendapati belahan jiwanya terbaring sakit. Siapapun pastinya akan khawatir. Yang menarik, tak pernah aku mendengar Gilang dan galih harus dirawat inap di rumah sakit. Kalupun sakit  paling banter panas dan batuk dan akan segera sembuh bila minum obat. Tak bisa kubayangkan seandainya Galih atau Gilang dirawat inap di rumah sakit.

            “kenapa harus cemas. Toh itu belum tentu terjadi.” Kata Bang Yos ringan saat aku mengkonfirmasi bayangan yang terlintas di benakku itu.

            “kalau seandainya itu terjadi Bang?” Tanyaku penasaran.

            “ada yang diatas.” Kata Bang Yos optimis seraya mengacungkan telunjukknya ke atas.

            Hidup memang bukan itung-itungan matematis. Dan pada kasus Bang Yos sepertinya postulat itu benar-benar berlaku. Lalu siapa yang mencukupinya. Tentunya Tuhan lah yang mencukupiNYA.

8 thoughts on “Ketika hitungan matematis tidak berlaku

  1. Bagus ceritanya…. memang benar adanya terkadang hitungan matematis tak berlaku dlm menjalani hidup ini. =) Buat penulis….more practice will make u more expert in this field. Jangan ragu untuk mempublikasikannya tulisannya, mgk bisa bermanfaat untuk orang lain. Hehehe peace ya !!!

  2. makacih komennya yah bu. Hopefully dapet membikin sesuatu yg dpt dipublis. Now, lg nyoret2 microsoft word nh rencanannya bikin kaya orang laen, pengnnya siy kaya Andrea Hirata. Boleh dunk ntr jd editornya. thanks before.

  3. @ om Didi

    Ceritanya panjang amat hehehe.. sekedar info aja ya om, tulisan om banyak yang baca tapi mereka ga ninggalin jejak alias ga pernah kasih komen. Om tulisan om mengalahkan postingan ku yang lain hehehe.. Mana ni om oleh2nya dari Malingsia hehehe

  4. Walau demikian kata-kata itu tetap saja masih menjadi sebuah teori atau retorika yang membuatku masih saja bimbang untuk melangkah ke dunia yang penuh.

    Hehehe.. makanya penuhin dulu dunianya (baca: KAWIN).. biar bisa merasakan…😀

    Kapan.. kawiin… ???

  5. ya namanya juga om Didi gitu lho.. Menangnya kan cuma di teori aja, prakteknya mah masih kalah hehehe..

    @om Syam
    ngomongin kawin mulu si.. trus si om kapan kawinnya hehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s