Kali ini aku akan bercerita tentang beberapa tempat wisata di Semarang. Kebetulan weekend kemarin aku sempat mengunjungi kota ini.
Semarang merupakan ibu kota Provinsi Jawa Tengah yang terletak 465 km dari Jakarta dan 145 km dari Jogja. Di kota ini aku hanya sempat mengunjungi Lawang Sewu, Masjid Agung Jawa Tengah dan Klenteng Sam Poo Kong.
Lawang Sewu terletak di bundaran Tugu Muda. Bangunan ini dibangun pada tahun 1904 dan selesai dibangun tahun 1907 oleh Belanda. Awalnya bangunan ini merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS.
Masyarakat semarang menyebut bangunan ini dengan nama “Lawang Sewu atau Pintu Seribu” karena bangunan ini mempunyai banyak pintu, walaupun sebenarnya pintunya tidak sampai seribu. Bangunan megah ini memiliki jendela yang tingi dan lebar.
Ketika memasuki bangunan ini kami langsung disodorin pemandu alias guidenya, dan guide inilah yang menemani kami keliling bangunan Lawang Sewu. Sayang sekali ketika ke sana bangunan utama alias bangunan A tidak dapat kami masuki karena sedang dalam tahap renovasi. Padahal bangunan di gedung A inilah yang menarik. Akhirnya kami hanya keliling bangunan gedung B.
Pertama kali masuk ke gedung B, kami langsung disambut dengan beberapa poster tentang sejarah bangunan Lawang Sewu dan proses pemugarannya. Mulai dari sejarah adanya tram di Semarang jaman dulu, hingga kami melihat maket bangunan Lawang Sewu.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju ke lorong-lorong di lantai dasar yang gelap dan masih tak berarturan. Di sini ruangan yang banyak tak ada sedikitpun barang-barang. Hanya ruangan yang luas dan kosong serta gelap. Entah kenapa tak ada satupun cahaya lampu di bangunan ini.
Ketika kami memasuki sebuah ruangan kosong nan luas. Aku melihat ada garis lapangan bulu tangkis di situ. Menurut pemandunya, ruangan ini dulunya digunakan untuk pesta-pesta kemudian digunakan sebagai tempat bermain bulutangkis. Gambar lapangan bulu tangkispun masih tersisa di sana.
Lanjut melewati tangga yang agak sedikit memutar menuju lantai satu. Kembali aku temukan ruangan kosong nan luas. Keunikan dari bangunan ini adalah letak pintu antar ruangan berada lurus. Sehingga kita bisa melihat deretan pintu ke belakang. Seru untuk di foto.
Selanjutnya kami melewati lorong yang sedikit remang-remang menuju ke tangga lantai paling atas. Tangga menuju lantai atas sangat curam, perkiraanku sih sudut kemiringannya sekitar 45°. Kunaiki tangga satu per satu hingga menuju ke lantai atas. Kembali aku menemukan ruangan kosong nan luas, dan lagi-lagi aku temui lapangan bulutangkis. Oiya disini aku menemukan 2 buah tangga menuju ke sebuah loteng. Ternyata loteng itu dulunya digunakan untuk mengamati musuh-musuh yang akan mendekat ke bangunan tersebut.
Turun dari lantai atas kami ditawarin wisata ke bawah tanah. Sebelum masuk ruangan bawah tanah, kami harus menggunakan boot terlebih dahulu. Ini dilakukan karena di ruangan bawah tanah ada airnya. Setelah turun dari tangga, kami langsung menemukan sebuah ruangan yang dulunya pernah dipakai untuk uji nyali. Ruangan yang gelap dengan minim sekali penerangan membuat suasana semakin menyeramkan hehehe.
Di ruangan bawah tanah ini, aku menemukan 3 buah saluran air. Pertama saluran air bersih untuk dialirkan ke tiap ruangan, dan dua saluran air kotor yang berasal dari wastafel dan kamar mandi. Disini juga ada ruangan penyiksaan. Pertama aku melihat ruangan penjara jongkok. Ukurannya sekitar 1,5 meter dan tinggi 1 meter. Ada sekitar 6 ruangan. Sepertinya aku berjalan di lorong-lorong ruangan bawah tanah. Aku rasa lorong ruangan bawah tanah tegak lurus dengan lorong di lantai atasnya. Awalnya sih pintu masuk yang kita lewati setinggi badan kita, namun ternyata disudut tertentu pintu yang harus kita lewati ukurannya lebih kecil. Mungkin sekitar 1 meter dengan tinggi sekitar 60 cm. saat melewatinya pun kita harus membungkuk.
Setelah melewati pintu kecil ini, kita akan melewati penjara tempat pemenggalan kepala. Aku sempat melihat adanya besi-besi tua tempat para tahanan tersebut dipancung. Sayang sekali, aku tidak bisa memotretnya. Entah kenapa hasil foto yang aku dapatkan, saat aku sudah keluar dari ruangan bawah tanah tersebut jadi hitam semua. Aneh, padahal awalnya tidak apa-apa.
Kemudian aku juga menemukan penjara bendiri jaman Jepang. Dulu pas jaman Belanda, penjara ini tidak ada. Entah kenapa Jepang membangunnya.
Diakhir perjalanan itu, kami melihat juga tempat pembuangan mayat kepala tanpa badan atau badan tanpa kepala. Ya, mayat-mayat tersebut dibuang keluar menuju sungai. Kata pemandunya, TNI kita dulunya menelusuri sungai untuk mengetahui dari mana mayat-mayat yang ditemukan di sungai itu berasal. Setelah diketahui bahwa asalnya dari bangunan ini, kemudian pecahlah perang lima hari di Semarang dalam rangka membebaskan para tahanan.
Setelah itu kami kembali ke titik awal dan naik ke lantai dasar. Dalam perjalanan ini aku tidak merasakan hal-hal yang aneh, kecuali ya itu beberapa foto yang aku jepret di ruangan bawah tanah ada yang tidak terlihat alias jadi hitam.
Kami kemudian melanjutkan perjalanan keliling bangunan A dari luar dan menemukan lokomotif tua di depan bangunan Lawang Sewu.
Ketika aku tanyakan soal misteri keangkeran Lawang Sewu, pemandunya ga mau cerita. Mungkin karena dia tidak tahu aja kali ya hehehe. Tapi tak apalah, semoga saja cerita itu tinggal cerita saja.













Ruangan2 di Lawang Sewu itu dijadikan lokasi syuting loh Mba. Salah satu kamar jadi rumah sakit tempat Maria (Ayat2 Cinta) dirawat, bordes tangga jadi ruang sidang, ruang atap jadi tempat syuting film Merah Putih. Saya pernah juga ke sana dan udah liput di http://clararch02.blogspot.com.au/2010/06/lawang-sewu-yang-cantik-dan-misterius.html Sayang waktu itu lagi banjir ‘rob’ jadi saya ga ke bawah tanahnya, tapi liputan di blog Mba ini lumayan mengobati rasa penasaran :p
Iya, katanya di Gedung A yang banyak dijadikan tempat syuting film. Sayang aku ge keliling gedung itu, jadi ga lihat bordes tangga dllnya di Gedung A
Nanti ke sana lagi deh kalau Gedung A sudah dibuka lagi hehehe..
bagus nih artikel, cocok untuk panduan wisata. bien rédigé, bien enchaîné
Makasi om.. artikel sederhana ko om, masih jauh jika digunakan untuk panduan wisata