Demi anak atau egois

Kisah ini hanyalah kejadian fiktif belaka, jika ada kesamaan dengan tempat, pelaku, dan waktunya maka itu hanyalah suatu ketidaksengajaan.

Aku gatahu apa ini satu2nya jalan bagi orang tua untuk membahagiakan anak2nya atau untuk sekedar karier dan materi. Kadang aku bingung dengan langkah seorang ibu muda yang menurutku tega meninggalkan anaknya demi sebuah karier. Walaupun ibu itu bilang demi masa depan anaknya kelak. Masa depan seperti apakah yang diinginkan ibu itu? Bukannya seorang bayi itu hanya menginginkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya. Bukan materi ataupun harta yang melimpah?

Aku gatau pertimbangan apa yang sudah diambil kedua orang tua dari bayi munggil itu, sehingga merelakan anaknya di asuh neneknya di sebuah kota kecil di Jawa. Ditempat yang sangat jauh dari orang tuanya terutama ibunya. Kadang aku heran betapa kuatnya hati ibu bayi itu dapat berpisah jauh dengan bayi yang dilahirkan. Mungkin saat ini banyak banget ibu2 muda yang menitipkan anak2nya pada orang tuanya, tapi sadarkah mereka bahwa bayi itu juga manusia. Yang ingin disayang dan dijaga oleh orang tuanya. Kadang aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, kenapa ya mereka mau melakukan itu? Kenapa mereka mau jauh dari sisi anak mereka? Apa mereka tidak kangen?

Beberapa waktu yang lalu (kira-kira bulan Mei) saat aku mau pulang ke Jogja, di kereta aku bersebelahan dengan seorang ibu muda yang akan pulang ke Jogja untuk menemui anaknya. Selama 2 tahun ini, dia berpisah dengan anaknya. Dia dan suaminya kerja dan tinggal di Tangerang sedangkan anaknya sejak bayi dia tinggalkan di rumah mertunya yang ada di Jogja. Dia lakukan itu dengan alasan di Jakarta blom ada rumah yang bisa nampung bayi mereka, dan saat ini mereka sedang membangun rumah itu. Selain itu jika bayi itu dibawa ke Jakarta, nanti tidak ada yang mengawasi. Karena di Jakarta ini mereka cuma tinggal berdua, tanpa saudara2 dekat. Dengan berbagai pertimbangan dan dengan kebaikan anak, mereka putusan untuk meninggalkan anak mereka di rumah orang tua suaminya. Walaupun sangat berat dilakukan tapi ibu itu ikhlas. Konswekensi yang harus dia hadapi adalah tiap bulan dia harus bolak-balik Jakarta – Jogja untuk bisa menemui anaknya. Melihat perkembangan anaknya, walau ga tiap hari. Alhamdulilah ibu muda itu mendapatkan mertuanya yang sangat baik dan telaten merawat cucunya. Aturan yang dipakai untuk mendidik cucunya adalah aturan yang dipilih oleh kedua orang tua bayi itu. Dan nenek mereka tinggal menjalankan. Yang bikin aku kagum adalah komunikasi yang bisa terjalin dari si munggil dan kedua orang tuanya. Si munggil ga pernah lupa sama ayah dan ibunya. Dan si munggil ini sangat mengerti jika ayah ibunya tidak bisa selamanya disisinya. Kalau ga salah akhir tahun ini, rumah mereka yang ada di Tangerang dah selesai di bangun. Dan semoga mereka menepati janji mereka untuk mengajak anak mereka ke Jakarta. Semoga kelak aku bisa mendengar kabar bahwa si munggil dah bisa berkumpul lagi dengan ayah ibunya. Dan ga berjauhan lagi.

Ps : Guys, sory ya cerita kalian aku potong. Aku ga mau ada polemik di kantorku, takutnya salah ngomong n bikin orang salah nafsirin.

7 thoughts on “Demi anak atau egois

  1. Aduh non, basi kali masalah ini di ungkit2 lagi … Kamu kemana aja si non sampai ga tahu perkembangan teman2. Anti sekarang dah keluar kerja and kata mamaku (kemaren mama sempat ketemu ma Anti) Anti dah pindah ke Singapur ngikut suaminya. Tapi gatahu juga nasib Bayu sekarang…

  2. Yas, hidup ini kadang tidak sesimple yang kita kira . Kadang ada suatu masa dalam hidup ini yang tidak menawarkan pilihan kepada kita selain menjalaninya apa adanya. Apalagi hidup berumah tangga, selalu ada pasang surutnya. Yang jelas, jalan hidup tiap orang tidak sama. Ada yang harus bersyukur karena hidupnya lurus-lurus saja, ada juga yang harus berjibaku dengan segenap keterbatasan yang ada. Kadang kita tidak bisa memahami atau membayangkan latar belakang apa yang mendasari langkah setiap orang, kecuali kita juga pernah mengalami kondisi yang sama. Hanya saja saya percaya, pada dasarnya setiap ibu selalu ingin anaknya sejahtera, walaupun dia harus jungkir balik menjual darah dan keringat untuk itu (kalo orang jawa bilang : sirah kanggo sikil, sikil kanggo sirah)…

  3. Trias, gapapa lo potong ceritanya. Daripada lo yang kena amukan massa hahaha. Seperti yang dah gw bilang tadi di tlp, semua ada hikmahnya kan. Gw yang salah ko Yas, seharusnya kemaren gw ga maksa lo untuk postingin tuh cerita. Sorry ya non….

  4. =) thanx for discussing this topic. kalo ditanya apa mrk tidak kangen? jawabannya adalah teramat sangat kuangeeeen mba trias.
    Tapi mungkin itu adl pilihan dr setiap individu. pasti ada alasan dibaliknya. Yang perlu jd bahan pertimbangan, banyak ibu tdk bekerja yg memilih untuk dirumah memilih anaknya ternyata lbh memilih memberi susu formula drpd ASI kpd anaknya dan lebih memilih makanan instant drpd ‘homemade food’.
    Aku gak mau membantah yg mba bilang, krn aku jg produk dr ibu bekerja. Memang ada yg hilang tapi alhamdulillah ibuku pintar dlm mengatur waktunya sehingga anaknya bukan anak pembantu.
    Maybe that’s what i should learn from her….
    walaupun tetep….if i can be a full time mother that will be better for me n my children =)
    Peace….. no offense

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s