Selamat datang pada budaya fitnah

Ehm , barusan ni aku nemuin artikel yang bagus dan semoga bermutu dan berguna bagi fans blog ku (:D gaya amat si, emangnya ada yang baca ya). Kalau menurutku si artikelnya bagus, karena bisa jadi ini terjadi di sekitar kita. Ya setidaknya bisa buat perenungan pertengahan November yang dah mulai ujan terus di Bogor (Siap2 deh tiap pulang kantor keujanan)

Tutur kata yang baik berasal dari orang yang baik, dan tutur kata yang
buruk berasal dari orang yang tidak memiliki tata-krama.

Manusia, makhluk sosial, makhluk yang tidak dapat hidup
tanpa keberadaan manusia lainnya. Hidup dalam kelompok ataupun hidup
dalam kesendirian tetap saja membutuhkan keberadaan oragn lain. Salaing
memberikan informasi dan juga kasih sayang, membangun sebuah kebudayaan
dari hasil buah pikiran. Manusia makhluk yang selalu berubah, dari
waktu-ke-waktu merubah bentuknya dalam kehidupan sosial, sehingga jaman
selalu saja berubah, kekekalan energi menjadi yang merubah semua, ada
aksi dan muncul reaksi, dan bergitu seterusnya.

Dalam tulisan yang masih membutuhkan banyak kritik dan
masukan ini penulis ingin menyampaikan suatu bentuk budaya baru yang ada
di dalam masyarakat, yaitu budaya fitnah. Fitnah dalam kamus besar
bahasa indonesia adalah perkataan bohong atau tanpa dasar kebenaran yang
disebarkan dengan maksud menjelekkan orang. Budaya untuk menjelekkan
orang lain dengan tujuan menjatuhkan orang tersebut, sungguh hina sekali
apa yang dilakukan oleh para pemfitnah dan sungguh nikmat sekali bagi
orang yang difitnah, mengapa penulis katakan sangat hina apa yang
dilakukan oleh seorang pem-fitnah adalah karena sungguh ketegaan dirinya
menyebarkan suatu dusta yang dapat mencelakakan orang lain, ingat fitnah
itu lebih kejam dari pada pembunuhan, bagaimana jika orang yang menjadi
korbannya itu mendapat celaka dari apa yang sebenarnya suatu kebohongan,
dan kecelakaannya sangat menyakitkan bagi si korban bahkan berujung pada
kesengsaraan, bukan hanya untuk dirinya pribadi tapi juga berimbas
kepada nama baik keluarga, anak-anaknya, sanak saudaranya, istrinya,
orang tuanya kaum kerabatnya, hinggga semua orang yang dekat dengan
dirinya. Memang sungguh dahsyat efek dari fitnah. Dan penulis mengatakan
sungguh nikmat bagi mereka yang difitnah adalah karena berarti orang
lain ada yang dengki terhadap dirinya, orang lain ada yang iri atas
sesuatu yang ada dalam dirinya, orang lain melihat suatu berkah yang
tidak dimiliki oleh orang lain itu, dengan kata lain ada kenikmatan,
keberuntungan, kebaikan, kesejahteraan dan keberkahan di dalam dirinya
dan hal itu sangat tidak disukai oleh si tukang fitnah atas dasar iri,
dengki dan benci. Maklum banyak orang kini yang tidak senang atas
kegembiraan orang lain.

Tidak senang atas kebahagiaan orang lain merupakan suatu
bentuk persaingan yang tidak sehat, coba bayangkan jika kita tidak suka
atas suatu kebaikan yang diperoleh oleh orang lain, apa yang
mendasarinya, mungkin kita takut untuk kalah dan berada pada posisi yang
lebih rendah dari orang lain, dengan begitu berarti kita adalah seoragn
egois yang selalu meminta untuk dipuja dan di sanjung tanpa alasan yang
jelas. Bisa jadi juga kita ini iri terhadap orang lain, kita ini berarti
tidak mampu untuk melakukan lebih baik dari orang lain yang kita iri-kan
itu, berarti kita kalah dan kita salah juga lebih lemah keadaannya. Atau
dengki yang merupakan penyulut utama dari perbuatan fitnah itu,
kedengkian adalah posisi marah ketika ber-iri hati, jujur kalau boleh
jujur manusia memiliki perasan ini tanpa kecuali. Menurut penulis
kedengkian pada awalnya juga merupakan suatu metode pertahanan diri,
suatu “alarm pengingat” kalau posisi kita berada lebih lemah
dari orang lain. Yang pada dasarnya manusia ingin berada selalu diatas
tanpa pernah ada dibawah, keegoisan dasar yang membuat manusia selalu
berkembang dari waktu-ke-waktu. Tapi dalam suatu kadar yang besar
kedengkian dapat mengakibatkan petaka bagi orang lain ataupun untuk diri
sendiri. Lebih baik untuk tidak mendengki dan terus saja berusaha jika
menginginkan suatu posisi yang lebih baik. Persaingan yang sehat
merupakan suatu cara yang dapat membawa pada kesejahteraan, tapi
persaingan yang tidak sehat dapat membawa suatu perilaku yang
sampai-sampai cenderung tidak manusiawi seperti mem-fitnah tadi.

Kenapa kita tidak merasa gembira atas kegembiraan orang
lain, sungguh aneh sekali orang yang merasa susah hati hanya karena
melihat orang lain mendapat suatu kebaikan, tidak baik untuk membiarkan
hati tenggelam dalam keadaan benci, hal itu sama saja melakukan mode
penghancuran diri sendiri, selain dapat mencelakakan orang lain hal itu
juga sangat berakibat buruk terhadap diri sendiri. Buanglah jauh-jauh
kebencian dan iri hati serta dengki dalam diri kita, mulailah berusaha
dengan keras untuk mendapat kebaikan, tidak usah merasa susah atas
kebaikan yang didapat orang lain, kenapa kita tidak menerima kenyataan
dan mendapat keringanan dalam hati atas perasaan yang menerima keadaan.
Jadikan keberhasilan orang lain sebagai motivator kita dengan kata
“dia bisa kenapa saya tidak” bukannya “dia bisa maka saya
tidak suka”.

Ada ketetapan dan juga janji alam di atas bumi ini, salah
satu dari contoh janji itu adalah seseorang yang menanam singkong maka
akan menuai pohon singkong, itulah janji alam ini, tidak mungkin
seseorang yang menanam singkong kemudian tumbuh pohon jeruk atau pohon
jengkol. Begitu juga dengan hati, siapa yang menanam kebencian didalam
dirinya maka akan menuai kebencian, mungkin akan terbakar benci dan
dibenci oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Dan bagi yang menanam
kebaikan maka akan menuai kebaikan. Siapa yang bekerja keras mencari
uang maka akan mendapat uang, siapa yang belajar untuk menjadi pintar
maka akan menuai kepintaran. Itu adalah sebagian hukum alam. Kerja keras
yang cerdas akan menghasilkan hasil yang memuaskan.

Tanpa ada dengki, iri dan benci dalam kehidupan
bermasyarakat maka kita termasuk orang-orang yang mendukung adanya
kebaikan bagi banyak orang. Buat apa juga memeliharanya dalam diri
segala bentuk keburukan itu. Sebagai bagian dari kelompok masyarakat
menebar fitnah bisa dimulai tanpa sadar, dan bisa juga menebar fitnah
dengan sadar dan dengan tujuan yang jelas, sangat tidak baik untuk
melakukannya, hanya dengan kesadaran diri kita bisa menahannya.
Kesadaran diri yang menerima keadaan diri, jika kita kurang dari orang
lain maka kita harus mengetahui dimana kekurangannya, mungkin kita
kurang berusaha, mungkin kita kurang dalam kerja keras sedangkan orang
yang kita iri-kan itu bekerja keras tanpa kita ketahui. Ingat iri adalah
tanda ketidak mampuan, jika kita tidak mampu maka mengaku kalah sajalah,
dan bila kita tidak menerima atas ketidak mampuan kita maka berusahalah
lebih keras untuk menunjukan kebisaan kita, bukan dengan memfitnah
mereka yang lebih dari kita dalam berbagai hal.

Ketika memfitnah sudah terlihat tanda-tandanya untuk
menjadi suatu budaya, maka hanya kita yang mampu menahannya, jangan
sampai hal itu terjadi, dan jangan sampai hal itu menjadi sesuatu yang
diwajarkan oleh masyarakat, tidak ada kebenaran sedikitpun dibalik
sebuah fitnah dan juga tidak ada kebaikan dibaliknya. Menuduh seseorang
atas perbuatan yang tidak pernah dilakukannya, menghancurkan orang lain
dan juga orang yang ada di sekitarnya. Untuk mereka yang difitnah tidak
perlu khawatir karena jika memang hal yang dituduhkan tidak benar adanya
maka tidak perlulah takut, selalulah berani bertindak atas dasar
kebenaran, junjunglah kebenaran dengan berani. Alam telah berjanji dan
tidak pernah mengingkari. Dan orang yang paling kaya adalah orang yang
paling bersyukur….

…Selamat jalan fitnah, kau tidak akan pernah menjadi
budaya diantara kami, kami berdiri diatas kebenaran dan memberikan
penilaian berdasarkan ketulusan, semoga engkau hanya menjadi suatu
legenda yang penuh dengan pelajaran bagi orang yang menggunakan akal dan
pikirannya, serta bagi mereka yang berperasaan jernih tanpa pernah
menanam keburukan di dalamnya…. (sumber :http://groups.yahoo.com/group/sukasukamu/message/1036)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s