Selamat Jalan Guru

Tuhan tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuan hamba-hambanya.

Begitulah kalimat yang sering dilontarkan kepada kita ketika kita mendapatkan ujian dari Tuhan. Mudah mengucapkan namun terkadang susah untuk menjalaninya.

Pagi itu, saat sedang bersenang-senang dengan beberapa teman , sebuah pesan masuk ke hpku. Terlihat ada pesan dari ibu, sudah menjadi kebiasaan aku ga pernah menunda membaca pesan dari keluargaku, walaupun saat itu aku sedang sibuk. Meskipun hanya membacanya saja, kadang membalasnya ga harus di saat itu. Bisa saja aku membalasnya nanti kalau sudah tidak terlihat sibuk. Kecuali jika memang pesannya penting, bisa saat itu aku telphon jika memungkinkan. Jika tidak, paling ya sms. Ibu pun sudah paham kebiasaan anak-anaknya. Namun kali ini pesan yang ibu kirimkan mampu membuatku terdiam dalam beberapa detik dan tidak mampu untuk menulis balasannya. Rasanya saat itu tidak bisa percaya dengan berita itu. Setelah mampu menenangkan diri dan berfikir jernih, akhirnya aku menuliskan balasan pesan dari ibu serta ingin memastikan kebenaran berita yang dikirimkan. Dan ibu pun menjelaskan detail ceritanya. Saat itu kagetnya bukan main, rasanya masih ga percaya. Berulang kali membaca pesan itu untuk memastikan bahwa itu yang tertulis di hp, bukanlah sebuah mimpi di siang hari.

Continue reading “Selamat Jalan Guru”

Ketika Riset Bertemu dengan Penyakit

Beberapa hari ini berita mengenai kasus Fidelis dibicarakan dimana-mana. Ada yang pro dan ada yang kontra. Jika 2 bidang di sejajarkan trus dikupas, mungkin ga ada titik temunya. Hukum dan kesehatan di kasus tersebut membuat beberapa orang berada di 2 tempat yang berbeda.

Aku ga akan membahas kasus tersebut, karena aku bukan ahli di bidang kesehatan maupun hukum. Cara pandangku mungkin akan berbeda dengan orang yang ahli di bidang kesehatan maupun hukum. Di sini, aku berpijak pada riset. Sejujurnya, aku kagum dengan Fidelis, di mana beliau mampu mencari solusi di tengah masalah kesehatan yang mendera istrinya.

Continue reading “Ketika Riset Bertemu dengan Penyakit”

Dan hari itu…

Tak pernah terbayangkan sebelumnya akan memasuki ruangan itu dan bertemu dengan 4 orang yang akan memutuskan kehidupan seseorangan. Setiap orang ketika memutuskan untuk melangkah ke kehidupan yang lebih tinggi, tak akan membayangkan bahwa suatu hari nanti akan berakhir di ruangan itu.

Ingatan itu kembali ke masa-masa di mana seorang teman memberiku sebuah kabar di sebuah café di Jogja. Rasa es krim kesukaan rasanya hampa ketika dia bercerita di depanku tanpa ada kata jeda. Rasanya kaget mendengar kabar itu, seperti mendengar suara halilintar di siang hari. Tanpa pernah mendengar apa-apa namun tiba-tiba sebuah keputusan harus mengakhiri semua itu. Genggaman tangan dan pelukan, ku rasa tak mampu untuk menahan bebannya. Hanya sebuah doa terlantun kala itu.

Continue reading “Dan hari itu…”

Teman

Setiap orang pasti pernah merasa ditinggalkan atau dilupakan orang dekat. Merasa sahabat atau teman bahkan saudara menghilang disaat kita membutuhkan support atau bahu atau sekedar telinga untuk mendengarkan keluh kesah kita. Merasa sendiri dan tidak diperhatikan terkadang membuat kita marah, kesal dan seringnya berujung dengan berfikir negative. Aku pun sering merasa begitu, merasa ketika hanya membutuhkanku saja mereka mendekatiku. Sedangkan ketika ga butuh ya, boro-boro mau nyapa, bertegur sapa menanyakan kabar di chatt saja ga. Namanya juga manusia, terkadang khilaf pun bisa.

Sadar si, teman itu ada yang datang dan ada yang pergi sesukanya. Hanya orang-orang tertentu yang akan hadir di saat kita membutuhkannya. Bahkan terkadang mereka ga hadir saat kita bahagia, namun hadirnya tak terduga disaat kita sendiri. Bahkan disaat kita ga pernah menyangka sekalipun, dia hadir dengan canda khasnya menghibur kita atau memberikan bantuannya.

Continue reading “Teman”

Back to my first home

Menulis buat saya seperti bercerita kepada seorang teman. Entah sejak kapan saya menyukai menulis. Dulu seringnya bercerita pnajang di email kepada teman-teman saya. Beberapa sahabat-sahabat saya pasti pernah menerima email panjang saya. Bahkan saya pun bingung kenapa saya bisa bercerita panjang dan detail. Hingga akhirnya seorang teman baik saya mengajarkan saya membuat blog untuk bisa menyalurkan bakat terpendam saya.

Di awal permulaan mempunyai blog, beberapa tulisan saya terkesan menyerang orang lain. Pendapat saya sering bertentangan dengan beberapa orang di sekitar saya. Bahkan ada beberapa orang yang merasa bahwa apa yang saya tulis itu adalah pengalaman mereka. Konflik pun mulai berkembang di lingkungan saya. Rasanya saat itu ingin menganti nama blog, menghapusnya dan bahkan tidak mau menulis lagi. Namun semua keinginan tersebut dilarang seorang kawan baik saya. Dia mengajarkan saya banyak hal, bahwa untuk berkembang seseorang membutuhkan tantangan dan rintangan. Rintangan bukan untuk dihindari namun untuk dihadapi.

Continue reading “Back to my first home”

23 Episentrum

Semua orang punya caranya sendiri untuk memenangkan impiannya. Semua orang punya ceritanya sendiri dalam meraih impiannya” (Adenita, 23 Episentrum)

23 episentrumSore itu tiba-tiba mata ini tertuju sama 1 buah buku yang masih tersimpan rapi di samping tempat tidurku. Entah kenapa tiba-tiba tertarik untuk membuka plastiknya, hanya gara-gara melihat angka 23 di judul buku tersebut. “23 Episentrum” karya Adenita, kado manis dari seorang sahabat yang mati-matian membujukku untuk membacanya. Yang merekomendasikan buku tersebut untuk aku baca saat ini. Sudah 2 bulan buku itu ada di kamarku tanpa aku sentuh. Membuka plastik yang membungkusnya saja malas, apalagi membacanya. Namun entah kenapa, kemarin sore mata ini tertarik untuk membacanya.

Pilihan kata-kata Adenita dalam menulis di buku itu membuatku teringat pada tulisan seseorang, seakan-akan aku sangat familiar dengan cara menulisnya. Lembar demi lembar aku membacanya, semakin dalam aku terhanyut dengan alur ceritanya. Membawaku ke dunia yang penuh labirin dengan berbagai puzzle yang saling terhubung dan labirin-labirin yang membuat kita kadang sedih, tertawa dan terkejut dengan kejadian-kejadian yang diceritakan dalam buku tersebut.

Continue reading “23 Episentrum”

Doa

Hari itu aku tersentak ketika seorang sahabat bercerita panjang lebar mengenai pengalamannya. Bagaimana tidak, ketika di hari yang semua orang terdekatku mendoakan hal-hal yang baik buatku , di sisi lain sahabatku bercerita kalau dia pernah didoakan agar sesuatu hal yang buruk menimpa sahabatku. Antara ragu dan tidak percaya, ternyata masih ada orang-orang yang mendoakan kita agar kita mendapat musibah. Dan saat itupun aku hanya bisa berdoa, semoga hari ini tidak ada yang mendoakan aku mendapat musibah di masa akan datang.

Aku mengenal sahabatku lebih dari 8 tahun, dan selama ini malah dia lah yang mengajarkanku untuk selalu berfikir dari sisi orang lain, berfikir positif dan selalu berbuat baik sama orang. Dari sekian lama aku berteman dengannya, tak pernah rasanya dia menyakitiku atau membuatku marah. Kesabaran dan kebaikkannya selama ini, selalu terekam dengan jelas dalam ingatku. Bahkan mungkin aku lah yang selalu membuatnya kesal dengan tiba-tiba mengirim email panjang sambil marah-marah, ngangguin dia ketika dia ada kerjaan, ngusilin dia, bahkan terkadang malah suka mengejeknya. Namun dia selalu sabar menghadapi tingkah usil dan jahilku. Entahlah berapa banyak kesabaran yang dia miliki, mungkin jika orang lain dia akan kesal dengan tingkah jahil dan usilku ini. Continue reading “Doa”

Beda di sini dan di sana

Tadi pagi, seorang sahabat bercerita mengenai kondisi kota yang dulu selama hampir 6 tahun dia tinggali. Ketika balik lagi ke kota tersebut, tidak banyak yang berubah di kota itu. Masih sama saat dia tinggalkan. Yang terbaru adalah adanya peraturan baru soal pembelian ticket tram, sekarang mesin pembelian ticket tram hanya mau menerima uang pas atau dibayar menggunakan kredit card ataupun debit card. Alasannya karena banyak sekali pengemis yang suka meminta paksa uang kepada orang-orang yang membeli ticket tram di ticket box. Pemerintah disana begitu melindungi kenyamanan warganya tuturnya diakhir chatt kami pagi tadi.

Sahabatku pun bercerita, kemacetan yang selama ini selalu dia alami. Tak pernah dia alami lagi sejak dia sampai di kota itu. Mendengar ceritanya soal kemacetan, aku pun hanya menimpali dengan tertawa. Seingatku, selama tinggal disana memang tidak pernah aku mengalami kemacetan sih.

Continue reading “Beda di sini dan di sana”

Kota Gede

20150725_135822Berawal dari keisengan untuk mengakhiri liburan lebaran tahun ini, akhirnya diputuskan untuk wisata ke Kotagede. Walau lama tinggal di kota Jogja, sangat jarang sekali aku wisata ke Kotagede selain hanya berbelanja perhiasan perak atau sekedar lewat ketika ke rumah teman. Entah kenapa saat itu pengen ke Kotagede, setelah membaca beberapa cerita-cerita teman-teman di blog.

Siang itu setelah dari Museum Sandi yang ada di Kotabaru, destinasiku selanjutnya adalah Kotagede. Tujuan pertama adalah mencari Pasar Gede Kotagede. Yang katanya banyak jajanan pasar. Karena sudah lama tidak tinggal di Jogja, maka tersesatlah aku sampai berkali-kali harus membuka ipadku untuk memastikan rute yang kulalui benar ketika tidak kudengar penunjuk arah dari waze.

Akhirnya nemu juga jalan menuju masjid Gede Mataram, sebuah jalan kecil, mungkin bisa dibilang gang yang ada penunjuk arah untuk ke Masjid Gede Mataram. Karena destinasi awalnya adalah pasar Gede, maka kulanjutkan perjalanan itu. Pertama kali melihat pasar Gede, serasa waktu kembali ke masa lampau. Bangunan lama yang masih dipertahanan di pasar itu dan tulisan aksara jawa yang masih ada di dinding pasar itu, membuatku berasa ada di jaman dahulu. Karena waktu sudah beranjak siang, beberapa jajanan pasar tidak aku temukan di sana. Yang kutemukan pasar masih ramai dan beberapa penjualnya sudah tua. Sayang saat aku datang bukan di saat pasaran legi. Jika saja saat pasaran legi, pastilah pasar itu ramai. Makanya orang-orang sekitar menyebutnya pasar Legi Kotagede. Continue reading “Kota Gede”

Friendship

“Friendship is one of the most beautiful and purest thing in the world”

Kalimat itu kutemukan disebuah blog seseorang ketika dia menceritakan kisah kehilangan sahabat. Dan siang ini membuatku teringat kisah persahabatanku dengan seorang teman baikku.

Tahun ini menginjak tahun ke-8 persahabatan kami. Suka duka pernah kami lewati bersama. Pertemanan yang diawali dengan sebuah perkenalan di email kemudian berlanjut ke YM hingga kini sering melewati weekend bersama di kota Bogor.

Continue reading “Friendship”