Back to my first home

Menulis buat saya seperti bercerita kepada seorang teman. Entah sejak kapan saya menyukai menulis. Dulu seringnya bercerita pnajang di email kepada teman-teman saya. Beberapa sahabat-sahabat saya pasti pernah menerima email panjang saya. Bahkan saya pun bingung kenapa saya bisa bercerita panjang dan detail. Hingga akhirnya seorang teman baik saya mengajarkan saya membuat blog untuk bisa menyalurkan bakat terpendam saya.

Di awal permulaan mempunyai blog, beberapa tulisan saya terkesan menyerang orang lain. Pendapat saya sering bertentangan dengan beberapa orang di sekitar saya. Bahkan ada beberapa orang yang merasa bahwa apa yang saya tulis itu adalah pengalaman mereka. Konflik pun mulai berkembang di lingkungan saya. Rasanya saat itu ingin menganti nama blog, menghapusnya dan bahkan tidak mau menulis lagi. Namun semua keinginan tersebut dilarang seorang kawan baik saya. Dia mengajarkan saya banyak hal, bahwa untuk berkembang seseorang membutuhkan tantangan dan rintangan. Rintangan bukan untuk dihindari namun untuk dihadapi.

Continue reading “Back to my first home”

23 Episentrum

Semua orang punya caranya sendiri untuk memenangkan impiannya. Semua orang punya ceritanya sendiri dalam meraih impiannya” (Adenita, 23 Episentrum)

23 episentrumSore itu tiba-tiba mata ini tertuju sama 1 buah buku yang masih tersimpan rapi di samping tempat tidurku. Entah kenapa tiba-tiba tertarik untuk membuka plastiknya, hanya gara-gara melihat angka 23 di judul buku tersebut. “23 Episentrum” karya Adenita, kado manis dari seorang sahabat yang mati-matian membujukku untuk membacanya. Yang merekomendasikan buku tersebut untuk aku baca saat ini. Sudah 2 bulan buku itu ada di kamarku tanpa aku sentuh. Membuka plastik yang membungkusnya saja malas, apalagi membacanya. Namun entah kenapa, kemarin sore mata ini tertarik untuk membacanya.

Pilihan kata-kata Adenita dalam menulis di buku itu membuatku teringat pada tulisan seseorang, seakan-akan aku sangat familiar dengan cara menulisnya. Lembar demi lembar aku membacanya, semakin dalam aku terhanyut dengan alur ceritanya. Membawaku ke dunia yang penuh labirin dengan berbagai puzzle yang saling terhubung dan labirin-labirin yang membuat kita kadang sedih, tertawa dan terkejut dengan kejadian-kejadian yang diceritakan dalam buku tersebut.

Continue reading “23 Episentrum”

Doa

Hari itu aku tersentak ketika seorang sahabat bercerita panjang lebar mengenai pengalamannya. Bagaimana tidak, ketika di hari yang semua orang terdekatku mendoakan hal-hal yang baik buatku , di sisi lain sahabatku bercerita kalau dia pernah didoakan agar sesuatu hal yang buruk menimpa sahabatku. Antara ragu dan tidak percaya, ternyata masih ada orang-orang yang mendoakan kita agar kita mendapat musibah. Dan saat itupun aku hanya bisa berdoa, semoga hari ini tidak ada yang mendoakan aku mendapat musibah di masa akan datang.

Aku mengenal sahabatku lebih dari 8 tahun, dan selama ini malah dia lah yang mengajarkanku untuk selalu berfikir dari sisi orang lain, berfikir positif dan selalu berbuat baik sama orang. Dari sekian lama aku berteman dengannya, tak pernah rasanya dia menyakitiku atau membuatku marah. Kesabaran dan kebaikkannya selama ini, selalu terekam dengan jelas dalam ingatku. Bahkan mungkin aku lah yang selalu membuatnya kesal dengan tiba-tiba mengirim email panjang sambil marah-marah, ngangguin dia ketika dia ada kerjaan, ngusilin dia, bahkan terkadang malah suka mengejeknya. Namun dia selalu sabar menghadapi tingkah usil dan jahilku. Entahlah berapa banyak kesabaran yang dia miliki, mungkin jika orang lain dia akan kesal dengan tingkah jahil dan usilku ini. Continue reading “Doa”

Beda di sini dan di sana

Tadi pagi, seorang sahabat bercerita mengenai kondisi kota yang dulu selama hampir 6 tahun dia tinggali. Ketika balik lagi ke kota tersebut, tidak banyak yang berubah di kota itu. Masih sama saat dia tinggalkan. Yang terbaru adalah adanya peraturan baru soal pembelian ticket tram, sekarang mesin pembelian ticket tram hanya mau menerima uang pas atau dibayar menggunakan kredit card ataupun debit card. Alasannya karena banyak sekali pengemis yang suka meminta paksa uang kepada orang-orang yang membeli ticket tram di ticket box. Pemerintah disana begitu melindungi kenyamanan warganya tuturnya diakhir chatt kami pagi tadi.

Sahabatku pun bercerita, kemacetan yang selama ini selalu dia alami. Tak pernah dia alami lagi sejak dia sampai di kota itu. Mendengar ceritanya soal kemacetan, aku pun hanya menimpali dengan tertawa. Seingatku, selama tinggal disana memang tidak pernah aku mengalami kemacetan sih.

Continue reading “Beda di sini dan di sana”

Kota Gede

20150725_135822Berawal dari keisengan untuk mengakhiri liburan lebaran tahun ini, akhirnya diputuskan untuk wisata ke Kotagede. Walau lama tinggal di kota Jogja, sangat jarang sekali aku wisata ke Kotagede selain hanya berbelanja perhiasan perak atau sekedar lewat ketika ke rumah teman. Entah kenapa saat itu pengen ke Kotagede, setelah membaca beberapa cerita-cerita teman-teman di blog.

Siang itu setelah dari Museum Sandi yang ada di Kotabaru, destinasiku selanjutnya adalah Kotagede. Tujuan pertama adalah mencari Pasar Gede Kotagede. Yang katanya banyak jajanan pasar. Karena sudah lama tidak tinggal di Jogja, maka tersesatlah aku sampai berkali-kali harus membuka ipadku untuk memastikan rute yang kulalui benar ketika tidak kudengar penunjuk arah dari waze.

Akhirnya nemu juga jalan menuju masjid Gede Mataram, sebuah jalan kecil, mungkin bisa dibilang gang yang ada penunjuk arah untuk ke Masjid Gede Mataram. Karena destinasi awalnya adalah pasar Gede, maka kulanjutkan perjalanan itu. Pertama kali melihat pasar Gede, serasa waktu kembali ke masa lampau. Bangunan lama yang masih dipertahanan di pasar itu dan tulisan aksara jawa yang masih ada di dinding pasar itu, membuatku berasa ada di jaman dahulu. Karena waktu sudah beranjak siang, beberapa jajanan pasar tidak aku temukan di sana. Yang kutemukan pasar masih ramai dan beberapa penjualnya sudah tua. Sayang saat aku datang bukan di saat pasaran legi. Jika saja saat pasaran legi, pastilah pasar itu ramai. Makanya orang-orang sekitar menyebutnya pasar Legi Kotagede. Continue reading “Kota Gede”

Friendship

“Friendship is one of the most beautiful and purest thing in the world”

Kalimat itu kutemukan disebuah blog seseorang ketika dia menceritakan kisah kehilangan sahabat. Dan siang ini membuatku teringat kisah persahabatanku dengan seorang teman baikku.

Tahun ini menginjak tahun ke-8 persahabatan kami. Suka duka pernah kami lewati bersama. Pertemanan yang diawali dengan sebuah perkenalan di email kemudian berlanjut ke YM hingga kini sering melewati weekend bersama di kota Bogor.

Continue reading “Friendship”

Berharap Perubahan

Pagi ini tanpa sengaja aku menemukan link sebuah artikel di salah satu timeline temanku. Tergelitik dengan judulnya “A letter to my Indonesia”, kubuka lah artikel tersebut dan kubaca pelan-pelan. Kuakui tulisan itu dalam bahasa Inggris, dalam tatanan dan pilihan bahasanya terhitung sangat sederhana dan mudah dicerna. Ga berbelit-belit dan enak untuk diikuti alurnya.

Aku ga akan membahas cara ataupun gaya penulisan artikel itu. Yang aku sorotin lebih ke inti cerita tersebut. Apa yang tertulis dalam artikel tersebut adalah perasaan yang sama yang pernah aku rasakan dan sampai saat ini pun aku masih merasakan hal tersebut. Ketika selesai membaca artikel itu, ingatanku langsung melayang ke pembicaraanku dengan seorang teman baik beberapa minggu ini. Dan tanpa berfikir panjang aku share artikel tersebut ke dia. Maka muncullah diskusi serius sejenak diantara waktu kerja kita di ruang diskusi kami.

Rangkaian cerita di artikel tersebut, membuatku teringat kehidupan di benua biru itu, walau hanya sebentar aku merasakan kehidupan disana, namun waktu sesingkat itu mampu merubah karakterku. Mulai bisa hidup teratur, rapi, menghargai waktu, disiplin dsb. Terkadang aku berfikir, haruskah semua orang ke luar negeri agar bisa berubah cara pandangnya? Tapi kan banyak orang Indonesia yang travelling ke luar negeri, melihat kehidupan di sana namun sekembalinya ke negeri ini, mereka tidak juga berubah.

Continue reading “Berharap Perubahan”

Kisah Perjalanan

situs gunung padang

Situs Gunung Padang , semua orang pasti sudah mendengarnya. Sebuah situs yang mulai terkenal pada awal tahun 2010. Situs arkeolog yang sampai sekarang masih diteliti mengenai fungsi bangunan tersebut. Aku si bukan peneliti sejarah, jadi tidak begitu paham sejarah dari bangunan di Situs Gunung Padang itu. Namun sebagai orang teknik sipil, rasa penasaranku ketika melihat bangunan tesebut sedikit terusik. Sebaran batu-batuan yang ada di sekitar Situs Gunung Padang membuatku berimajinasi mengenai bangunan di masa lampau. Bangunan yang sederhana yang pastinya akan terdiri dari pondasi, tiang/kolom, dinding dan tentu saja atapnya. Continue reading “Kisah Perjalanan”

Situs Gunung Padang Cianjur

Weekend kali ini aku isi dengan acara jalan-jalan ke Situs Gunung Padang di Cianjur. Sudah lama sih pengen kesana, hanya saja memang belum kesampaian. Hingga akhirnya di awal tahun merencanakan untuk berkunjung ke sana setelah akhir tahun kemarin gagal ke Cianjur gara-gara tidak kebagian tiket kereta ke Sukabumi. Memang sih berencana ke Sukabuminya naik bus, tetapi sayang sampai stasiun Sukabumi, keretanya sudah berangkat. Jadi kalau berencana ke Situs Gunung Padang saat weekend, sangat disarankan untuk memesan kereta jurusan Bogor – Sukabumi – Lampegan jauh-jauh hari. Maklum kereta Bogor – Sukabumi masih jadi idola untuk sebagian orang.

tiketAwal tahun 2015, aku niatkan untuk memesan tiket kereta Bogor – Sukabumi – Lampegan pp. Pesannya melalui website PT KAI. Aku memilih berangkat jam 7.55 Waktu Indonesia bagian Bogor dan sampai di Lampegan kira-kira jam 11.45 Waktu Indonesia bagian Lampegan. Untuk pulangnya, aku memilih jam 14.38 Waktu Indonesia bagian Lampegan dan sampai di Bogor sekitar jam 18.00. Harga tiket kereta ekonomi, normalnya sih Rp 40.000,- sekali jalan. Namun saat itu ternyata baru ada promosi diskon chanel seharga Rp 5.000,- , jadi aku hanya perlu membayar Rp 35.000,- untuk sekali jalan. Kalau PP ya sekitar Rp 70.000,- , murah bukan? O iya walaupun keretanya jenis kereta ekonomi, namun di kereta ini sudah memakai AC dan lumayan bersih. Jadi ya dengan harga tiket segitu worth it lah

Continue reading “Situs Gunung Padang Cianjur”

Tersesat dalam Labirin

downloadSemalam hanya tidur sekitar 3 jam setelah baca buku 30 Paspor di Kelas Sang Professor Jilid 1, sebuah rekor terlama membaca buku setebal itu. Gara-garanya malam sebelumnya ada yang curhat di WA jadi dengan terpaksa aku menghentikan keasyikanku membaca buku itu. Ga mungkin kan aku membaca buku kemudian aku juga menanggapi curhatan teman. Pasti tidak focus dan yang akan terjadi otakku tidak akan bisa menanggkap makna dari isi buku itu. Walau hanya tidur sekitar 3 jam, namun pagi ini badanku tidak lah terasa lelah atau mengantuk. Buku itu mampu memberikan energi yang baru untuk melewati hari ini.

Buku itu seperti buku travelling lainnya, yang membedakan adalah pelaku dalam cerita tersebut. Yup pelakunya adalah mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Jakarta yang diberi tantangan sama dosennya untuk pergi ke sebuah negara seorang diri. Mana tidak boleh mendatangi negara yang sama dengan kawannya pula. Mereka harus mencari tiket sendiri, ga boleh menggunakan travel agent, membuat passport sendiri tanpa bantuan orang lain atau biro jasa, mencari tempat penginapan, mengitung budget yang diperlukan selama travelling dan sampai ke itinerary. Continue reading “Tersesat dalam Labirin”