Kemarin malam sempat ngobrol dengan 2 orang teman yang lagi kuliah di eropa, tepatnya si di German dan Perancis. Dua orang dengan kepribadian yang berbeda, pastilah soalnya satu cewek satunya cowok hehehe. Namun aku banyak mendapatkan pelajaran dari dua orang ini. Thanks ya atas waktunya berbincang-bincang denganku saat itu. Walau aku harus menahan ngantuk tapi aku paksain buat ngobrol ma kalian, karena obrolannya menarik si hehe.
Uni Renita, namanya, dia cerita banyak tentang German dan perbedaannya dengan budaya Perancis. Beberapa hari yang lalu dia dan suaminya jalan-jalan ke Paris. Lihat menara Eiffel, maskot dari negara Perancis. Wuih katanya menara itu keren banget, namun sayang banyak pedagang asongan disana. Selama di Paris, uni Renita tidak pernah bertemu dengan orang Indonesia. Setahu suaminya, sedikit sekali orang-orang Indonesia yang kuliah di Perancis, karena hubungan diplomatic antara Indonesia-Perancis tidak sebagus hubungan diplomatic Indonesia-German. Kemudian ada beberapa fasilitas di Perancis yang tidak sebagus fasilitas di German. Contohnya adalah station metro di Paris tidak menyediakan lift buat orang tua yang membawa kereta dorong bayinya, sehingga orang tua bayi tersebut harus menjinjing kereta bayi setiap keluar dari station metro. Mana keluar dari station metro harus naik tangga pula, jadinya kan capek. Nah di German setiap station metro ada liftnya sehingga orang tua yang membawa kereta bayi enak, ga capek naik turun tangga. Dah gitu katanya ni orang-orang German tu care, beda ma orang-orang Perancis, yang super cuek. Selain itu di Perancis banyak sekali orang-orang kulit hitamnya, walau di German ada juga orang-orang kulit hitam namun orang-orang kulit hitam di German educated semua, ga kaya di Perancis. Sebagian besar orang kulit hitam di Perancis adalah pedagang asongan yang sering dikejar-kejar ma polisi. Itulah kenapa Uni Renita merasa nyaman tinggal di German daripada di Perancis. Mungkin karena dah lama kali ya tinggal di German hehehe.. Read more…