Ich wisse mein Fehler
Benar kata orang something happen because a reason, kadang kenyataan ga seperti impian. Tiga hari ini aku menyadari kesalahanku yang sudah aku perbuat. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengulanginya lagi tahun depan. Teringat akan janjiku pada mas Adrian untuk menemuinya di Berlin, namun tahun depan sepertinya aku ga bisa menepati janji itu. Maaf ya mas.. I promisse I try next year.
Awal pertengahan tahun ini aku gagal mendapatkan beasiswa dari pemerintah Perancis, ingin banget rasanya bisa menerima kenyataan itu. Namun perasaan ini masih saja ga bisa menerima, walaupun aku mencoba untuk tegar dan menerima kenyataan disisi lain aku masih saja selalu sedih kala teringat pengumuman itu. Waktu baca email dari pihak pemberi beasiswa aku langsung tertunduk sedih, gagal sudah usahaku untuk ke eropa. Sempat gatahu harus bagaimana lagi, sempat diem dan ga mau apply beasiswa lagi. Rasanya pintu impianku tertutup sudah. Ingin nangis tapi air mata ini ga bisa keluar. Dengan rasa sedih, aku kuatkan hati ini untuk memberi tahu hasilnya pada mas Joko, mas Udin, mas Adrian, mbak fitri dan pak Leman. Waktu itu mas Joko masih di Australia. Dia hanya berpesan untuk sabar dan mencoba lagi. mas Udin dan mas Adrian pun mencoba menghiburku untuk bisa menerima kenyataan itu. Mungkin aku bisa bilang iya, dan mencoba untuk tegar setiap membalas email mereka. Tapi kenyataannya aku ga setegar itu. Aku masih rapuh untuk menerima kenyataan yang ada dihidupku. Aku bersyukur disaat pengumuman itu aku berada dalam kondisi yang memungkinkan untuk ku bersama banyak orang. Saat itu aku lagi diklat fungsional, jadinya konsentrasiku pun terpecah antara mikirin kegagalan mendapatkan beasiswa dan tugas-tugas diklat. Read more…