Filosofi Kertas

Beberapa bulan yang lalu aku sempat membaca sebuah tulisan dari seorang teman tentang Filosofi Kertas. Tulisan itu bercerita mengenai betapapun kita berusaha keras meminta maaf terhadap kertas yang sudah kita remas-remas dan tekuk sesuka hati, namun alur yang terbentuk masih terlihat dan membekas disana. Alur yang terbentuk itu bagaikan luka yang sudah kita tinggalkan disana. Sekuat apapun kita berusa meminta maaf terhadap orang yang sudah kita lukai, namun rasa sakit itu akan terus membekas di dalam hati orang yang kita lukai.

Ya kertas, begitu banyak filosofi yang bisa kita petik dari sebuah kertas putih. Kertas putih yang awalnya tanpa noda, ketika kita pertemukan dengan pena dan menuliskan kata-kata yang indah, akan terlihat indah. Namun ketika kita menuliskan kata-kata yang kasar akan terlihat kertas itu tanpa makna.

Jikalau kita menuliskan kata-kata kasar, walaupun sebenarnya hanya untuk becanda, namun ketika sang pena menuliskan dengan keras. Tulisan itu tidak akan terhapus begitu saja, walaupun sudah kita hapus dengan berbagai cara. Namun bekasnya masih ada di kertas tersebut. Terakhir yang ada kertasnya akan semakin kusam dan kotor.

Atau ketika kita menusukkan pena kita ke kertas, kemudian kita tarik pena kita. Apa yang masih tertinggal disana? Ya, sebuah lubang besar dan terobeknya kertas tersebut. Ketika kita mulai merekatkan kembali sobekan-sobekan kertas tersebut dengan lem, yang kita dapatkan bukanlah kertas yang kembali utuh seperti semula. Masih ada sobekkan kertas yang tak dapat kita rekatkan kembali.

Zaman sekarang kertas mulai diabaikan, kalau dulunya kita bisa curhat dengan diary kita menggunakan kertas. Kini kita bisa menuliskan keluh kesah kita dengan menuliskannya di laptop, Ipad ataupun menuliskannya di jejaring sosial seperti Twitter, FB, status BBM, Whatsup, YM, Skype dll. Berharap semua orang membaca status kita dan mengomentarinya.

Dengan semakin bebasnya kita menuliskan apa yang kita pikirkan, terkadang kita tak memikirkan efeknya terhadap orang lain. Kata-kata makian, hinaan, perang status, perang komentar bahkan sebuah cibiran, sampai masalah pribadi mulai merambah ke area publik.

Hal tersebutlah yang membuatku merasa gerah dan bosan  terhadap jejaring sosial. Hanya sebuah twitter yang masih aku aktifkan sebagai sarana mencari berita yang bagus-bagus, tidak untuk membaca status keluh kesah orang.

Apakah tak pernah terbayangkan oleh orang-orang itu, jika dia menuliskan cacian dan makian di jejaring sosial tersebut bisa menyakiti orang? Memang sih bisa dihapus, namun jika sudah terlanjur dibaca dan membekas di hati, kata-kata tersebut akan tertanam di hati.

Seperti yang pernah aku alami sebelumnya. Tulisan berupa email, message di YM, status BBM, status FB, SMS bahkan perkataan yang pernah terucap dari seseorang  dan akibatnya membuatku kesal, sampai saat ini kata-kata tersebut masih tertanam di dalam pikiran dan hatiku. Berkali-kali aku berusaha melupakannya, namun terkadang ketika akal sehatku sedang tidak bekerja, kata-kata tersebut selalu melintas begitu saja.

Ya sakit hati akibat sebuah tulisan ataupun perkataan susah sembuhnya, seperti kertas putih yang sudah terobek atau teremas oleh pena atau tangan kita.

Teringat kembali sahabatku yang sangat memperhatikan kata-kata yang dituliskan oleh seorang teman. Katanya sikap dan perbuatan seseorang bisa terlihat dari pemilihan kata-kata dan cara menulis. Apakah orang tersebut dapat menghargai orang lain ataukah hanya bisa menghargai dirinya sendiri.

Terkadang dari sebuah tulisan kita bisa melihat apakah orang tersebut cukup bisa kita anggap sebagai teman, sahabat, ataupun musuh. Setiap orang akan terlihat karakternya dari cara dia menulis, jadi walaupun dia berpura-pura menjadi orang lain dan mengaku-ngaku sebagai orang lain. Tulisan dan pemilihan kata-kata tidak akan pernah bisa hilang dari karakter kita.

Dengan memahami Filosofi Kertas ini, semoga bisa menjadi pelajaran buat kita bahwa sebebas-bebasnya kita menuliskan status di FB , twitter ataupun mengirim SMS. Berhati-hatilah dalam memilih kata-kata, karena kita tidak tahu bahwa kata-kata kita tersebut bisa jadi menyakiti hati orang lain. Pikirkanlah akibatnya sebelum menuliskan di FB, Twitter, SMS ataupun berbicara.

 

Cibinong, 4 Oktober 2012

About these ads
This entry was posted in Cerita-cerita, My Friends, Pengalaman. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s