Jadi Ibu Rumah Tangga or Wanita Karier?

Ehm itu pasti pilihan yang sulit buat ibu2 muda. Tadi tanpa sengaja aku baca status YM salah 1 temanku, yang menanyakan apakah dia akan tetap bekerja atau full jadi ibu. Saat ini sih mungkin aku belum mikirin (karena aku masih single) tapi kelak pertanyaan itu akan datang padaku. Ya itu pilihan yang sulit dan keputusan itu akan mempengaruhi kehidupanku nanti. Sebenarnya si dah lama pertanyaan itu ada dalam pikiranku. Selama ini aku banyak banget berdiskusi sama kakakku. Dan dari dialah aku sedikit mendapat pencerahan dan jalan keluar untuk mengatasi itu. Namun apa aku dah siap jika itu terjadi padaku sekarang? Padahal persiapan itu dah aku lakukan sekiranya dah mulai 6 bulan yang lalu. Saat aku menemukan sebuah buku yang bercerita tentang seorang anak kecil yang ditinggal ibunya mengikuti training di Amerika selama 6 bulan.

Menjadi ibu rumah tangga bukanlah pilihan yang jelek.  Itu merupakan pilihan yang bagus dan tepat menurutku,. Mendidik anak2nya untuk menjadi anak yang sholeh dan sholekah, merawat suami, merawat rumah dan mungkin juga merawat mertua. Bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Ditambah lagi dengan kewajiban seorang ibu untuk menjaga harta benda suaminya dan menjaga kehormatan suami. Wah pokoknya berat deh (blom bisa bayangin deh). Tapi sebenarnya semua itu jika kita dah tahu ilmunya mungkin akan semakin mudah untuk melewatinya.

Memilih untuk menjadi wanita karier sekaligus jadi ibu rumah tangga juga bagus dan butuh pengelolaan jiwa yang baik. Gimana ga coba, ada teman kantorku ni yang selalu merindukan anaknya tiap kali di kantor. Dia selalu aja kepikiran. Dan masalah utama jika ibu bekerja adalah sapa yang jagain anak2 dirumah. Dikantorku ni sekarang beredar kasus mengenai  kebinggungan para ibu2 muda mengawasi anak2 mereka. Banyak baby sister dan pengasuh anak2 mereka yang setelah lebaran ga balik lagi. Jadinya ni mereka jarang masuk kantor. Bos ku si maklum, habisnya mau gimana lagi coba. Ya kalau tinggal sama orang tua atau mertua si enak, mereka akan bantuin ngawasin cucu mereka. Nah kalau jauh dari orang tua dan mertua, mesti giman dong? Sedangkan di daerah Cibinong dan sekitarnya blom ada tempat penitipan anak. Kalau anak ditinggal sendiri cuma dengan pengasuhnya, pasti masih ada perasaan was2 di hati kita. Ntar jangan2 anak2 kita di culik, kan sekarang lagi tren tuh penculikan anak kecil. Apalgi ni bagi2 ibu2 yang ingin memberikan ASI eklusifnya.. Ehm ribet deh pokoknya. Ya semuanya si ada enaknya atau ga nya.

Menurut pengalaman teman2ku yang dah nikah ni. Sebelum nikah harusnya dibicarakan juga, apa si suami menginginkan istrinya tetap kerja atau harus berhenti kerja. Terkadang karena keegoisan si cowok, trus nyuruh istrinya berhenti kerja setelah mereka nikah. Ya bukannya aku membela kaum wanita si, tapi setidaknya kalian para pria coba lah lebih realistis. Jangan memaksakan kehendak kalian begitu saja. Biarkan para wanita ini menentukan sikapnya. Toh nanti mereka akan sadar dengan sendirinya ko. Jika para ibu2 muda itu memilih bekerja dan meninggalkan anaknya dengan pengasuhnya maka dia harus bisa menerima jika kelak anak mereka lebih dekat dengan pengasuhnya. Dan konsekwensi mahal yang harus diterima ibu2 yang memilih bekerja adalah kehilangan waktu untuk melihat pertumbuhan anak2nya.

Ehm kalau kalian para suami menyuruh istri kalian berhenti bekerja, kalian juga harus dah siap dengan kondisi dimana nanti saat istri kalian jenuh dengan rutinitas di rumah pastilah kalian yang disalahkan. Apa mau kalian disalahkan? Bukannya mau menggurui si, tapi pikirkanlah baik buruknya. Biarkan si istri yang mengambil keputusan apa dia mau tetap bekerja atau full jadi ibu. Karena dengan cara itu, kelak jika terjadi apa2 ga da orang yang dipersalahkan. Semua keputusan yang diambil pastilah udah dipikirkan dengan matang.

Ok deh, semoga teman2ku yang saat ini dah menjadi ibu dari anak2 kalian. Apapun itu keputusan kalian kami bisa ngerti ko. Masih ingat kan kasusnya Mely? Disini dah ada 2 kubu yang pro maupun yang kontra. Dan aku sangat menyetujui langkah Mely. That’s good job. Itulah yang seharusnya kalian lakukan. Sayang kan anak2 kalian….

Ya, ini cukup lama menjadi perenunganku selama ini. Hingga akhirnya 3 bulan yang lalu aku dah ambil keputusan jika kelak itu terjadi padaku, aku dah tahu harus bagaimana. Mungkin saat ini dah banyak orang yang melarangku untuk ngelanjutin kuliah S2. Maaf ya aku ga cerita detail, karena bagiku itu terlalu privat. Yang pasti semua yang kulakukan saat ini adalah untuk mempersiapkan pekerjaanku kelak jika aku dah punya anak. Jadi bukan hanya sekedar ibu rumah tangga yang tahunya cuma telenovela, sinetron, arisan dan gosip artis. Aku ingin jadi ibu yang bisa dibanggakan anak2ku kelak dan jadi ibu yang punya wawasan bagus. Dan untuk mencapai itu aku harus banyak ilmu kan. Bukan hanya ilmu dunia dan teknologi aja yang harus aku kuasai tapi ilmu akhirat juga dong. Setidaknya nanti jika di kumpulkan di padang Masyar, timbangan amalku banyak. Amiien…

12 thoughts on “Jadi Ibu Rumah Tangga or Wanita Karier?

  1. masalah mely sebenernya aku juga dah tau dari dulu, semenjak dia menikah dan hamil hingga akhirnya dia mengambil keputusan itu.

    btw itu ide nitipin anak di rumah LVL aneh juga, ada-ada ajah si ibu mah..😀 hihihi….

    makanya BURUAN NIKAH dulu atuh kalau mau punya anak…😀 hihihi…

    *kaboorr…*

  2. Lha kan dulu aku ga dekat ma Mely, jadinya gatahu rencananya dia om… iya tuh, gatahu idenya sapa.. Bukannya malah kasihan ntar anak2nya pada digigitin nyamuk, mana dekat ma kebun bambu lagi ..(Ups, harusnya kan dibahas di milis aja ko nyasar ke sini ya hehehe).. Aduh om, andaikan dah ada calonnya si napa mesti nunda. Tapi kan sebenarnya aku menghormati om ini. Masa ponakan duluin om nya si hehehe..

  3. Sekedar numpang menggores kata trias, ini jg karna dipaksa2 hehehehe. Kata yang terlintas dari pikiran di pagi hari, mungkin saja salah atau kurang objektif karena mungkin disebabkan sarapan yang salah, Ini boleh jd hanya sebuah pendapat yang aku sendiri tidak yakin ini sesuatu yang permanen. Alias ngambang, seperti pribadiku, yang tak jelas hehehehe. Prolog, menarik membaca tema yang lo usung pada segmen ini “menjadi ibu rumah tangga ato wanita karier” dua pilihan yang jg mungkin akan melahirkan sebuah fakta “setengah ibu rumah tangga dan setengah wanita karier” (toek ibu yang memilih bekerja). Lagi hanya sebuah pendapat bersama segelas sirup yang tak sejatinya tak baik diminium di pagi hari. Memilih boleh jadi adalah sesuatu yang sangat fundamental coz bersamanya akan membawa konsekuensi2 yang kudu direguk. Nampaknya pilihan itu seperti energi yang bersimbioase bersama kekuatan hati, kematanga rasio dan eksperein2 historis. Rasanya untuk orang2 di lingkungan kita, hidup telah memberi ruang yang sangat luas untuk mengambil sebuah pilihan. Fakta boleh jadi memperlihatkan, tidak sedikit ibu rumah tangga maupun ibu2 yang bekerja yang sukses. Dan sebaliknya. Minum sirup dulu yah trias….. Dilanjutin lagi yah, ga usah dibaca kalo kepanjangan ato ngbasiin yah, tapi jangan didelet kan lumayan buat nambah2 komen blog lo hehehe. Trias, panggil saja aku sebagai seorang calon suami buat seorang wanita yang entah siapa tapi aku yakin Tuhan telah melengakapi sayapku….(ciey….berani jg kaga hehehe), dan panggil juga aku sebagai seorang Ayah dari seorang anak yang aku buat atas nama Tuhan dan dalam tempo yang panjang serta keadaan sesadar2nya (jadi pengen nh hehehe). Trias, ini hanyalah sebuah shadow coz gw juga belum dipercaya jadi seorang Ayah. Tapi shadow ini seperti nyata saja, apa itu? Itu adalah rasa tenang saat meninggalkan anak yang gw cintai di rumah. Meyakinkan hati bahwa anak2ku akan tetap selamat dan mendapat belaian dari tangan yang tulus mencintainya. Hanya ada dua sosok wanita yang aku tak ragu dengan mereka. Siapa mereka? mereka adalah Ibu dan istriku sendiri. Ibu yang setulus hati membesarkanku dan istri yang dengan pengorbanan yang teramat hebat melahirkan anakku. Hariku akan menjadi lapang dan dunia akan menjadi milikku saat satu dari mereka ada bersama anakku. Ini boleh jadi berada dalam level harapan ideal coz hidup ternyata tidak selurus rel kereta ato semulus jalan tol. Harga minyak mentah yang terus merangkak naik, dan penghasilan yang jauh dari stadard layak boleh jadi akan meluluhlantakkan shadow ideal. Aku yakin Trias, suatu saat lo akan menjadi tembat bercocok tanam bagi seorang laki2 yang nampaknya akan mendapatkan musibah (becanda hehehehe “pisssssss”). Tapi boleh jadi juga Trias, jauh dilubuk hati laki2 itu memiliki shadow ideal seperti denganku. Tapi aku lebih yakin lagi, bahwa semua orang tidak sama denganku dan boleh jadi shadow idealku berlaku surut. Ok Trias, sekian dulu lah dari aink. Aink jg lg puyenk nh tagihan halo dah deadline.

  4. Om Didi, ini mah namanya bukan kasih komen tapi bikin cerita atau malah bikin puisi.. Tapi ya gpp deh, lumayan juga ko narasi ceritanya hehehe.. Gubrag deh (aduh kejedot kepalaku om ) blom dibayar juga om tagihan HALO nya?

  5. as, ibu bekerja bukan berarti ngga sayang sama anak loh…emang selama ini aku kerja untuk siapa? sekarang gimana cara menyikapinya aja. banyak juga ko ibu rumah tangga yang menyia2nyiakan anaknya. intinya gimana orang itu…. dan 1 maslah tidak mewakili satu kesimpulan.

    makanya buruan kawin jadi bisa ngerasain sendiri deh…
    mudah2an juga suamimu tajir ya…..jadi kamu ga perlu kerja.

    be a gud wife bo’

  6. ehm…
    ngrasain dulu baru komentar ya..hehehhe,,,yah hidup memang g bisa disimulasikan kayak pemodelan teknik jhe…jadi ya…hanya kata mungkin..mungkin…

  7. xixixi….mba, itulah seninya jd ibu yg bekerja !!!
    susssaaaahnya minta ampyun. pokonya pedomanku
    “laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha”.
    Sama izin dr suami, makanya nih klo aku gak maju2 dibiomat bisa2 izin kerja dicabut. Hehehe, sebetulnya malaaah ngarep begitu.
    Maap2 yaaa u para bos yg baca. Gak bermaksud menambah permasalahan biomat.

  8. To : mbakyune trias
    Laki2 diciptakan buat bekerja dan menghidupi keluarga, bukan untuk malas2an. Kalau istri bekerja untuk keluarga itu artinya suaminya tidak bisa mencukupi kebutuhan istri dan anaknya. Wanita itu ga wajib untuk bekerja. Saya pikir Kalaupun sang istri bekerja itu hanya untuk eksistensi dirinya dan memperluas wawasannya, bukan untuk mengejar materi. Kalaupun dia mau membantu suaminya, ya itu alasan lain lagi. Tergantung individunya. Orang yang berpendapat maupun beropini, dia ga perlu mengalami dulu baru boleh beropini. Tapi dia bisa belajar dari pengalaman orang yang ada disekelilingnya. Nah itulah trias, dia bisa belajar dari pengalaman orang lain. Makanya dia bisa nulis dan menuangkan pendapatnya di blog ini.

  9. aku mau coment-in syam, kenapa harus aneh?????????????itu terlintas dalam pikiran bukan untuk selamanya, setidaknya itu alternatif untuk penjagaan sementara waktu, toh kita juga bawa pengasuh, maksudnya sampai kita yakin bahwa pengasuh sayang ke anak kita. jika berada pada kondisi sama mungkin tidak akan mengomentari ideku aneh.

  10. Saya ibu rt tp nggaa suka nonton sinetron,,saya lebih suka bersih2 rmh and urus anak..heheee tp yang suka nonton sinetron silahkan..tapi jgn ketagihan ya,,cari sinetron yang malam shg anak2 udah tidur heheehee….saya suka bekerja juga tetapi setelah saya memutuskan tdk mwnggunakan jasa pembantu atau bebsit,,saya lebih nyaman jaga anak sendiri,,lebih deket,,,lebih sayang,,and pengen mengajarkan hal2 yang perlu si kecil ketahui..tp klo ada kerja dirmh sambil bisa jaga anak..saya mau bgt,,asal anak slalu dimata…(ړײ)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s