PULAU SUMATRA SELALU RAWAN GEMPA DAN TSUNAMI

Gempa dan tsunami masih menjadi momok menakutkan bagi warga di Pulau Sumatra. Ini terjadi karena posisi Sumatra yang berada di pertemuan dua lempeng bumi, yakni lempeng Indo-Australia yang terus aktif menunjam ke bawah lempeng Eurasia. Sehingga, membuat lempeng Eurasi terus bergeser dan menimbulkan patahan yang memanjang dari ujung utara hingga ke ujung selatan Sumatra.

Tak heran, setelah gempa dan tsunami dahsyat di Aceh dan sekitarnya pada 2004 silam, gempa dan ancaman tsunami masih saja menghantui Sumatra. Terakhir, gempa berkekuatan 7,9 skala richter telah mengguncang bumi Bengkulu dan sekitarnya pada pertengahan September 2007 lalu.

Syarat-syarat untuk terjadinya tsunami telah terpenuhi di Bengkulu dan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) pun sempat menyatakan gempa berpotensi tsunami. Namun, untunglah, tsunami besar tidak terjadi.

`’Bengkulu memang daerah yang rawan gempa. Pada tahun 2000 lalu juga pernah terjadi gempa dan terakhir pada tanggal 12 September lalu dengan skala 7,9 skala richter serta diikuti gempa-gempa susulan lainnya,” ujar Kepala Bidang Teknologi Mitigasi Bencana, BPPT, Dr Iwan Gunawan Tejakusuma, akhir pekan lalu.

Gempa Bengkulu berpusat di kedalaman 10 km dari permukaan laut, dengan lokasi 159 km dari Bengkulu. Gempa ini berada di 4.67 Lintang Selatan, 101.13 Bujur Timur. BMG telah mengumumkan gempa berpotensi tsunami. Meskipun lebih dari satu jam kemudian BMG meyatakan gempa tidak berpotensi tsunami.

Menurut Iwan, prediksi BMG tentang adanya potensi tsunami itu benar terjadi. Namun, gelombang yang terjadi hanya setinggi tiga sampai empat meter, karena adanya morfologis pantai, gundukan pasir, dan vegetasi pantai yang dapat meredam gelombang. `’Maka kerusakan yang diakibatkannya relatif kecil,” cetusnya.

Namun demikian, Iwan mensinyalir, penyampaian informasi mengenai pascagempa masih menjadi masalah yang harus terus diperbaiki. Tidak sampainya informasi yang benar dan tepat waktu pada masyarakat dapat menimbulkan keresahan.

Sehingga, ungkap Iwan, BMG, pemerintah daerah setempat, dan kepolisian, harus dapat berkoordinasi dengan baik agar informasi yang diberikan tidak simpang siur. `’Transfer informasi harus memiliki prosedur dari BMG, pemerintah daerah, dan Polda. Selain itu, apabila melalui SMS, nomor yang dipakai adalah nomor resmi dari Polda,” tegasnya.

Untuk memperkuat sistem peringatan dini terhadap tsunami, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah membuat alat peringatan dini seperti buoy dan turut menempatkan beberapa buoy lainnya di laut. Selain itu, membangun infrastruktur sistem komunikasi data, menyediakan para ahlinya dan bekerja sama dengan berbagai pihak baik di dalam negeri maupun internasional, serta melakukan penelitian-penelitian untuk pengurangan risiko bencana.

Bagi pemerintah daerah yang daerahnya rawan gempa, kata Iwan, diharapkan melakukan langkah-langkah seperti membangun gedung atau rumah tahan gempa dan mengatur tata ruang kota. Mengenai rumah tahan gempa, ujar Iwan, sudah ada beberapa pihak seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan puslitbang-puslitbang yang membuatnya.

`’Dari diskusi dengan para ahli, gempa akan terjadi 10 tahun ke depan. Gempa diprediksikan akan terjadi di daerah Sumatra Barat, Lampung, dan Jawa Barat bagian Selatan,” ingatnya.

Di sisi lain, hasil sementara penelitian paleotsunami LIPI 2005 menemukan tsunami di masa lalu pernah melanda pesisir Pulau Simeulue, Padang, Bengkulu, Lampung (Sumatra), Banten, Cilacap, dan Maumere. Tsunami kiriman juga rentan bagi wilayah Halmahera dan kepulauan yang menghadap langsung Samudra Pasifik. Jika terjadi tsunami di Jepang, Mariana, dan Hawaii, gelombangnya bisa terkirim sampai kawasan timur Indonesia dalam waktu empat hingga lima jam.

Temuan tersebut menambah informasi seputar ancaman tsunami di masa depan, khususnya bagaimana cara mengevakuasi masyarakat di lokasi bencana. Peneliti paleotsunami Eko Yulianto dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI menyatakan, rekaman tsunami yang dimiliki Indonesia hanya di atas tahun 1600. Sedangkan cerita rakyat yang merekam kejadian tsunami tidak lagi diceritakan turun-temurun. Hal itu berbeda dengan Jepang yang memiliki data dan dokumentasi hingga seribu tahun dalam inskripsi kuno.

Tsunami adalah istilah dalam bahasa Jepang yang pada dasarnya menyatakan suatu gelombang laut yang terjadi akibat gempa bumi tektonik di dasar laut. Magnitudo tsunami yang terjadi di Indonesia berkisar antara 1,5-4,5 skala Imamura, dengan tinggi gelombang tsunami maksimal mencapai pantai berkisar antara 4 hingga 24 meter dan jangkauan gelombang ke daratan berkisar antara 50 sampai 200 meter dari garis pantai.

Meski tsunami masih menjadi ancaman, kata Eko, di Indonesia rekaman tsunami terlengkap masih sebatas di pesisir Sumatra. Karena kebetulan potensinya memang besar. `’Sedangkan Jawa masih sedikit dan pulau lainnya hampir tidak ada data tentang tsunami,” tegasnya.

Penelusuran dengan mengacu pada bukti geologis tentang tsunami purba, menurut Eko, menjadi alternatif yang paling mungkin untuk mencari data soal tsunami di masa lalu. Untuk membuktikannya dilakukan dengan studi tanah purba. Warna tanah purba biasanya gelap, seperti hitam atau cokelat tua. Warna gelap pada tanah disebabkan kandungan material organik tinggi atau akibat pelapukan batuan.

Adapun lapisan pasir tsunami biasanya terbagi menjadi lapisan pasir tipis. Setiap lapisan memperlihatkan penghalusan butiran ke arah atas. Lapisan itu mengindikasikan suatu gelombang tsunami yang datang dan pergi sehingga bisa diperhitungkan jumlah minimal gelombang tsunami. `’Ciri lainnya terdapat fosil renik yang hidup di laut dalam terbawa gelombang tsunami ke daratan,” jelasnya.

Ikhtisar:

– Bagi pemerintah daerah yang daerahnya rawan gempa diharapkan membangun gedung atau rumah tahan gempa dan mengatur tata ruang kota.

(eye)

Sumber : Republika (24 September 2007)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s